Pukul 4 sore. Rasanya sudah berabad-abad Rashi menunggu. Jika benar selepas Maghrib ia keluar dari sini, berarti hanya tinggal dua jam. Semangat Rashi. Semangat. Rashi menyemangati dirinya sendiri. Rashi belajar miring kanan miring kiri lagi. Belajar duduk lagi. Kini semangatnya jauh lebih besar dibanding rsa sakit yang masih sangat menyiksa. Sesekali Rashi memijat payudaranya. Ia pernah belajar bahwa salah satu hal yang membuat ASI lancar adalah memijat p******a seperti yang sedang Rashi lakukan. Rashi benar-benar mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ibu yang terbaik untuk anaknya. Meskipun tak mungkin bisa sempurna, namun ia tak menyerah untuk mempersembahkan yang terbaik. Namun Rashi juga tidak mau egois dengan ngotot menyusui eksklusif. Maksudnya, memang banyak bayi yang gemuk

