Pernikahan

1602 Kata
“Ih, m***m kamu!” “Aku bercanda ... Tapi papa Rei sendiri yang minta semua agar cepat terlaksana. Papa Rei ingin Dimas bisa mendapatkan keluarganya yang utuh. Papa Rei ingin agar Dimas juga bisa merasakan kasih sayang seorang ayah.” “Iya, aku mengerti. Semoga kamu selalu berbahagia bersama suami dan anak kamu. Nanti kalau Ara sudah bisa dibawa terbang, aku akan ke sana untuk nyubit-nyubit kamu.” “Kok malah nyubit sih?” “Iya, soalnya aku gemes karena nggak bisa di sana di momen bahagianya kamu.” “Nanti kalau kamu ke sini, jangan lupa bawa kado spesial ya ... Emas seratus gram.” “Gíla ... kenapa kamu nggak minta dibeliin rumah aja sekalian.” “Boleh deh, aku maunya rumah. Saudaraku ‘kan arsitek hebat, hahaha ....” Gelak tawa menghiasi perbincangan Asri dan Aulia yang hanya bisa mereka lakukan lewat panggilan vidio. “Aulia, aku mau ke bawah dulu. Penghulunya sudah datang.” Aulia mengangguk, “Tolong jangan matikan vidio call ini. Aku, Ara dan kak Rayhan ingin menyaksikan pernikahan kalian. Kamu sudah siapkan tripod bukan?” “Sudah ... ayo kita ke bawah.” Asri pun berjalan perlahan menuju lantai satu rumah mewah itu. Lantai satu itu tampak sangat ramai. Semua keluarga baik yang jauh maupun yang dekat, turut hadir di sana. Di luar, perkumpulan ojek online berlogo hijau se kota Bandung juga datang untuk menyaksikan pesta pernikahan rekan mereka. Bahkan mereka sengaja mematikan aplikasi mereka selama satu jam agar tidak ada yang menganggu para pejuang aspal itu dalam menyaksikan pernikahan Deden. Sebuah infocus dan layar besar, terpasang di bagian luar rumah. Hal itu sengaja di lakukan agar semua orang dapat menyaksikan sumpah pernikahan antara seorang desainer ternama dengan pengemudi ojek online yang sederhana. Tidak hanya itu, beberapa atribut dan logo dari aplikasi hijau penyedia transportasi online itu juga menghiasi dekorasi pernikahan. Asri bangga dengan profesi sederhana yang kini di geluti calon suaminya. Puluhan karangan bunga ucapan selamat, turut menghiasi indahnya pesta itu. Ucapan selamat itu begitu banyak, hingga sampai keluar gerbang komplek tempat Reinald tinggal. Beberapa karangan bunga sengaja tampak spesial karena berada dekat dengan gerbang masuk tenda pesta. Salah satunya adalah dari petinggi aplikasi hijau tempat Deden mengais rezeki, Kampus tempat Deden kuliah, Dinas tempat Reinald bekerja dan satu lagi dari Asri-Rayhan-Ara. Tidak lama, Asri pun duduk di sebelah Deni Raharja, pria beruntung yang bisa mencuri hati bidadari kaya. Deden dan Asri sama-sama tertunduk, mereka tidak berani menatap pasangannya masing-masing. Deden terlihat sangat gagah dan tampan dengan baju putih bersih dengan list ungu muda hasil rancangan Asri Anjani. Begitu juga dengan Asri, ia tampak sangat cantik dengan kebaya syar’i dengan warna senada. Andhini, Reinald dan pihak keluarga lainnya mengenakan pakaian berwarna ungu muda—warna kesukaan Asri. Reinald dan Andhini yang masih berdiri menyambut para tamu, dikejutkan dengan kehadiran Andre. “Papa, saatnya papa duduk di samping penghulu. Ijab kabul akan segera dilangsungkan,” ucap Andre dengan lembut. “Iya, Nak. Papa akan ke sana.” Andre juga tidak kalah tampan dengan baju berwarna ungu muda. Namun pemuda yang tengah mengikuti akademi kepolisian itu tampak gelisah, sang pujaan hati yang dinanti-nanti belum juga menampakkan batang hidungnya. Andhini menggenggam lengan Reinald sesaat sebelum Reinald duduk di sebelah penghulu. Netra sepasang suami istri yang sudah tidak muda lagi itu, tampak berkaca-kaca. Reinald mengusap tangan istrinya lalu perlahan melepaskan tangan Andhini dari lengannya. Pria itu pun duduk di samping penghulu tepat di depan calon menantunya. Sementara Andhini duduk tidak jauh dari Deden. Sang pembawa acara kembali bersuara. Ia mempersilahkan penghulu untuk memberikan sedikit kata sambutan dan wejangan. Kegelisan Andre semakin bertambah tatkala sang penghulu mulai bersuara. Sang kekasih hati belum juga datang. Akhirnya, Andre pun berjalan ke luar gerbang mencari sosok Alesha. “Andre, ngapain di luar? Ayo masuk, teh Asri’kan mau menikah, Nak ....” Santi mendorong tubuh anak majikannya agar masuk kembali ke dalam rumah. “Tunggu, Mbak. Alesha belum datang.” “Sudah jangan ditunggu lagi, tetehmu sebentar lagi akan menikah eh kamunya masih di sini.” Santi terus mendorong tubuh Andre. “Ta—tapi, Mbak—.” Andre seketika menghentikan ucapannya. Ia terpana menatap sosok bidadari cantik yang baru saja masuk ke gerbang tenda. Gadis manis dengan gaun berwarna ungu muda yang begitu cantik. Gadis itu juga menggenggam sebuah tas pesta berwarna senada. Rambunya ia ikat sedekian rupa sehingga tampak sangat anggun dan memesona. Tidak lupa, gadis itu mengenakan sebuah hiasan kepala berwarna ungu muda, menambah kesan manis dan berkharisma. “Mbak, ia datang ....” Andre berkata kepada Santi, namun tatapannya tidak pernah lepas dari Alesha. “Hai, apa aku terlambat,” ucap Alesha sesaat setelah berada di depan Andre. “Hampir dan hampir saja kamu membuatku uring-uringan. Sayang, kamu tampak sangat cantik.” Andre memuji kekasihnya yang memang begitu cantik. Bahkan beberapa tamu yang ada di luar, juga mengagumi kecantikan Alesha. “Kita kapan akan ada di sana?” goda Alesha seraha menatap layar besar yang menampilkan gambar Asri dan Deden. “Suatu saat nanti. Setelah aku lulus dari akademi, aku akan langsung melamarmu.” “Aku tunggu.” Ke dua sejoli itu masih saling tatap dengan mesra. Mereka tidak sadar jika mereka berdua jadi pusat perhatian karena mereka berdiri tepat di depan pintu. “Sudah, nanti cinta-cintaannya. Tuh tetehmu sudah bersuara, memangnya nggak mau lihat pernikahannya.” Djatmiko—sang pria tongos yang sudah bersahabat dengan Andre semenjak SMA—tiba-tiba mengagetkan Andre dan Alesha. “Astaga, iya ... Ayo kita masuk ke dalam.” Andre menggenggam tangan Alesha dan menuntun gadis itu masuk ke dalam dan berdiri tidak jauh dari tempat ijab kabul akan dilaksanakan. “Saya terima nikah dan kawinnya Asri Anjani binti Reinald dengan mas kawin seperangkat alat salat dan sebuah Alqur’an dibayar tunai.” Suara Deden terdengar lantang ketika mengucapkan kalimat itu. “Bagaimana para saksi, sah?” Sang penghulu melihat ke sekelilingnya. “SAH ... SAH ... SAH ....” Suasana yang semula tenang dan damai, seketika berubah riuh. Tidak hanya di dalam rumah, namun di luar juga. Rekan-rekan Deden tampak bersorak gembira, bertepuk tangan dan beberapa diantaranya melompat kegirangan. Para pejuang aspal yang berada di tepi jalan—karena sudah tidak ada ruang lagi di dalam tenda—juga ikut bersorak gembira ketika kata SAH terdengar menggema. Tidak lama, suasana riuh kembali hening. Sang pembawa acara memerintahkan semua tamu untuk kembali bersikap tenang. Kini, saatnya Asri dan Deden saling tatap sebagai suami dan istri. Deden akan menyematkan sebuah cincin berlapis emas putih yang ia beli dari tabungan Dimas. Ya, Deden mencongkel celengan untuk Dimas demi membeli sebuah cincin berlapis emas putih untuk istrinya. Sisanya ia pinjam dari rekan-rekannya. Ada juga dari sumbangan para rekannya yang mereka kumpulkan untuk membantu sahabat mereka. Deden enggan menggunakan uang Asri untuk membeli cincin itu. Asri terharu tatkala cincin itu terpasang manis di jarinya. Ia pun mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Tanpa bisa dicegah, air mata Asri jatuh dan menempel di punggung tangan Deden. “Cium ... cium ... cium ....” terdengar sorak sorai dari orang-orang yang menyaksikan pesta pernikahan itu. Deden tampak gemetar. Wajahnya seketika kaku dan tegang. Ia menatap Andhini dan Reinald secara bergantian. “Silahkan, cium kening dan pipi istrimu. Dia halal untukmu sekarang,” ucap Reinald dengan senyuman. Deden kembali menatap istrinya. Asri masih tertunduk, air mata bahagia tumpah ruah membasahi gaun pengantinnya. Perlahan, Deden memegangi wajah Asri dengan ke dua tangannya. Terlihat jelas ke dua tangan itu gemetar hebat. Deden pun akhirnya melabuhkan sebuah ciuman ke puncak kepala Asri. Tangis pria itu pun seketika pecah. Air matanya membasahi kerudung putih yang dikenakan Asri. “Tahan ... tahan ... tahan ....” Sang fotografer juga mulai bersorak karena ia ingin mengabadikan momen berharga itu. “Setelah menyelesaikan adegan ciuman yang begitu mendebarkan, Deden dan Asri pun melakukan sungkeman kepada ke dua orang tua Asri dan saudara-saudara Andhini. Sementara dari pihak Deden? Pria itu tidak memiliki siapa-siapa di kota ini. Yang ia punya selama ini hanyalah ke dua orang tua yang kini sudah tiada. Keluarga ayah dan ibunya pun berada jauh dan tidak terlalu dekat secara emosional dengannya. “Deden, tolong jaga Asri dengan baik. Tolong bahagiakan ia dan Dimas. Jangan sesekali membuatnya sakit dan terluka, ingat pesan papa, Deni Raharja.” Reinald memeluk Deden dan memukul pelan punggung pria itu. “Insyaa Allah, Pak. Saya tidak akan pernah menyakiti Asri.” “Hei, kamu menantu saya apa sopir saya, ha? Kamu harus terbiasa memanggilku dengan kata papa, bukan bapak, jelas!” Deden mengangkat wajahnya, lalu menatap Reinald, “I—iya, Pa. Maaf ....” Deden pun kembali tertunduk. “Deni Raharja, nama kamu sangat bagus dan berkharisma. Semoga kamu bisa tetap berkharisma dalam keluargamu. Sayangi dan cintai putri kami dengan segenap jiwa dan ragamu. Jangan pernah buat ia bersedih apalagi terluka.” Kali ini Andhini yang memberikan wejangan untuk menantunya itu. wanita cantik itu tidak kuasa menahan air matanya. “Insyaa Allah, Ma. Dengan nama Allah, saya akan mencintai dan menyayangi Asri dengan segenap jiwa saya.” Andhini mengangguk. Setengah jam berselang. Akhirnya momen haru penuh dengan air mata itu pun akhirnya usai. Aulia dan Rayhan yang juga sudah banjir air mata, tampak tersenyum melihat keluarganya berkumpul di sana. Mereka berfoto bersama dan bahagia. Tiba-tiba, Andre mengangkat ponsel Asri yang berada di atas tripod. Ia membawanya ke samping sepasang pengantin baru yang tengah berbahagia itu. “Teh Aulia, ayo ikut foto bersama,” seru Andre kepada kakaknya yang berada jauh di seberang pulau sana. Aulia kembali menyeka air matanya, sementara Rayhan berkali-kali mengusap lembut kepala istrinya. Sesekali ia menciumi puncak kepala Aulia. Rayhan paham betul, betapa sedihnya Aulia saat ini. Ia hanya bisa menyaksikan kebahagiaan itu lewat layar ponselnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN