Semenjak kepulangannya dua minggu lalu tidak banyak kegiatan yang bisa Imai lakukan. Rutinitasnya seolah berpola dan hanya di lakukannya di rumah saja. Seperti pagi menyapu, cuci baju, menjemur pakaian, memasak, dan kegiatan rumah seperti layaknya ibu rumah tangga pada umumnya.
Semenjak ia di nyatakan lulus dari perguruan tinggi di bandung, kedua orang tuanya melarangnya mencari pekerjaan di sana. Alasannya ya tentu saja mamanya tidak ingin putri keduanya itu merantau lebih lama di kota orang.
“Kalau bisa kamu cari kerja sama cari jodoh disini aja”
Ya begitu lah kira-kira kalimat ampuh mamanya agar melarang Imai lebih lama di perantauan.
“Apa kamu bilang! Kurang ajar ya kamu!”
Imai sangat mengenal suara tersebut, milik ayahnya. Tapi baru kali ini ia kembali mendengar suara lantang bentakan ayahnya setelah bertahun-tahun.
“Kalau om tidak percaya, tanyakan saja kepada putri om”
Tunggu, itu suara laki-laki yang juga tidak asing di pendengaran Imai.
Kali ini Imai tidak bisa melakukan banyak hal, perkara perutnya yang mulas ia tidak bisa langsung pergi keluar untuk melihat keributan apa. Jarak antara toilet dan ruang tamu lumayan jauh tapi suara pertengkaran tersebut masih samar-samar ia dengar jelas diantaran suara air keran yang mengalir.
“Om tenang dulu, saya tidak ingin keributan ini menjadi pusat perhatian tetangga. Nanti yang malu kita semua” sergah suara itu sebelum akhiri ya ia sama sekali tidak dapat mendengar apapun selain suara air dari keran.
Cukup lama Imai berdiam diri di dalam toilet, entah salah makan tapi perut kali ini benar-benar tidak bisa di kompromi. Dari pagi hingga malam sudah terhitung beberapa kali ia bolak balik toilet hanya untuk buang air kecil.
Kali ini, tidak seperti biasanya ia semenjak selepas isya ia mules dan membuatnya berlari ke dalam toilet. Namun sejak tadi ia di dalam toilet sama sekali tidak buang air besar, padahal perutnya sangat mules.
“Mai, kamu masih lama?” Suara dari ibunya itu hanya di jawab Imai dengan kata “sebentar bu”.
Ia pikir ibunya juga salah makan dan ingin buru-buru ke toilet juga. Namun dugaannya salah, ia diminta untuk ke ruang tamu bertemu dengan tamu ayahnya malam ini.
Setibanya di area ruang tamu ia sangat terkejut melihat seseorang yang sangat-sangat diluar dugaan datang berkunjung. Setahunya laki-laki itu paling anti untuk datang kerumah apalagi bertemu ibunya.
Dalam seperkian detik kedua pasang mata mereka saling menatap, dan sesaat pula Imai sedikit melihat samar-samar senyum laki-laki itu yang seperti dulu seperti akan memulai pertengkaran dengan dirinya.
“Kamu duduk disini mai, ada yang bapak ingin bicarakan sama kamu”
Meskipun di Liputi rasa kebingungan ada apa sebenarnya, Imai tetap mengikuti permintaan ayahnya untuk duduk disamping beliau di sebuah sofa panjang yang langsung menghadap ke laki-laki tersebut.
“Kamu tahu kan bapak paling nggak suka kalau kamu bohong” mendengar perkataan ayahnya Imai mengangguk setuju.
“Kamu jujur mai, apa benar kamu sedang hamil?”
Apa! Bagaikan di sambar petir di dalam rumah Imai hanya dapat membeku. Apa ia sedang di prank reality show saat ini? Bagaimana mungkin perempuan yang belum pernah berhubungan seksual bisa tiba-tiba hamil.
Seolah mulut terkunci rapat dan tidak bisa berkata-kata yang di lakukan Imai di luar dugaan. Ia hanya dapat menunduk lemas.
“Benar kan om, Imai saja tidak bisa menjawab”
Mendengar perkara yang semena-mena dilontarkan kan oleh lelaki yang duduk di depannya Imai langsung menatap tajam lelaki itu dan protes dan sedikit melotot berusaha mengancam.
Dan lagi-lagi gerak getol Imai di salah artikan kembali oleh kedua pasang orang tua disana.
“Kenapa kamu sangat ingin menutupinya mai, aku siap menganggu konsekuensi atas yang kita lakukan” kembali laki-laki itu bersuara seolah memperkeruh suasana.
Imai menatap mata ibunya, kedua pasang mata itu sudah berkaca-kaca seolah mempresentasikan kekecewaannya.
Ini sudah tidak benar, semakin ia diam semakin ia di pojokan dan tuduhan atas semua perkara Roy, laki-laki kurang ajar yang memprovokasi tersebut.
“Roy, lu apa-apa coba. Apanya kunsekusi Hah. Emang kita udah buat apa? Jangan ngelatur deh” belanya sambil menatap tajam laki-laki tersebut.
Imai menatap bergantian kedua orang tuanya, “pak, bu Imai nggak hamil jangan percaya kata-kata dia” kini Imai sudah tidak bisa mengatur emosinya nafasnya naik turun dan telunjuknya dengan bebas menodong Roy.
Laki-laki itu hanya duduk santai melihat semua adegan tidak masuk akal yang sudah di buat ini. Entah apa motifnya yang jelas ini sudah mencoreng nama baiknya.
“Maaf pak bu, saya menyela. Roy sudah mengaku pada kami tentang hal tersebut dan dia berkata sudah beberapa kali melakukannya bermasa putri bapak dan ibu”
Meskipun pak Ahmad ayah nya Roy menjelaskan dengan pelan dan sopan tetap saja kesan horor dan mengerikan yang Imai dengar. Apa katanya? Sudah beberapa kali melakukan? Maksudnya berhubungan suami istri? Tuhannnn
Tangis ibunya Imai pecah, entahlah kondisi apa ini mengapa ia bisa berada di drama murahan ini. Imai berusaha meraih tangan ibunya untuk digenggam namun ibunya menepis tangan tersebut.
Air mata sudah tidak bisa lagi Imai bendung, bagaimana mungkin ia di tuduh telah melakukan hubungan intim diluar ikatan pernikahan apalagi sampai hamil. Sunggu tidak masuk akal.
Imai terus menggelengkan kepala, ia sama sekali tidak bisa berkata-kata lagi.
Melihat situasi yang seketika melow penuh derai air mata suara Roy kembali mengudara, “maaf mai, aku harus buka aib kita. Aku nggak mau kamu lewatin ini sendiri tanpa aku. Ini semua demi anak kita”
Anak kita palu lo! Astaga. Imai menatap sinis Roy. Ia ingin sekali mencabik-cabik wajah jenaka Roy saat ini. Bagaimana bisa ada anak Roy tumbuh di rahimnya sedangkan terakhir mereka bertemu saja tiga tahun lalu. Apa dia pakai jurus dukun memadukan spermanya di dalam rahimnya. Dasar konyol.
Namun belum sempat Imai bersuara, ayahnya lebih dulu menjawab. “Saya tidak ingin masalah internal keluarga ini sampai bocor, untuk menghindari isu-isu dan perut Imai semakin membesar saya ingin pernikahan ini dilangsungkan satu bulan lagi”
Sedikit jeda, hanya ada suara tangis ibu Imai dan Imai saja sebelum akhirnya ayah kembali bersuara. “Setuju tidak setuju, pokoknya satu bulan lagi acara pernikahan kalian dilangsungkan. Dan besok pagi kalian sudah harus resmi menjadi suami istri di KUA. Untuk perayaannya dan yang orang lain ketahui itu satu bulan kemudian”
Ketok palu sudah dilayangkan, kedua belah pihak keluarga sudah setuju. Namun nada protes masih berusaha Imai suarakan. Tetapi ia sudah kalah telak perihal suara. Mau tidak mau, suka tidak suka itu sudah menjadi keputusan ayahnya dan Imai tidak bisa menolak.