08

4870 Kata
Pengumuman penting : Bab ini masih menjadi bagian kilas balik dari para tokoh utamanya. Harap membawa dari awal dan seksama agar tidak terjadi kesalahpahaman. Terima kasih. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Dava menuruti saran Gisel untuk menelepon orang tuanya. Lagi pula ia pikir tak akan jadi masalah. Jadi usai Gisel mematikan sambungan telepon mereka— omong-omong, Dava dan Gisel hanya menghabiskan wkatu sekitar empat puluh lima menit saja untuk teleponan, Dava pun mencari kontak nomor ibunya. Butuh waktu lama sebelum suara operatorlah yang muncul menyambut Dava. “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.” Kadang sempat terpikir di benak Dava bahwa orang tuanya sudah ganti nomor telepon dan Dav atidak diberi tahu. Karena beberapa kali menelepon nomor tersebut, Dava selalu mendapat hasil yang sama. Tak perlu mengulangi untuk menelepon sang ibu, kini ia mencari kontak ayahnya. Berdering, artinya masih aktif. Namun menunggu lama, Dava tidak mendapat hasil yang memuaskan pula. Papanya tidak mengangkat telepon Dava. Entah sengaja atau tidak, entah benar memang sibuk atau ketiduran, Dava tak tahu. Ia mengerang kesal. Mengapa ia merasa tidak punya orang tua sekarang? Amarah yang mengumpul di benaknya, membuat Dava segera mencari pengalihan. Kini ia berharap sang kekasih, Giselle Afreea Wicaksana, belum memejamkan matanya karena Dava ingin menghubungi gadis itu. “Halo? Kamu udah tidur?” Satu pertanyaan langsung ia lontarkan usai panggilan terjawab. “Belum. Baru beres cuci muka. Kenapa, Dav? Udah telepon Papa Mama belum kamu?” “Iya, aku emang mau ngomongin itu,” jawab Dava. “Dan enggak diangkat, Babe. Satunya gak aktif, satunya gak diangkat. Heran deh. Mereka lupa kali, ya, kalau masih punya anak?” Gisel menghela nafas. “Hm, terus sekarang kamu mau gimana?” “Ya enggak gimana-gimana. Emang aku bisa apa coba?” Gisel selalu kasihan kepada Dava yang selalu diselimuti masalah yang sama lagi dan lagi. Padahal hanya perihal rindu, tapi solusi saja laki-laki itu tak punya. Gisel diam beberapa saat, emmikirkan cara untuk membantu Dava. Sampai satu ide-- yang sebenarnya ia tak tahu apa masuk akal atau tidak— lewat di kepalanya. “Aku tiba-tiba kepikiran sesuatu, deh, Dav.” “Apa?” jawab Dava cepat. “Kamu ada saran?” “Iya, sih. Tapi enggak tahu menurut kamu ide bagus apa enggak.” “Apa coba?” “Gimana kalau minggu depan kamu nyusulin mereka ke Hongkong? Kmau bilang mereka ngurus kantor cabang di sana, kan.” “Kayaknya sekarang udah bukan di Hongkong, sih. Di Singapore mungkin.” “Kamu tahu dari mana?” “Aku pernah tanya asistennya Papa pas kapan hari orangnya ke rumah ambil berkas. Katanya Papa sama Mama lagi di Singapur, bukan di Hongkong.” “Heum. Bukannya lebih deket, kan, ya dari Indo kalau ke Singapur? Ya udah gitu aja, sih, saran akau. Lagian mereka ga mungkin marah kan kalau kamu tiba-tiba nyamperin mereka?” Dava menggumam. “Kayaknya enggak, deh. Kenapa harus marah coba?” “Nah, ya udah gitu aja,” Gisel menyimpulkan. “Tapi karena sebenernya kamu belum libur semester panjang, jadi kamu harus bikin surat izin dulu. Kasih ke guru piket kalau kamu gak masuk kurang lebih berapa hari buat ke Singapur.” “Aku gak pernah bikin surat izin. Gak bisa.” Gisel mendengus. “Ya udah nanti aku yang bikinin. Kamu tinggal tanda tangannya doang. Terus yang kedua, kamu coba cek ATM kamu dulu. Cukup buat pesen pesawat sama hotel disana?” “Iya, itu juga yang aku khawatirin,” Dava meringis. “Kayaknya cukup, sih, tapi mepet banget. Tapi ya udahlah gak apa-apa, nanti aku bisa minta tolong asisten Papa buat nyairin uang dulu.” “Oke, problem solved, ya?” Dava menggeleng. Gerakan yang sia-sia karena ia dan Gisel sedang telepon, bukan video call. Jelas gelengannya tidak bermanfaat sama sekali karena Gisel tak melihat itu. “Belum.” “Loh, apa lagi?” “Aku... berangkat sendirian?” “Ajak aja Deril, Andi, Agas kalau mereka mau. Kan lumayan liburan bareng.” Dava berdecak. “Mereka mana mau liburan kalau bukan lagi hari libur. Males izin sama bokap nyokap mereka, pasti tuh.” “Ya udah kamu kan udah gede. Berangkat sendiri gak masalah, dong?” “Masalah.” Gisel mengernyit. Laki-laki yang sedang meneleponnya ini sepeerti sedang berbasa-basi, keliling jalanan dulu sebelum langsung ke poin utama maksud dari pembicaraan mereka berdua. “Apa?” “Kalau aku kangen sama kamu gimana?” Dava akhirnya berujar. “Hehe. Kamu ikut aja, yuk?” “Gila kali! Mana bisa dan mana boleh!” “Bisa pasti bisa!” jawab Dava tak mau kalah. “Bilang aja mau liburan sama temen-temen. Lagian aku gak nyampe seminggu, kok. Pasti cuman sekitar dua atau tiga hari gitu. Minggu depan lagi banyak Ulangan Harian soalnya. Bisa kan kamu?” Gisel menggigit bibir bawahnya. Sedikit ragu jika ia harus menerima ajakan Dava ini. “Aku bilangnya gimana ke Papa Mama?” “Sama temen-temen. Gitu aja. Kamu sendiri yang bilang kalau orang tua kamu cuman protektif sama kisah asmara kamu. Bukan sama kemana perginya kamu, main dimana, dan sama siapanya, kan?” “Iya, sih...” “Nah, udah gitu aja.” “Hmm... Tapi, Dav...” ‘Apa lagi? Mau aku aja yang izinin?” Gisel langsung tergelak. Ia tertawa padahal tidak ada yang lucu. “Aneh. Yang ada gak jadi berangkat kita.” Dava ikut tertawa. “Udah, ah, pokoknya kamu harus ikut, ya! Nemenin aku disana. Sekalian nantti liburan berdua. Jalan-jalan kemana, kek, di Singapur sebelum balik ke Jakarta.” “Okey, deh. Berangkat hari Jumat aja kali, ya? Biar Senin kita udah bisa balik sekolah gitu maksud aku.” Dava mengangguk-anggukkan kepalanya sembari mengangkat p****t, beranjak dari duduknya, melangkah masuk ke kamar meninggalkan balkon karena angin malam benar-benar dingin. “Hm, boleh.” “Kamu jangan lupa siapin juga pasport sama pakaian yang mau dibawa. Jangan nyiapinnya dadakan banget nanti lupa apa aja yang harus dibawa.” “Iya, Babe.” “Aku matiin sekarang teleponnya gak papa? Udah malem banget ini.” Dengan mengapit ponsel antara telinga dan pundaknya, Dava membuka lemari, mengambil jaket tebal untuk ia pakai tidur hari ini. “Mau tidur, ya, udahan?” “Iya— hmm.” Gisel menguap, Dava jadi terkekeh. “Oke, deh, selamat tidur, ya? Have a beautiful dream.” Gisel bergumam mengiyakan. “I love you, Dava.” “Love you too, Icel.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Siapa bilang hari Senin adalah hari yang buruk? Iya, mungkin memang begitu bagi sebagian besar orang. Masyarakat Indonesia terutama. Hari Senin dianggap momok karena menjadi hari pertama untuk memulai rutinitas sibuk setidaknya hingga beberapa hari ke depan. Bisa sampai hari Jumat saja, atau hari Sabtu, atau bahkan Minggu lagi. Begitu pula dengan banyak siswa dan mahasiswa. Hari Senin sudah terasa menyebalkan sekali mulai dari awal hari. Di pagi hari, mereka akan melaksanakan upacara. Berdiri dan menghadap tiang bendera, mendengarkan ceramah, dijemur di bawah sinar matahari di tengah lapangan luas, belum lagi jika belum sarapan, belum lagi jika kena teguran karena ramai dan berisik. Semenyebalkan itu hingga semua orang harus maklukm kalau Agas, Dava, dan Deril jarang mengikuti upacara sekolah. Padahal seharusnya, sebagai warga negara Indonesia yang baik, kita layaknya bersyukur. Tak perlu ikut melawan penjajah dan kesusahan memerdekakan negara sendiri. Kita hanya disuruh upacara kurang lebih satu jam lamanya dan menghormati jasa para pahlawan. Tapi apa boleh buat jika Agas si biang kerok dari semuanya adalah anak dari orang paling berpengaruh di sekolahnya. SMA Delite Jakarta. Ajakan untuk membolos sudah Agas lakukan sejak mereka bertiga masih menjadi siswa baru. Bayangkan. Mulai dari alasan kecil seperti belum sarapan dan pura-pura pingsan— yang awalnya para guru dan PMR percaya— sampai-sampai jika mereka beneran sakit saja sudah tidak ada yang peduli karena tak ingin tertipu lagi.  Lama kelamaan, Agas tidak memberikan alasan apapun ketika ia memutuskan untuk membolos upacara. Seperti saat ini,  layaknya sudah biasa ketika siswa dan para guru sedang melaksanakan upacara bendera di lapangan, Dava, Agas, dan Deril malah sedang di kelasnya. Duduk di lantai, menyandar pada dinding, di barisan paling belakang. Di belakang kursi-kursi. Bisa membayangkan betapa mereka memang tidak pernah niat sekolah? Jangan tanyakemana Andi Pramana karena cowok itu jelas tertib menaati aturan. Tawa yang menggelegar milik Deril terpaksa dibungkam oleh tanagn Agas. Agak melotot, Agas berbisik. “Jangan keras-keras ketawanya, g****k. Nanti ketahuan.” Deril menepis tangan Agas. “Alah kalau ketahuan juga mau ngapain sih mereka?” balas Deril santai. ‘Ada elo ini diini. Sumber duit sekolah kan dari elo.” “Ye, si bangsat.” “Any way,” Dava berdeham tiba-tba. “Gue mau ke Singapur sama Gisel.” “Hah?!” “Wot?!” “Biasa aja elah. Apaan sih lo pada.” “Singapur?” Deril mengulangi pertanyaannya. “Berdua doang sama Gisel?” “Iya.” Agas menyeringai. “Mau yang iya-iya ya lo?!” Dava mendengus. Deril lelah sendiri dengan kedua temannya. “Kagak, njir. Bukan begitu. Gue mau nyamperin bokap sama nyokap aja. Lama kagak ketemu.” “Ati-ati, deh, asli,” kata Agas sembari memakan kerupuk udangnya. “Berangkat berdua nanti pulangnya ebrtiga lagi.” Dava kini tertawa. Deril geleng-geleng kepala. “Bisa dikondisikan kalau masalah itu, mah.” “Bawa kondom yang banyak!” “Ye, si b*****t!” “Hahahahah!” “Jangan lupa oleh-oleh, yak. Cewek Singapur boleh lah.” “Hadoh, Gas, Gas,” Deril menjitak kepala sobatnya itu. “Apa-apa cewek mulu yang lo pikirin.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Pulang sekolah, Dava menjemput Gisel di SMA Pertiwi usai ia meminta Pak Hendri untuk tidak menjemput gadis itu. Dava lupa kalau hari Senin, Gisel harus menghadiir ekstra kulikuler yang diiikuti gadis itu. Tebak ekstra kulikuler apa? Orang lain pasti akan menebak gadis cantik itu bagian cheers atau tari modern. Tapi nyatanya tidak/ Gisel mengikuti ekskul tinju. Awal tahu tentang fakta ini, Dava juga terkejut karena beberapa alasan. Pertama, Gisel tipe perempuan yang tidak bisa bergulat. Bahkan melepaskan tangan Dava yang terkadang menggenggamnya terlalu erat saja cewek itu tidak bisa. Yang kedua, kenapa SMA Pertiwi punya ekstra kulikuler se ekstrim itu? SMA Delite Jakarta saja tidak punya. Cowok bermarga Garda Erlangga itu measuki gerbang sekolah SMA Pertiwi dengan motor besarnya. Beruntung ini hari Senin. Dava tidak perlu repot-repot ganti baju dan pakaian untuk emnyamar. Mengingat SMA Pertiwi memiliki peraturan yang sangat ketat, nihil rasanya ada harapan untuk siswa sekolah lain masuk ke lingkungan Pertiwi. Dengan celana abu-abu dan atasan yang ia balut dengan hoodie hitam favoritnya, Dava menaruh motor di deretan kendaraan milik siswa. Ia turun dari sana sembari melepas helm. Banyak perempuan yang melirik eksistensinya ketika Dava bercermin di spion motor orang untuk merapikan rambut. Dava jadi mikir, emang di SMA Pertiwi gak ada cowok seganteng gue? Gitu amat ngeliatinnya. Kakinya lalu melaju santai ke tempat ekskul yang ia tahu di barisan kelas 10 IPA. Ia hampirhafal denah sekolah kekasihnya karena memang sering kesini. Entah untuk menjenguk dan menjemput Gisel, atau hanya sekedar ingin nongkrong di kantin yang punya cimol enak se Jakarta Raya tersebut. Ia mengintip pada pintu ruangan yang mana ia syukuri karena ternyata gadis itu sedang berbincang dengan teman-teman ekskulnya dan disana tidak ada sang pelatih. Dava mengetuk pintu membuatempat atau lima perempuan disana menoleh serempak mencari smber suara. “Dav?” Gisel menggumam sebelum akhirnya terlihat berpamitan pada teman-teman untuk menemui laki-laki di ambang pintu. “Hai.” Dava tersenyum dan menyapa gadisnya ketika Gisel sampai di hadapan. Cewek itu masih memakai sarung tinju di kedua tangannya. Ada beberapa tetes keringat d pelipis Gisel. “Pelatih kamu kemana?” “Gak masuk. Kita disuruh latian sendiri hari ini.” Dava mengangguk paham. “Terus kamunya pulang jam berapa?” “Kayaknya mau pulang duluan juga gak apa-apa, sih.” jawab Gisel sembari meleaps sarung tangannya. “Lagian yang penting kita udah sempet latihan aja.” “Gitu?’ Gisel mengangguk. Kemudian dia tiba-tiba meringis speerti kesakitan membuat Dava langsug maju dan panik. “Eh, kenapa?” Gisel meniupi tangan kanannya. “Sakit tanganku, tuh. Gak tahu kenapa . Baru sarung tangannya dilepas langsung kerasa sakitnya.” Dava mengambil tangan kanan Gisel, menmencetnya dengan jempol besar ynag ia punya membuat Gisel langsung melongo dan melotot pada dava. “Dav, heh, sakit beneran!” Dava mlalah nyengir. “Kirain yang sini gak sakit. Maaf, maaf. Sini cohba aku tiupin.” “Udah gak usah. Nanti kalau udah sampai rumah aku kompres air anget aja. Biasanya gitu doang udah sembuh.” “Gak ke dokter aja dulu? Takutnya parah. Infeksi gimana hayo?” “Hadeh, apaan dah kok bawa-bawa infeksi.” Gisel menggandeng tangan Dava untuk menjauh dari ruang ekskul. “Udah ayok pulang. Keburu pingsan kelaperan ini aku.” “Oiya, iya. Let’s go!!” Gisel tertawa. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Gisel dan Dava sedag berada di minimarket dekat rumah cowok itu. Niatnya, Gisel ingin membeli beberapa frozen food seperti nugget ayam dan sosis untuk dimasak di rumah kekasihnya. Lagi pula isi kulkas Dava sedang kosong dan biasanya Gisel terlalu malas untuk memesan makanan dari luar. Rak demi rak mereka telusuri selagi barang belanjaan keduanya menjadi tanggung jawab Dava. Cowok itu emmang harus ekstra sabar setiap kali melihat Gisel dipertemukan dengan minimarket. Yang niat awalnya hanya beli barang A dan B, akan berubah lagi menjadi beli barang C hingga Z. Percayalah. Padahal keranjang belanjaan mereka sudah penuh dengan makanan ringan tapi Gisel belum juga segera melangkahkan ke arah kasir. Lihat, kini perempuan cantik itu malah putarbalik, berjalan ke rakyang sebelumnya sudah mereka lewati. “Dav.” Dava menatap Gisel malas. Demi apapun  ia merasa kakinya sudah hampir copot saking pegalnya. “Apa?” “Mending yang merk ini...” Gisel mengangkat satu kemasan puding instan di sana ke depan wajah Dava lalu mengangkat kemasan lainnya di tangan kiri. “Atau yang ini?” “Terserah, deh. Apa aja.” “Loh, kok terserah?” “Ya, terserah aja kamu sukanya yang mana.” “Baca dulu komposisinya, Dav. Mending yang mana coba.” Dava menurut. Ia membaca asal-asalan kemasan tersebut, dua-duanya. Sebelum kemudian menuding puding yang berwarna hijau. “Yang ini.” Dahi Gisel mengernyit. “Tai, kan, yang ini kemanisan? Kamu pernah aku bikinin ini, kamunya protes katanya bikin diabet. Gimana sih kamu mah? Udah yang biru aja.” jawab Gisel sembari menjauh dari rak tersebut. Dava hanya menghela nafas. Mengusap dadanya berkali-kali. Sabar, Dav, sabar. Kalau enggak ribet bukan cewek namanya. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Butuh waktu lebih dari sepuluh menut sampai akhirnya Gisel berada di depan kasir usai mengantri panjang. Cewek itu membayar barang belanjaannya menggunakan uang Dava. Jelas saja. Memng sudah seharusnya begitu mengingat barang-barang yang ia beli tidak lain dan tidak bukan untuk kebutuhan kulkas Dava sendiri. Dava membawa dua kantung plastik besar di tangan kanan dan kirinya sedangkan satu kantung plastik hitam kecil menjadi barang bawaan Gisel. Cewek itu baru hendak mendorong pintu minimarket sesaat sebelum tangannya langsung terhenti akibat hujan tiba-tiba turun. “Yah, Dav, hujan,” keluh Gisel menoleh ke belakang Dava. Ia melanjutkan mendorong pintu minimarket dan keluar dari sana. “Kamu bawa jas hujan enggak?” Dava menaruh barang bawaannya di lantai. Menggeletakkannya begitu saja di depan minimarket. Cowok itu menggeleng kemudian. “Enggak. Aku mana pernah bawa jas hujan, sih?” Itu benar. Dava tidak pernah membawa jas hujan ketika bepergian karena beberapa alasan. Pertama, membawa jas hujan hanya akan merepotkannya. Ia harus melipatnya dengan rapi agar bsia masuk ke dalam tempat jas hujan di motor dan Dava tidak suka hal yang ribet. Belum lagi kalau ia harus membawakan milik Gisel juga. Jadi ia lebih suka dengan gagasan kehujanan berdua bersama Gisel dari pada membawa barang tersebut. Kedua, ia lupa mengecek ramalan cuaca sebelum akhirnya memilih mengendarai motor dan bukan mobil saja. Tapi perasaan tadi pagi cuaca memang sedang cerah-cerah saja. Mengapa bisa tiba-tiba hujan, ya? Ketiga, ia memang tidak punya jas hujan. “Cari duduk aja, deh, Babe.” ujar Dava memberi solusi. “Nungguin hujan agak reda aja baru ditrobos Lagian rumah aku kan tinggal deket doang.” “Kenapa gak nerobos hujan sekarang aja? Kan deket.” kata Gisel membalik perkataan Dava. “Deres banget ini. Emangnya kamu mau besok sakit?’ “Ya enggak.” “Nah.” Akhirnya Gisel mengikuti Dava utnuk duduk di kursi yang disediakan oleh minimarket tersebut. Beruntung ada dua kursi kosong bersebelahan. “Kamu beli minuman gak tadi?” Gisel menoleh. “Minuman apa?” “Ya terserah. Minuman yang bsia diminum. Haus banget ini.” Gisel menunduk demi merogoh minuman kaleng yang ada di dalam kantung plastik besar di bawah kakinya. “Nih.” “Makasih.” “Hmm.” Keduanya saling diam beberapa saat. Dava asik emnikmati hujan sedangkan Gisel mengecek ponselnya yang baru ia hidupkan. “Kasihan, deh, pasti bentar lagi banyak orang yang neduh kesini. Deres banget ujannya.” komentar Dava tiba-tiba usai menaruh botol kaleng minumannya di meja. Gisel mengangguk setuju. Ia memperhatikan sekitar, dimana beberapa motor memang ebrhenti di minimarket untuk berteduh. Apa lagi kebanyakan dari mereka adalah bapak-bapak. “Pasti mereka juga gak tahu kalau mau hujan. Lagian kan ini belum masuk bulannya hujan, kenapa tiba-tiba banget—“ Kalimat Gisel berhenti tanpa aba-aba membuat Dava langsung menoleh ke kiri, melihat gadis itu. Pandangan Gisel terfokus pada satu titik di depannya dan Dava menigkuti arah pandangnya. Dava tidak tahu itu siapa tapi perasaannya tiba-tiba berubah enak enak sejak Gisel menatap laki-laki yang kini turun dari motornya dan cepat-cepat berteduh dengan tajam. “Babe? Kamu ngeliatin siapa?” Teguran tersebut membuat Gisel langsung tersentak dna menoleh pada Dava. “Bukan si—“ “Aku gak suka dibohongin, ya.” potong Dava. Gisel melirik sekilas pada laki-laki yang kini berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Cowok itu masih tak jauh berbeda sejak terakhir Gisel terakhir bertemu dengannya, yang entah sudah berapa tahun lalu. Raga Anggara masih Raga yang ebrkacamata, tinggi, berkulit tidak terlalu putih namun bersih. Wajahnya masih sama seperti dulu; suak emmbuat Gisel tiba-tiba emosi dan ingin menjadi psikopat detik itu juga. Jika mendengar namanya saja suasana hati Gisel bisa langsung berubah seratus delapan puluh derajat, bagaimana jika sampai bertemu seperti detik ini? Sepertinya tak perlu ditanyakan. “Dia mantan aku,” jelas Gisel dengan tatapan lurus pada Dava. Cewek itu menghela nafas setelah tiba-tiba bergedik jijik. “Aku pengin ngasih tahu kamu namanya tapi nyebutnya aja aku males. But, i think you should now at least his name. Namanya Raga. Raga Anggara.” Dava tak bisa menahan kekehannya. Tangannya terulur mengacak rambut Gisel. “Segitunya banget?” “Dia pantes digituin emang.” Sebenanya, dari dalam lubuk hati Dava, ia jelas penasaran dengan cerita masa lalu Gisel bersama laki-laki berkacamata tersebut alias mantan pacarnya. Apa yang sudah dilakukan cowok jelek itu sampai-sampai Gisel sebenci ini? Hingga mengucap namanya saja tak sudi. Pikiran Dava yang sedang menebak-nebak itu buyar seketika saat pandangannya tak sengaja menangkap Raga-Raga ini mendekat ke arah meja mereka. Lah, dia mau nyamperin kesini? Boleh juga nyalinya padahal udah tahu Gisel lagi sama cowok. “Babe, dia jalan kesini.” Gisel melotot. “Hah, serius?!” “Jangan noleh. Dia bener-bener udah deket.” Gisel menurut. Demi gelas-gelas alkohol yang pernah ia habiskan karena kebajingan Raga, ia benar-benar benci dengan kenyataan bahwa ia harus berhadapan lagi dengan Raga Anggara si otak s**********n. “Gisel?” Raga akhirnya sampai juga di samping kursi Gisel. Cowok dengan kacamata tersebut tersenyum sumringah saat ia tahu bahwa yang ia temui ini benar-benar Gisel. “Giselle Afreea Wicaksana, kan?” Gisel mau tak mau harus menoleh. Ia menatap Raga dengan alis terangkat tinggi. “Mohon maaf, dengan siapa, ya?” Masih dengan senyum gembira di wajah polos itu, Raga menjawab. “Kamu lupa sama aku? Aku Raga. Kita pernah pacaran pas SMP. Raga Anggara. Inget enggak?” “Oh, Raga yang b******n banget padahal masih bocah itu bukan, sih?” Gisel tak bisa menahan lebih lama lagi untuk memendam kalimat sarkasme-nya. Ia ingin menghujat Raga habis-habisan. “Yang pernah jadi guguk minta gue PAP naked? Yang pernah hampir nampar gue pas gue minta putus?” Woah, Dava terkejut bukan main. Ia bahkan langsung melemparkan tatapan nyalang pada Raga—yang memang anjingnya, cowok itu benar-benar tak berniat menyapa dan mengajak Dava mengobrol padahal jelas-jelas di samping Gisel ada Dava. Raga ini memang tak punya sopan santun kalau dilihat-lihat. “Sel...” Raga memasang tampang sedih. “Itu kan dulu. Dulu aku masih bocah yang gak bisa mikir resiko dari apa yang aku mau lakuin. Sorry banget, oke? Jangan diinget-inget. Sekarang aku udah berubah jadi lebih baik.” jelas Raga panjang kali lebar. “Tapi ini artinya kamu udah gak lupa kan sama aku?” “Udah hampir amnesia sebenernya. Maklumlah, sampah buat apa diinget-inget. Iya gak sih?” “Oh my god...” Raga tertawa miris. “Ternyata kamu masih Gisel yang jahat banget mulutnya.” “Oh,ya?” Gisel balas tertawa. Jenis tawa yang dibuat-buat. “Apa kabar sama mulut lo yang pernah ngatain gue cabe-cabean?” “Oh, karena itu emang sebutan pantes buat cewek kayak lo.” Nah, topeng Raga akhirnya dibuka juga. Inilah Raga yang asli. Yang sebenarnya. Yang original. Raga Anggara memang punya mulut sampah sejak bocah hingga kini. Jadi jangan salahkan Dava kalu ia kehabisan stok sabar. Ia sudah cukup sabar diam saja dari tadi bahkan ketika Raga bersikap sok asik pada kekasihnya yang jelas-jelas tak nyaman dengan pertemuan ini. Ia berdiri, tangannya langsung dicekal oleh Gisel. Mungkin perempuan itu takut akan terjadi keributan disana tapi Dava masih bisa berpikir jernih. Ia hanya ingin cowok di depannya mendapat sedikit pelajaran. “Lo punya mulut dijaga, Anjing. Jangan kayak bangke!” Dava maju, menarik kerah Raga hingga sang empu tercekik. “Sekali lagi lo ngatain cewek gue, gak ada alasan gue buat gak ancurin muka t***l lo. Ngerti?!” Dava menghempaskan Raga ke lantai halaman minimarket. Tak peduli beberapa orang mulai menjauh mungkin takut jika Dava akan kalap dan salah sasaran. “Oh, dan satu lagi. Jangan munculin muka lo depan gue sama Gisel. Ini yang terakhir.” Tak peduli jika hujan masih deras atau sekarang malah ada bunyi petir kecil di langit, Dava menarik  tangan Gisel untuk pergi dari sana. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Mereka sampai di rumah Dava dalam keadaan basah kuyup. itu sudah jelas mengingat Dava memang sengaja menerobos hujan demi menghindari keributan yang lebih besar jika ia terus-terusan berada di sana. Tapi tak apa. Dava tak masalah harus kehujanan dari pada ia harus mengotori tangannya untuk memberi bogem mentah di rahang Raga. Cowok itu mengetuk pintu kamar mandi dimana Gisel di dalam sedang membersihkan diri. “Babe?” “Hm!” “Buka dulu pintunya. Aku udah ambilin baju ganti.” Gisel membuka pintu kamar mandi dan mendapati Dava berdiri di sana dengan pakaian di tanag. Gisel tersenyum. “Makasih, ya.” Dava mengangguk saja dan Gisel kembali menutup pintunya. “Abis ini jangan lupa pakai minyak kayu putih, Sel, biar gak masuk angin!” teriak Dava agar didengar Gisel. “Iyaaa!” Dava sendiri sudah mengeringkan badan dan berganti baju dengan pakaian yang lebih nyaman. Ia melempar badannya di atas ranjang. Tangannya baru akan terulur mengambil ponsel di dekat meja ketika Gisel membuka pintu dan kini sudah memakai pakaian santai seperti dirinya juga. “Kamu gak sekalian mandi? Kok cepet?’ tanya Dava. “Dingin. Hehe.” “Kan bisa pakai air anget, Gisel.” “Males, hehe.” Dava mencibir. Ia kemudian memilih duduk di tepi ranjang selagi Gisel berdiri di samping kasurnya. “Jadi... gimana? Mau cerita, gak, soal tadi? Soal kamu sama Raga?” Gisel menghela nafas malas. “ Sebenernya males banget, tau, Dav disuruh cerita soal dia, tuh. Tapi—“ “Tapi aku kepo, Babe.” “Nah iya, itu. Kamunya kepo.” Gisel membalik badan, merangkul leher Dava yang sedang duduk dan ia sendiri berdiri. “Aku gak ada pilihan lain, kan, selain harus cerita?”  “Hm-mm.” “Cerita dari mana, ya?” Gisel mengusap rambut Dava. “Apa yang kamu denger tadi semuanya bener. Aku sama cowok itu pacaran cuman empat bulan. Everything was soooo fine, aku sayang dia, dia sayang aku. Kita pacaran seperti normalnya orang pacaran. Sampai tiba-tiba, semuanya berubah pas siang bolong, bener-bener mendadak banget, Dav. Dia minta aku buat foto telanjang.” Dava menegang di tempatnya. “Itu bukannya kamu sama dia masih SMP?” “Iya, masih bocah banget but mikir aneh-aneh dan sejorok otak Raga, kan?” Gisel mendesah. “Aku awalnya ngira dia typo, atau lagi ngelindur, apapun yang penting aku gak langsung negative thingking ke cowok itu. Tapi dia bilang dia serius dan dia sadar. Besoknya, gak pakai pikir panang, aku langsung mutusin dia di sekolah.” “Eh bentar,” potong Dava cepat. ”Tapi kamu gak ngirim, kan?” “Enggaklah. Aku bego banget kalau mau aja disuruh begitu. Sekalipun aku emang syaang sama dia waktu itu, tapi aku masih punya harga diri.” Dava langsung lega mendengarnya. “Makanya aku langsung mutusin dia. Tapi Raga gak terima aku putusin. Dia bilang harusnya aku bersyukur karena cabe-cabean kayak aku bisa dapet pacar kayak dia.” Gisel tertawa sinis. “Astaga, sumpah setiap inget tuh aku emosi banget, Dav. Belum lagi dia udah mau nampar aku pas aku maksa buat tetep putus. Untungnya temen-temen aku langsung dateng terus ngehentiin dia.” “Hmm. Bangsta juga dia.” “Emang,” tangan Gisel masih tak berhenti menyugar rambut lebat dan legam milik sang kekasih. “Makanya, Dav. Aku bener-bener bersyukur karena ketemu. Kayak ngerasa... akhirnya, ada yang bisa sayang tulus banget ke aku. Ngasih perhatian ke aku. Nerima kurangku.” Dava tersenyum sembari menguyel perut Gisel. “Kamu emang pantes dicitai, Babe. Kamu pantes bahagia dan ngerasa dihargai. Tapi...” “Hm? Tapi?” “Aku jadi ngerasa bersalah karena... udah... ngambil keperawanan kamu. Aku jadi kayak sama bajingannya gak sih sama mantan kamu?” “No, Dav, gak kayak gitu. Aku udah pernah nyesle karena pernah ngasih first kiss aku ke Raga. Aku gak mau nyesel lagi karena ngasih... mahkota aku... ke cowok yang salah, kedua kalinya.” “Apa itu artinya kamu berpikir bahwa aku adalah cowok yang tepat? Baik buat kamu?” Gisel mendongakkan kepala Dava. Ia tersenyum. “At least you are trying, right?” Dava mengangguk. Ia menyayangi Gisel. Sangat mencintainya. “I love you, Sel. I love you so bad. Aku gak pernah nyesel ketemu kamu waktu itu. Gak pernah nyesel harus ngambil cewek yang seharusnya jadi punya Andi, sahabat aku sendiri.” Dava menciumi perut gadis itu. “I love you.” ulangnya. “I know it. And i love you too. So bad.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN