19/2 Masih di restoran tempat Junni membawa Yuuna. Yuuna mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya yang lentik ke gelas air di depannya. Dia merasa canggung tapi Yuuna adalah tipe jari yang tidak bisa diam jadilah dia melakukan itu. Bunyi ketukan jari itu tidak terlalu terdengar karena ada musik pengiring yang cukup pelan di putar di restoran tempat mereka makan. “Permisi pesanan anda Pak dan Ibu.” Suara seorang pramusaji yang mengantarkan pesanan Junni tadi. Menu yang sama disajikan di atas meja. Ayam goreng pandan, Buttery Honey Mustard Salad, salmon Scrambled tersaji di depan Junni dan Yuuna. Yuuna menatap makanan itu sebentar, sebenarnya dia bukan pemakan semacam itu karena makanan favoritenya tetap mie instan yang terbaik. Bahkan dia tidak pernah terpikir untuk menginjakkan kaki di resto

