38.

662 Kata

Dava memeluk Airaa, menenangkan wanita itu yang terisak. Barusan saja pesawat yang ditumpangi Haikal lepas landas, Airaa menangisi kepergian Haikal. "Sssssst, Haikal hanya pergi ke Turki. Bukan mati!" sentak Dava kesal, Airaa kenapa jadi cengeng gini sih? Airaa mencubit lengan kekar Dava. "Kau mendoakan sahabatku mati ya?" Dava menggeleng. "Dulu, waktu kalian berpisah untuk yang pertama kalinya. Bagaimana reaksimu? Apakah menangis lebay seperti ini?" tanya Dava penasaran. Airaa melepaskan pelukannya di tubuh Dava, menghapus sisa air matanya yang menempel di kedua pipinya. "Biasa saja," jawabnya enteng. "Lhaa, kenapa sekarang nangis bombay gini?" Airaa mengedikkan bahu tanda tak tahu. "Entahlah, kali ini aku memang tak ingin Haikal kembali ke Turki." "Alasannya?" "Sudah kubilang,

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN