4

1114 Kata
Atika montok : Nyuk? Kalian di mana sih? Orang udah pada ngumpul nihhh buruan dehhh Itu bunyi pesan yang Atika kirim ke grup w******p mereka satu menit yang lalu. Alodia langsung lari pontang-panting keluar kamar setelah membacanya. Semua atribut MOS sudah dikenakannya sejak tadi, tapi Kara belum juga datang. Nina juga montok : Aduuuh, ada abang kelas yang ganteng loh! Atika montok : Mana???? Nina juga montok : Yang pake jaket biru garis-garis. Ganteng, yaaaaa Atika montok : Yang kayak b*****g itu??? Nina juga montok : Masa iya kayak b*****g??? Alodia membaca chat itu sambil tertawa kecil. Maunya sih ikutan nimbrung, tapi dia lagi sibuk maju-mundur cantik di pinggir jalan depan rumahnya, menunggu Kara yang tak kunjung datang. Ini hari pertama Kara menjemputnya naik motor. Biasanya kan cewek itu diantar-jemput supirnya naik mobil. Alodia sih berasumsi kalau temannya itu mungkin kejebak macet. Tapi nggak apa-apa deh, dari pada kejebak masa lalu. "Lo di mana sih, Kaaar?" gerutunya, mulai hilang kesabaran. Panjang umur! Kara tahu-tahu datang dengan motor matic-nya yang masih kinclong. "Sori, lama. Yuk, cabut!" kata Kara. "Kok bisa ngaret? Hayo, ngapain aja looo?" Kara menunjukkan muka bersalahnya. "Iya nih, tadi Kak Bobby larang-larang gue naik motor. Maaf, ya?" "Ya udah, yuk!" Alodia mengangguk maklum dan naik ke motor dengan posisi menyamping. Di tengah jalan, Alodia menyempatkan diri untuk membalas pesan Atika di grup. Mumun : Otw. Atika montok : btw, sejak kapan lo tukeran nama sama si mumun? Mumun : Hah! Kok nama gue jadi Mumun???? Mumun : Ini pasti kerjaan Edgar. Ih, dasar nyebelin! ****** SMA Kalang Kabut namanya, sebuah sekolah negeri di Jakarta Timur yang letaknya tak jauh dari pemukiman penduduk. Memang nggak begitu populer, namun fasilitasnya cukup lengkap. Ada gedung aula, lapangan bola kaki, basket, mushola dan lain-lain. Empat bangunannya yang bertingkat dua saling berhadapan, mengelilingi lapangan berumput. Di tengah-tengahnya berdiri gagah tiang bendera yang mengibarkan Sang Merah Putih. Meskipun nggak elit-elit amat, toh, banyak juga anak orang kaya yang bersekolah di sana. Itu dapat dilihat dari mobil-mobil milik beberapa murid yang ada di parkiran. Sinar matahari perlahan naik, menghujani ratusan murid baru yang sedang berbaris di lapangan. Semuanya masih berseragam SMP, dan masing-masing sudah memakai atribut MOS yang aneh-aneh, sesuai syarat dan ketentuan yang berlaku. Yang paling mencolok adalah, rambut kucir enam milik cewek-cewek yang diikat dengan tali warna-warni. "Dua ekor lagi mana, nih?" Seorang senior cowok berambut cepak bertanya pada cewek di sebelahnya. "Tuuuh! Telat!" Cewek itu menunjuk ke arah gerbang dengan dagunya. "Yaelah, urus sana!" "Males. Biarin aja, siapa suruh datangnya lama!" Alodia dan Kara sama-sama memasang muka memelas di depan gerbang. "Coba aja tadi gue langsung kabur, nggak perlu berantem dulu sama Kak Bobby, pasti kita nggak terlambat," sesal Kara. "Udah, santai ajaaa kayak di pantai. Siapa tau nanti ada abang-abang ganteng yang bukain gerbang buat kita, hehehe," kata Alodia, berusaha untuk tidak menunjukkan kekesalannya. Kara cuma bisa tersenyum tipis. Meski Alodia nggak bilang, dia tahu cewek berponi 'selamat datang' itu sebenarnya marah. "Eh, Kar, abang yang itu lucu, ya? Hidungnya kayak hidung babi." Kara menengok ke arah yang ditunjuk Alodia, tepatnya di bawah pohon yang berada tak jauh dari mereka, ada seorang cowok duduk di sana sambil main HP. "Hahaha, iya kayak babi." "Kara, ngucap! Yang kamu lakukan itu, jahat!" "Hehehe, kan lo duluan." "Iya, tapi yang gue bilang hidungnya. Lo ngatain orangnya, ya? Hihihi." Kara terkikik geli. "Enggak, ah. Apaan sih lo. Entar dia denger baru tau rasa." "Bang! Abang yang lagi main HP!" panggil Alodia pada senior itu dengan suara keras. Sepertinya cowok itu sadar sedang dipanggil, karena dia langsung menoleh pada dua remaja imut di balik gerbang sekolah yang menjulang. "Apa?" tanyanya seraya mendekat. "Tolong bukain gerbangnya dong, Baaang!" Alodia berseru dengan nada membujuk. Cowok itu melihat sekeliling. "Nggak berani. Tungguin aja, siapa tau ada keajaiban," sahutnya lalu pergi. "Keajaiban dari Hongkong!" seru Alodia, keki. Tiiiin! Bunyi klakson panjang tiba-tiba terdengar bersamaan dengan berhentinya sebuah mobil Honda Jazz berwarna putih mengkilap di samping mereka. Kedua remaja itu sama-sama menoleh, menebak-nebak siapakah gerangan yang datang. Rupanya seorang cowok, berseragam SMA. "Telat?" tanyanya acuh tak acuh setelah keluar dari mobil. "Iya," jawab Alodia sambil curi-curi pandang untuk mengamati penampilan si cowok. Berantakan tapi nggak dekil. Dibilang cakep, nggak juga. Dibilang jelek, juga enggak. Biasa-biasa aja, tapi... familier. "Kasihan," katanya, lalu menaruh satu kakinya di besi gerbang. Melihat itu, Alodia sudah tahu apa yang mau dilakukan cowok itu. Seperti dugaannya, cowok yang namanya belum diketahui itu memanjat gerbang dengan lihai lalu melompat turun. "Mau masuk?" serunya sambil melipat tangan di d**a. Dia menengok Kara agak lama. "Mau!" jawab Alodia semangat. Tanpa sadar ia sudah mengguncang-guncang jeruji gerbang. "Mau banget?" "Iya, mau bangeeet." "Manjat, dong," ucap cowok itu lagi, enteng. "Nggak bisa," sahut Alodia dengan nada memelas yang dibuat-buat. "Atau kalo nggak cabut aja pagarnya." Alodia mengembuskan napas dengan berlebihan. "Lo yang ngomong deh, lo kan cantik. Siapa tau dia mau bukain," bisiknya pada Kara. Kara malu, tapi mau bagaimana lagi. "Bukain dong, Kak. Pliiis..." "Nggak mau." Cowok itu lalu pergi sambil bersenandung kecil. Alodia mau manggil, tapi gengsi. Lagi pula, dia juga nggak kenal cowok itu. Familier sih, tapi tetap aja nggak kenal. Apa mereka manjat aja, ya? Alodia mendongak, melihat pagar setinggi dua meter dengan ujung-ujungnya yang runcing. Dia meringis, kalau entar salah satu dari mereka nyangkut di atas gimana? Belum lagi sekarang mereka diperhatikan sama senior-senior cewek di lapangan sana. "Gimana nih, Nyuk? Kita beneran nggak dibolehin masuk, ya?" "Nggak tau, nih." Tak berapa lama kemudian, Alodia melihat cowok yang tadi balik lagi sambil memutar-mutar sesuatu di jari telunjuknya. Alodia menegakkan bahu dengan semangat. Itu pasti kunci gembok. "Biasa aja lihatnya," kata cowok itu ketus sambil membuka gembok besar yang mengunci gerbang. "Kelompok kita yang mana, yaaa?" teriak Alodia sambil menerobos masuk setelah gerbang terbuka. Cowok itu menoleh melalui bahu, Alodia sudah berlari menuju lapangan sambil menggerutu. "Makasih ya, Kak," kata Kara malu-malu. "Hem." Kara mengangguk, pipinya bersemu merah tanpa alasan yang jelas. "Kar! Sini!" panggil Alodia. Cewek berambut pirang itu pun bergegas menyusul Alodia. "Kok telat, Bro?" seru seorang cowok berbadan kurus yang baru saja keluar dari semak-semak di samping gerbang. "Biasa," sahut yang ditanya lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya. Dia menarik satu lalu menyalakan pemantik dan membakar ujungnya. Dia mengisap ujung silender tersebut sepenuh hati, tak peduli sebanyak apa zat beracun yang berlomba-lomba merusak jantung dan paru-parunya. "Gue sama anak-anak ada rencana mau ngerjain cewek, nih. Mau ikutan, nggak?" "Siapa?" "Kara Adinda. Adiknya si Bobby Bule. Cowok yang pernah habis-habisan ngerjain kita waktu MOS dulu. Gue baru dapet informasinya tadi malem. Gimana?" "Kasihan, dia cewek. Mending lo pacarin." "Nggak pa-pa, buat lucu-lucuan doang." Cowok itu mengembuskan napasnya yang bercampur asap, lalu berkata dengan acuh tak acuh, "Terserah aja." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN