Tyo terlihat sedang asyik membersihkan meja coffee bar sambil bersiul merdu. Sesekali ia melempar pandangan ke meja nomor 6. Berharap bisa melihat wanita yang kemarin berhasil merebut seluruh perhatiannya.
Matahari semakin meninggi. Tyo bersantai sedikit karena kafe sedang tidak ada pengunjung di jam-jam seperti ini.
Tepat saat jam makan siang. Direktur PT Amora Jeans, bersama wakilnya, sekretaris, dan tiga orang staf datang ke Well's Cafe. Karena datang rombongan mereka harus duduk di tempat khusus yang disediakan di sudut ruangan.
Sejak awal masuk, hingga duduk bersama seperti saat ini, pandangan Key masih terus mencari seseorang, tapi tak menemukannya. Ah, mungkin dia sedang mendapat shift malam? Tapi tadi pagi dia... berlari, batin Key.
Tyo baru saja kembali dari toilet dan sedang membetulkan kemeja putihnya yang dilapisi dengan rompi berwarna hitam. Joko menariknya tanpa basa-basi. "Bro, liat di pojok sana!"
"Gue orang, bukan sapi ditarik-tarik. Apa-an, sih?" Tyo sewot.
"Lo liat aja sendiri sono, di sana tuh!" Joko mendorong wajah Tyo.
"Bidadari...." Tyo jadi terperangah.
"Dia pakai jas, elo cuma pakai seragam pelayan. Sudah biar gue yang ke sana kalau lo malu!" ledeknya.
"Kenapa malu? Ini justru kesempatan baik, karena gue bukan bunglon yang menyesuaikan diri dengan tempatnya." Tyo menepis tangan Joko lalu membenarkan rompinya. "Gue lebih suka menonjolkan apa adanya diri gue tanpa merubah apa pun hanya untuk penyesuaian."
"Weis, gue suka gaya lo meen...!" Joko meninju pundak Tyo.
Dengan penuh percaya diri Tyo menghampiri. Gayanya tenang, maco, penampilan dan postur tubuh menunjang, membuatnya seperti model yang sedang berjalan di catwolk. Tatapannya terjurus pada Key yang berbincang. Tetapi Hilda tak bisa berkedip melihatnya dan tak menghiraukan apa yang dikatakan Key.
Hilda menyiku lengan Key hingga ia berhenti bicara, ... Andai gue tau pelayannya se-maco ini...!
Key yang semula tak menyadari mulai terusik, menoleh, dan... ups! Aksi saling tatap pun terjadi. Bibir Key sedikit membuka saking kagum, Apa iya, dia pelayan? Bahkan ... dia mengaku sebagai pemilik kafe ini siapa yang nggak percaya? Key terus bicara pada hatinya. Meninggikan alisnya, lagi-lagi ia menemukan kekaguman. Tanpa malu ia menunjukkan identitas, aku suka orang yang jujur. Kau--penuh pesona orang asing!
"Key?" Rey menyadarkan Key dari lamunan, "dia tanya mau pesan apa?"
"Oh, iya aku mau..., yang segar aja..."
"Jus melon tanpa gula dan s**u, spaghetti aglio oglio."
"Yup!" Key tersenyum mendengar makanan favoritnya sudah dihafal satu kali kunjungan saja.
Selama mencatat pesanan lainnya, Key terus memperhatikan Tyo dari dekat. Banyak hal yang kemarin belum ia sadari.
Hilda mulai bertingkah minta agar supaya menu makanannya diganti, dan meminta Tyo menyebutkan menu favorit yang tersedia di kafe. Tyo menyebutkan sambil sesekali melirik Key yang tersenyum memperhatikan Hilda. Key tahu itu hanya akal-akalan Hilda untuk menahan agar Tyo lebih lama.
Tyo berhenti di menu terakhir, "... Mau yang mana?" wajah Tyo makin terlihat mempesona.
"Apa aja..."
"Samakan saja dengan punya aku," saran Key akhirnya tak tahan melihat tingkah Hilda.
"Oke. Silakan menunggu, terima kasih," kata Tyo sambil sedikit membungkuk.
Key hanya membalas dengan senyum. Dalam hati ia berharap bisa berdua seperti kemarin, dan beradu argumen. Tentang apa saja, asalkan bersamanya. Bersamanya. Key menggeleng tak percaya dengan apa yang ia rasa. Kau berhasil menjeratku tatapanmu itu benar-benar menusuk hatiku. Key... kau dalam bahaya...! Pekik hatinya.
Rey mengikuti alunan musik yang dimainkan oleh home band yang sedang melantunkan lagu Jatuh Cinta milik Titi Puspa. Perasaan Key semakin tak menentu mendengar lagu yang sama dengan perasaannya.
Sepertinya, iya, sepertinya ia sedang jatuh cinta? Dadanya terasa sesak, tak percaya dengan apa yang ia rasa. Bernapas pun kaku. "Apa aku sudah gila jatuh cinta secepat ini?" gumamnya tersenyum sendiri.
"Key... elo denger gue?" teriak Hilda melawan suara home band, dan suara sumbang Rey yang ikut bernyanyi.
"Apa?" Key berusaha mencari alasan, "ulangi."
"Gimana dengan cowok itu?" tanya Hilda lagi.
"Dia menawan hatiku...," katanya dengan sikap dramatis, meletakkan tangan di d**a.
"What?" Hilda membelalak. "Beno maksud gue!"
"Oh, sorry nggak jelas." Key menarik lengan Rey, "kecilkan suara kamu, Rey."
"Elo nggak menangkap pertanyaan gue, otak lo di tempat lain, hayo ngaku!"
"Ah, nggak! Ini karena Rey ikut nyanyi, suaranya ngalahin suara elo." Key mendekat sebelum menjawab, ia tak ingin Rey tahu, "dia mencampak kan gue depan umum. Di sini. Dia kembali pada kekasih lamanya, Kris... atau Cris? Mereka berpelukan di depan gue, di situ tuh," menuding ke satu arah, "dramatis!"
"Sama sekali nggak menghiraukan elo?" menjaga suara dari Rey, karena ia tak 'kan terima siapa pun menyakiti Key sepupunya itu.
"Yeah, menganggap gue patung, mungkin? Gue..., denger mereka saling memanggil penuh rindu. Saling tatap, mengungkapkan sesuatu, lalu... berpelukan...!"
"Hei, Keysha--elo nggak terlihat kesal."
"Untuk apa kesal? Pecundang akan berjodoh dengan pecundang. Dan gue bukan pecundang." Key menjawab dengan santai saja namun tetap terlihat kilat emosi di matanya.
"Ben nggak nganterin elo pulang?" tanya Hilda, seperti tak percaya.
"Ben, dia nawarin sih, tapi gue tolak. Dari pada gue muntah satu mobil dengan mereka, damn!"
"Dasar laki-laki aneh! Kenapa lebih memilih perempuan norak seperti itu ketimbang elo? Jelas-jelas seorang Keysha Amora lebih segalanya. Keysha Amora!"
"Elo seperti nggak kenal jenis-jenis pria. Terkadang ada jenis seperti Beno yang justru menyukai perempuan agresif. Menyukai perempuan yang pandai merayu, pandai menggoda, berpakaian super seksi, nyaris nggak sopan, bahkan murahan."
"Dan nggak punya malu."
"Yeah, laki-laki yang menyukai perempuan jenis langka seperti itu, justru menganggap kita ini hanya seperti boneka yang membosankan. Huh!" ucap Key lalu menggelengkan kepala.
"Ya terus, apa yang buat elo kasih dia kesempatan sampai dua kali? Cuma dijadikan pelarian dari perempuan norak itu!" bisik Hilda, ia tak ingin Rey mendengar.
"Itu tindakan paling bodoh yang gue lakuin. Gue nggak akan ngulanginya lagi, sampai mati pun! Dan gue bersyukur Tuhan sudah menjauhkan gue dari orang seperti itu. Benar-benar bersyukur dengan semua ini."
Key dan Hilda terus berbicara sambil menunggu pesanan tiba.
Sementara Tyo masih enggan membalikkan badan. Ia asyik mengobrol dengan Joko. "Alhamdulilah, bisnis kemarin lancar," kedua sikunya bertengger di atas meja bar.
"Syukurlah." Joko mendorong pundak Tyo, "balik badan! Ayo balik badan, cewek itu dari tadi memperhatikan ke arah sini."
"Beneran, dia dari tadi ngeliatin kita?" tanya Tyo, masih bertahan.
"Bukan kita, tapi elo! Ya sudah, gue ke dapur dulu ngecek pesanan mereka."
"Oke cantik, aku akan menangkap basah mata indahmu itu," ucap Tyo dengan bibir menyeringai. Dalam hati ia menghitung untuk berbalik, 1, 2, 3, dan... ya, dia berhasil menangkap basah mata Key, "Kenak kau...," gumamnya kemudian menopang dagu dan memasang wajah konyol untuk menggoda Key yang salah tingkah.
Key membelalak merasa tak terima ditangkap basah begini. Menjadi kaku ditatap seperti itu. Ia mulai salah tingkah. Sebentar berpaling, sebentar melihat, sampai akhirnya pasrah pada tatapan yang melumpuhkannya itu. Ia lalu ikut menopang dagu. Melempar senyum. Kini mereka saling mengaitkan tatapan dan senyum. Meski dari jauh di antara deretan meja dan kursi yang berisi tamu, tapi rasanya hanya ada mereka berdua di sana. Key menggeleng, dasar sinting, kamu sengaja bikin aku penasaran! Batinnya. Ia sedikit beruntung karena Rey dan Hilda sedang berada sedikit jauh darinya.
Tyo berjalan ke arah Key dengan gayanya yang keren. Mata Key menyorot tak berkedip seiring dengan langkah tegap itu.
Hilda mencondong, "Dia keren banget!" bisiknya tepat di telinga Key.
Key seperti tak menghiraukan karena telah terhipnotis dengan tatapan memikat yang tadi sempat menghilang.
Joko datang membawa troli makanan, dia memindahkan satu persatu hidangan. Ada rasa sesal di sudut hati Key karena bukan Tyo yang mengantarkan pesanan.
Selama menyantap makanannya, Key terus mencuri pandang pada laki-laki di sudut sana yang tak jua berhenti memperhatikannya, bahkan memandangnya. Sesekali Hilda memperhatikan, dan menyiku lengan Key untuk menyadarkannya dari keterpesonaan.
Setelahnya, Rey menyelesaikan pembayaran. Kemudian beranjak bersama yang lain. Key memilih berjalan di belakang, seperti enggan meninggalkan tempat. Key menoleh ke belakang, Tyo melambaikan tangan padanya sambil senyum.
"Caranya jalan aja... buat jantung gue copot!" seru Tyo dengan begitu yakin pada kata-katanya.
"Mati dong!" ledek Salim.
"Gue makin yakin dia jodoh gue!" kata Tyo dengan gaya sombong.
Tyo masih bergeming. Mengharapkan bertemu kembali, bahkan lebih lama, dan lebih dari sekadar bertatap seperti hari ini.
___
Key duduk bersandar malas di ruang kerjanya, mengetuk-ngetuk pena pada meja. Ia sama sekali tak memikirkan pekerjaan. Mendongak karena pintu membuka, Hilda yang datang dengan setumpuk kertas.
"Rey menyuruh memeriksa ini semua, bukti pengeluaran gudang." Duduk di hadapan Key yang langsung memeriksa kertas-kertas tersebut. "Jangan kira gue nggak memperhatikan kalian, ya!" ucapnya, menyeringai seperti sedang memperingatkan sesuatu.
Key mengerutkan kening, "Kalian?"
"Elo dan si keren itu maksud gue...!"
Key berhenti, "Apa yang elo perhatikan?"
"Kalian selalu saling pandang," mengingatkan kemudian tersenyum menggoda, "sudah berapa kali kalian ketemu?" memajukan wajahnya.
"Kemarin, dan hari ini. Elo lupa ya, yang gue ceritain? Beno--ngajak gue ke kafe itu kemarin, lalu dia ninggalin gue. Dan si keren itu memperhatikan semua kejadian antara Beno dan gue, dan si norak itu juga."
"Si keren itu?"
"Yup! Dan dialah yang menyadarkan bahwa gue hanya dijadikan 'layangan' bagi Beno."
"Oh..., bagus. Tapi--cara kalian berpandangan mengandung sesuatu yang misterius."
"Hilda!" menekan punggungnya di kursi "kita tidak sedang di luar jam kerja!" tukasnya. "So, back to work!"
"Oke, sorry?!" Hilda mengangkat kedua tangan setinggi bahu, "... aku akan ke luar, Ibu Direktur."
"Tunggu sebentar! Tolong... kerjakan ini. Pekerjaan terlalu menumpuk."
"Cepat?" tanya Hilda singkat.
"Ng...gak, juga. Tapi lebih baik cepat sekretaris aku yang cantik tapi bawel!"
"Oke, gue kerjakan secepatnya," jawab Hilda seraya beranjak.
Key mendongak melihat Hilda yang sudah mencapai pintu, "Mm..., yang tadi itu--perasaan lo aja, kok."
"Mudah-mudahan," balasnya lalu menyeringai seolah mengatakan bahwa perasaannya benar. Hilda sangat memahami karakter sahabat-nya itu bahkan melebihi dirinya sendiri. Key sulit ditebak jika sedang jatuh hati. Ia bisa menerima seseorang yang entah benar atau tidak mencintainya. Atau bahkan sebaliknya, berusaha melupakan seseorang yang mencintainya.
***