Sarapan hari itu sudah usai sementara cuaca di luar masih saja ekstrim. Deni bersiap untuk pergi ke kantornya, sementara Asri masih enggan untuk melepas suami yang ia cintai itu. Selain memang karena cuaca buruk, Asri juga takut terjadi ssuatu pada Deni. “Sayang, aku berangkat dulu,” ucap Deni. “Kang, memangnya nggak bisa ditunda sampai hujannya reda ya? Aku kok khawatir melepas kamu dalam keadaan dan cuaca seperti ini? Lihat tuh, anginnya sangat kencang. Bagaimana kalau nanti di jalan ada pohon tumbang dan sebagainya.” Kening Asri mengkerut menatap angin kencang yang terjadi di luar rumah. Deni tersenyum seraya membelai pipi kanan Asri dengan lembut, “Kamu jangan khawatir, Sayang. Aku tidak akan kenapa-kenapa. Doakan saja agar aku baik-baik saja di jalan. Aku juga sangat berharap seger

