“Saya terima nikahnya Rania Nur Imai Dzaqira binti Yudi Wijacsono dengan mas kawin rumah tinggal dibayar tunai”
Ikrar yang ia sebutkan dengan khidmat dan lancar dalam tarikan satu nafas di depan kedua orang tuannya, saksi, penghulu, dan wali nikah perempuan membuatnya lega. Sudah sekitar lima jam berlalu dari kepulangannya kantor KUA.
Namun tetap terasa hampa, bagaimana mungkin pernikahan yang ia andaikan sejak semalam untuk menjadi momen sekali seumur hidupnya, yang ia harapkan dengan begitu indah untuk di kenang menjadi sumber kedongkolannya.
Bagaimana mungkin di hari pernikahannya tersebut tidak ada mempelai wanitanya, meskipun diadakan secara sederhana dan tentunya dadakan bukan berarti Imai dengan mudah meninggalkan momen tersebut bukan?
“Om Imai dimana?” Tanya Roy setibanya mobil pak yudi parkir di depan KUA. Sejak kedatangan mobil itu dari jauh tertangkap netra matanya jantungnya semakin berdegup cepat, berlipat-lipat dari kedatangannya dan keluarganya di KUA.
Ekspektasinya akan menjaili calon istrinya sebelum sah pudar sudah setelah melihat hanya pak Yudi yang turun dari mobil hitam tersebut.
“Maaf Roy, Imai sedang tidak enak badan jadi di walikan saya saja. Toh ada dan tidaknya mempelai wanita selama ada wali nikah wanita pernikahan akan tetap sah”
Roy menghela nafas, semangatnya sedikit memudar. Bukan ini yang ia inginkan, keluhnya.
Naasnya lagi, setelah ijab kabul selesai. Roy sama sekali tidak diperbolehkan menemui istrinya sendiri. Alasannya klasik, laki-laki dan perempuan yang ingin menikah harus di pingit. Lah bukannya dia sudah resmi menikah di mata agama dan di mata hukum.
Mau tidak mau disinilah Roy sekarang berada, didalam kamar dan terbaring menatap langit-langit.
*****
Kegaduhan pagi ini terjadi di rumah Imai, sedari setengah jam lalu Rosa terus memaksa Imai untuk mengenakan baju kebaya dan bersiap untuk dandan.
Namun anak gadisnya itu masih setia didalam kamarnya dengan kondisi pintu tertutup rapat dan dikunci dari dalam.
“Mai, kapan kamu siap-siap. Kamu pakai baju ini”
Begitulah gambaran sedikit ibunya yang sudah rusuh pagi-pagi mengetok kamar Imai. Dan berkali-kali juga Imai menolaknya dan mengatakan bahwa ia sedang tidak enak badan.
Dan pilihan terakhir Imai sama sekali tidak ikut ke KUA hanya di wakilkan oleh ayahnya, meskipun ini adalah hari pernikahannya sendiri. Namun ia sama sekali tidak berminat menghadirinya.
Kini air mata Imai terus mengalir, sejak kedatangan ayahnya Imai sudah tahu bahwa statusnya bukan lagi single tetapi sudah istri orang. Dan ia masih belum bisa mempercayai hal tersebut.
Ping
Satu notifikasi masuk ke aplikasi chat miliknya, ia tidak ingin membukanya paling-paling itu chat dari Roy yang ingin menggodanya.
Huft
Bagaimana mungkin ia mempercayai bahwa ia sudah berstatus istri musuh masa kecilnya itu.
Dretttt drettttt
Lagi-lagi telponnya berdering tanda ada seseorang menelponnya. “Palingan juga Roy yang nelpon” ujarnya mengabaikan telpon tersebut.
Namun telponnya terus saja berdering membuatnya risih lalu mengangkat telponnya.
“Berisik banget sih lo telpon-telpon gua” langsung Imai tanpa mengucapkan salam ataupun kalimat basa-basi lainnya.
“Assalamualaikum Imai……”
Mendengar suara yang berbeda dan sangat ia kenal itu membuatnya cepat-cepat melihat nama yang tertera menelponnya.
“Mampus bang syam” keluhnya dalam hati.
Buru-buru Imai meminta maaf atas kesalahannya mengira orang lain, “maaf bang maaf, saya kira orang iseng tadi” ujarnya tidak enak diri.
“Santai imai, apa…apa kabar Imai?”
Masya Allah suara inilah yang selalu ia nanti untuk menghubunginya, namun momennya sangat-sangat tidak pas. Andai saja semalam atau kemarin laki-laki yang sudah mencuri hatinya ini lebih cepat menghubunginya mungkin saat ini ia bukan berstatus istri orang lain.
“Apa aku cerai saja ya?” Lirihnya dalam hati “astagfirullah itu sungguh perbuatan tercela Imai” belanya sendiri.
“Alhamdulillah baik bang, abang syam sendiri bagaimana kabarnya?” Tanyanya dengan gugup, sunggu saat ini jantungnya berdegup dengan cepat. Sungguh hari yang ia tunggu-tunggu akan datang juga.
“Alhamdulillah baik Imai, oh iya Imai ada waktu nggak minggu ini?”
“Maaf bang saya sedang tidak di Bandung”
“Oh walah, kapan kamu pulang ke Kalimantan mai” terdengar sedikit ada nada suara menyesal, namun syam berhasil menyamarkannya.
“Dua minggu lalu bang, belum lama juga”
“Ohhh…semoga deh aku bisa kesana ya”
“Iya bang?” Imai sama sekali tidak mendengar kalimat terakhir dari ucapan syam.
“Bukan apa-apa mai” katanya mengelak “ya sudah, kapan-kapan lagi saja ya” katanya menutupi percakapan setelahnya mengucapkan salam dan menutup telponnya.
Sedikit kecewa karena hanya kurang dari dua menit saja mereka berbicara. Dan Imai harus menunggu berlama-lama lagi untuk laki-laki itu menghubunginya.
Iya ingat sekali terakhir kali ia kontak dengan syam adalah bulan lalu dimana laki-laki yang merupakan seniornya dua tingkatnya di UKM tersebut mengucapkan selamat atas sidang Imai.
Dan pertemuan terakhir mereka di bulan Juni lalu yang menurut Imai kurang menyenangkan membuatnya sedikit was-was dan ragu bahwa laki-laki itu menyukainya juga.