'Aku pergi.' Dua kata yang terus saja terngiang di telinga Riyanti. Pergi? Pergi kemana Avan? Bukankah tadi ia berpesan jangan pulang sebelum dijemput? Bukankah Avan sendiri yang meminta untuk menanti seandainya nanti terlambat menjemput. Bahkan Avan sempat menghubungi dan mengabarkan akan terlambat menjemput karena ada satu penumpang lagi yang harus diantar. Riyanti meremas kuat ponselnya. Ponsel yang tadi digunakan untuk mengangkat panggilan dari Avan. Sekaligus menjadi saksi bagaimana ia berusaha menahan haru karena Avan mengabari akan terlambat datang menjemput. Ponsel itu pula yang menjadi saksi, tidak ada satupun kata yang terucap untuk merespon Avan di seberang panggilan sana. "Katanya kamu ingin jemput aku, Van. Katanya aku tidak boleh kemana-mana sampai kamu datang. Tapi,

