Kemarahan rasanya kini memenuhi diri Sungwo, marah ia membuka pintu kamarnya dengan kasar, melempar jasnya kepada salah satu asisten rumah tangga yang terbiasa menyaksikan kemarahan Sungwo. Dengan kasar ia meraih tongkat pemukul dan mulai mengayunkannya menyentuh lemari minuman dan juga meja kerjanya, buku-buku yang tertata rapi ikut menjadi sasaran. Keras ia berteriak seolah hanya dirinya yang merasakan rasa sakit itu seorang diri. “AAAARRRRGGGG!” Ia kembali memukul apapun yang masih berdiri kokoh di ruangannya, perlahan air matanya mulai jatuh karena emosi yang ia tak tahu datang dari mana. Ia membenci Daniel dan melihat sosok itu kembali membuatnya kian sesak. Semua terasa membingungkan, terus berputar di kepalanya dan membuatnya pening, tentang bagaimana ia memendam rasa dendam kepa

