2. Jalan-jalan

916 Kata
Gerald memboyang anak dan istrinya di kebun binatang. Baginya, itu lebih mengasyikkan daripada jalan-jalan ke Mall yang malah membuat istrinya Khilaf. Maklum, Keyara termasuk dalam jajaran mama muda hobby belanja. Gerald mendorong kereta bayi yang bisa menampung ketiga anaknya. Keyara berdiri di sampingnya dengan membawa tas yang berisi dot anak-anaknya. "Mas lihat deh, ada kembaran kamu!" ucap Keyara terkikik geli. Gerald ikut terkekeh, ia mencubit kecil lengan istrinya. "Suamimu ini tampan, masak disamain sama otan," jawab Gerald. "Lucu, gemesin, banyak bulunya," ucap Keyara gemas. Gerald mengerutkan alisnya. "Ma, kamu suka yang banyak bulunya? Oke, besok gak usah aku cukur." saut Gerald. "Apanya yang dicukur?" tanya Keyara membeo. "Bulu ekhem-ekhem lah, kan kamu suka yang banyak bulunya." Plak! "Aduh, kok ditampar sih?" tanya Gerald cemberut. "Yang banyak bulunya si otan noh. Gemesin. Bukan kamu. Udah punya tiga buntut kurangin deh m***m nya," ujar Keyara mencibir. "Karena m***m, jadi tiga buntut!" jawab Gerald. "Huwaaaa!!" tangis putranya terdengar nyaring. Buru-buru Keyara melihat anaknya. Ternyata Ray sedang menangis karena jarinya di omotin oleh Rex. Cengkraman tangan Rex sangat kuat dijari Ray. Membuat putra keduanya itu menangis kencang. "Rex kebiasaan deh. Kalau mau emut, ya emut jari kamu sendiri. Jangan jari orang lain." ucap Gerald melepas jari Ray dari bibir Rex. Plak! Rex menabok muka Gerald dengan tangan mungilnya. Gerald memelototi anaknya. Berharap Rex akan takut. Tapi, malah Gerald yang takut karena Rex ikutan melotot."Bayi kemarin sore aja songong!" cibir Gerald nenusuk-nusuk pipi Rex dengan jarinya. Sedangkan Keyara menggendong Ray yang masih menangis. Mencoba menenangkan anaknya dengan membawa mendekat pada pinguin yang ada di tempat khusus dan diberi salju buatan. "Udah diem ya. Anak mama yang ganteng, lihat ada pinguin!" ucap Keyara menunjuk-nunjuk pinguin. "In in!" celoteh Ray ikutan menunjuk. "Kalau di kartun, itu namanya pororo," jelas Keyara terkikik geli. Ia sangat suka dengan pororo. Imut, lucu dan menggemaskan, tapi tanpa bulu. "Pah pah!" teriak Rex dengan suara nyaring menunjuk mamanya. "Jalan sendiri sana. Papa males," jawab Gerald. Gerald masih dalam mode kesal dengan Rex. Rex ini bayi kurangajar yang gak ada takut-takutnya sama Papanya. "Pa ma!" Rex terus menunjuk-nunjuk mamanya. Berharap, papanya yang baperan, mau mendorong kereta bayinya kearah pinguin-pinguin lucu. Gerald tak bergeming. Biarlah Rex teriak-teriak terus. Gerald melirik Rey yang tumben hanya diam. Ternyata bocah itu asyik memandang ular ular di sebrang sana. Dalam kandang kaca, ular jenis pyton yang masih kecil, terkurung dengan nyaman. "Rey suka ular?" tanya Gerald menurunkan badannya agar sejajar dengan bayi mungilnya. "Itu namanya ular pyton. Kalau kamu udah besar. Kamu bisa pelihara. Nanti kalau Rex kurang ajar, biar ular itu matuk dia." ucap Gerald terkekeh dengan kebodohannya sendiri. Gerald tak sabar menantikan ketiga putranya yang tumbuh besar. Pasti suasana rumah makin rame. Sebenarnya Gerald ingin anak lagi, minimal dia punya satu anak cewek. Tapi, nunggu si bocil-bocil ini agak besar. Katanya, membuat anak cewek ada triknya. Setelah ekhem-ekhem, harus miring ke kiri. Itu kata Keenan. Dan Gerald siap mempraktekannya. "Mas, kamu kok senyum-senyum sendiri?" tanya Keyara heran. Buru-buru Gerald menetralkan ekspresinya. "Pasti mikirin m***m, ya?" selidik Keyara. Keyara hapal betul kalau tabiat Gerald selalu begitu. Pria itu selalu berfikir m***m tanpa tahu tempat. "Iya, gak sabar nih," jawab Gerald mengerlingkan matanya. Keyara hanya menggelengkan kepalanya. "Ray nya dipindah aja. Biar dia di pinggir. Rey yang ditengah samping Rex," ujar Gerald mengintruksi. Ia memindahkan Rey di dekat Rex, dan Keyara menurunkan Ray di dekat Rey. Semoga anaknya anteng semua. "Huwaaaa!!!" Sedetik setelah di pindah, Rex kembali berulah. Kini sasarannya pada Rey. Rex merebut mainan kecil yang dibawa Rey dan membuangnya ke tanah. "Yang satu usil, yang satu cengeng," ucap Gerald menepuk-nepuk dorongan bayi dengan gemas. Ia memgambil mainan yang jatuh, memberikannya kembali pada Rey. "Ini mainannya. Jangan nangis. Malu sama kelamin, diliatin orang juga tuh," ketus Gerald. "Kamu juga. Jangan usil jadi bocah. Mau papa kasih makan ke harimau?" tanya Gerald sambik menunjuk nunjuk muka anaknya. "Mas, dilihatin orang. Malu!" bisik Keyara saat menyadari tatapan aneh dari orang-orang. "Biarin aja. Emang dasar anak kamu, sifat jeleknya kamu semua yang nurun. Gak ada apa sifatku yang baik hati sedikit aja nurun ke mereka. Dasar!" kesal Gerald menggerutu. Ia mendorong dengan cepat kereta bayi anaknya. Keyara mendumel, enak saja Gerald memfitnahnya tentang sifat anak. Apa pria itu lupa berkaca diri. Yang sifatnya ngeselin siapa kalau gak Gerald. Keyara membuntuti suaminya. Suminya menuju kedai makanan gulai kambing. Makanan kesukaan Keyara. Keyara menggendong Rex agar tidak usil dengan kedua saudaranya yang lain. Setelah memesan dan membayar, Keyara duduk anteng di hadapan suaminya. Orang-orang melihat gemas kearah triplet yang berceloteh lucu. Bahkan, ada sebagian dari mereka, diam-diam menjulurkan lidahnya kearah Triplet. Rex yang melihat orang-orang menjulurkan lidahnya, menjelek-jelekkan wajahnya, bahkan memelototkan matanya, tak merasa takut sama sekali. Karena Rex langsung balas memelototinya. Beda dengan Rex, Ray dan Rey malah nangis lagi. Duo itu sangat cengeng dan manja. "Kenapa nangis lagi sih?" kesal Gerald menendang kecil ban kereta bayi. "Ayo sini ngopi sama papa. Biar hidupmu gak tegang," ucap Gerald menunjukkan cangkir yang berisi kopi panas. Sedangkan Keyara hanya mendengus kesal. Namanya anak kecil ya sering menangis. Keyara mengeluarkan dot bayi yang ada di tas. Melihat istrinya kesusahan, Gerald mengambil alih Rex ke gendongannya. "Kamu jangan kayak mereka yang cengeng. Kamu harus jadi jagoan Papa yang bisa Papa banggakan." ucap Gerald menepuk puncak kepala anaknya yang paling mirip seperti dirinya. "Mas, jangan mulai deh. Mereka bertiga jagoan kamu. Kamu harus bangga sama mereka." ucap Keyara dengan tegas. Gerald merutuki mulutnya yang sering kelepasan. Maksudnya bukan itu. Karena di Gendongannya ada Rex, maka bicaranya juga sama Rex. Ia tidak akan memilih kasih. Gerald akan membagi kasih sayangnya dengan rata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN