Berhari hari ujian berlangsung, ditambah lagi beberapa ujian praktek ini dan itu. Kim merasa semua itu sangat menyiksa jiwa dan raga, lahir dan batin. Karena selama beberapa minggu itu pula ia harus berhadapan sama yang namanya buku. Nggak ada yang namanya malam minggu, dinner romantis, ataupun shopping-shopping cantik. Sedangkan Alvin? Jangan di tanya lagi sikapnya seperti apa. Di rumah, dia sudah seperti seorang guru yang memaksa siswanya untuk terus belajar, belajar dan belajar. Nggak ada romantis-romantisan, ataupun perkataan Sayang. Memang biasanya dia juga gitu sih, tapi kali ini parah gila. Ponselnya di sita, dari malem hingga pagi. Nggak ada sosmed-sosmed'an, nggak boleh nonton TV, selesai ujian langsung pulang ke rumah dan di jemput supir. Kalau nggak di jemput supir, kan bisa

