Prolog

1071 Kata
              “Al!” Aku hampir saja terjungkal ketika tiba-tiba ada seseorang yang menubrukku dari belakang, lalu dengan santainya mendorongku. Ketika aku menoleh, yang kulihat hanyalah ringisan tak berdosa dari sahabatku. “Jo! Cari mati, kamu?” Ya, dia Jo, dan dia perempuan. Namun, aku yakin sekali kalian akan lebih percaya kalau dia laki-laki melihat bagaimana penampilannya yang super tomboy. “Iya, cari mati. Sini kalau berani!” sahut Jo dengan tangan mengepal dan mulai berlagak ingin memukulku. Karena aku sedang malas menanggapi, aku langsung mengapit lehernya dan menariknya pergi. Ngomong-ngomong, aku  lebih suka memanggilnya dengan sebutan Jo, dikala orang lain memanggilnya Vita. Nama Vita terlalu feminim untuknya, apalagi nama panjangnya, Iva Jovita Ningrum. Benar-benar terlalu jauh antara nama dan penampilannya. “Al, nanti sore terakhir ngumpulin tugas Aljabar Lanjut kan, ya? Kalau nggak, Prof Bian nggak mau nerima lagi.” “Iya, bener. Dan aku udah kirim email dari semalem.”  “Serius?” Jo membelalakkan mata dramatis.   “Iya serius. Pasti punyamu belum!” “Udah dong, enak aja! Kirim nanti siang, palingan.” Kali ini Jo langsung meringis, menujukkan deretan giginya yang rapi. “Nyari jawaban di mana emang?”  “Enak aja nyari! Ngerjain sendiri lah!”             Aku terkekeh, lalu kami berdua berjalan beriringan menuju ruang kelas yang berada di lantai tiga. “Oh iya Al, ntar sore kamu jadi ke perpus buat nyari buku Algoritma Pemograman, nggak?” tanya Jo ketika kami hampir tiba di tangga menuju lantai tiga. “Jadi, kenapa emang?” “Nggak papa, nanya aja. Ntar aku kabarin deh, kalau misal mau nebeng pulang.” “Memangnya nggak bawa motor sendiri?” “Enggak, hehe. Tadi naik ojol, soalnya nanti siang mau ketemuan sama Mas Angga.”  “Dih! Jeruk makan jeruk!” candaku sambil bergidik. “Sirik aja, jomblo!” Sebelumnya, jangan ada yang berpikiran aneh-aneh tentang aku dan Jo. Kami sudah bersahabat sejak SMA, jadi jangan tanya lagi seperti apa level kedekatan kami. Selama kami bersahabat, kami belum pernah digosipkan pacaran. Selain karena penampilan Jo yang tomboy, Jo juga sudah memiliki pacar sejak dia masih kuliah S1. Pacar Jo anak Teknik Mesin dan berada di tahun yang sama dengan kami.  ***             “Terimakasih, Pak,” ucapku ramah pada petugas perpustakaan setelah aku menerima kembali KTM-ku. “Sama-sama, Mas.”               Sore ini, aku jadi mampir ke perpustakaan sebelum pulang. Selain karena aku ingin meminjam buku Algoritma Pemograman, aku hampir saja lupa mengembalikan buku Analisis Fungsional yang aku pinjam minggu lalu dan harus dikembalikan minggu ini. Setelah menyelesaikan urusan dengan perpustakaan, aku tidak langsung pergi dan memilih untuk tingal di sana sampai Jo datang. Sekitar setengah jam yang lalu, anak itu mengirimku pesan agar jangan pulang terlebih dahulu karena dia jadi nebeng pulang. Kebetulan rumah kami memang searah, dan rumahku lebih jauh dari rumah Jo. Dengan kata lain, Jo mau ikut pulang denganku atau tidak, aku tetap akan melewati jalan depan pagar rumahnya. ...             Satu jam berlalu, Jo belum juga datang. Lagi dan lagi aku melirik arloji di tangan kiriku untuk melihat jam. Sudah jam lima lewat, tapi Jo belum tampak batang hidungnya. Bahkan saat ini aku sudah duduk di depan perpustakaan karena perpustakaan tutup jam setengah lima.             Menit demi menit berlalu, Jo belum datang juga. Aku terus mengiriminya pesan, namun tak mendapat balasan sama sekali. Ketika aku mencoba untuk menelfonnya, panggilanku dibaikan.  “Sore, mas.” Aku langsung mendongak ketika tiba-tiba ada yang menyapaku. Ternyata beliau satpam fakultas. “O-oh sore, pak. Gimana?” “Fakultasnya mau saya kunci, mas. Besok weekend, jadi fakultas dikunci lebih awal. Apalagi gedung pasca sarjana kalau hari jumat pasti udah mulai sepi dari jam empat.” “Ah, iya, pak. Ini saya masih nunggu teman saya, tapi dia nggak datang-datang juga.” “Memang di mana, mas?” “Kurang tahu, pak. Tapi dia meminta saya supaya nunggu di dekat perpustakaan.”  “Coba dihubungin, mas. Solanya beneran udah mau ditutup. Saya juga mau pulang.” Aku mendadak merasa tidak enak pada beliau, karena memang gedung pasca sarjana sudah sepi sejak tadi. “Oke, pak. Saya coba telfon lagi.” Aku kembali menelfon nomor Jo. Aktif, namun tidak dijawab. Ini anak ke mana, sih?  “Nggak di angkat, mas?” tanya Pak Satpam begitu melihatku bolak-balik menelfon. “Enggak, pak. Atau gini, saya cari dia keliling fakutas dulu. Sepuluh menit, pak. Saya lari. Gimana? Soalnya teman saya ini tukang tidur. Saya takut kalau dia ketiduran di kelas.”             Mendengar penawaranku, beliau tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk setuju. “Sepuluh menit saja tapi ya? Saya tunggu di sini.” “Siap, pak. Kalau gitu saya cari dulu.”             Tepat setelah itu, aku segera berdiri dan mulai berlari mengitari fakulas lantai satu sambil terus memanggil Jo dan sesekali menelfonnya. Fakultasku hanya memiliki empat lantai, jadi tidak terlalu melelahkan andai aku mengelilinginya.             Lantai satu nihil, aku sama sekali tidak menemukan keberadaan Jo. Aku langsung naik lantai dua melakukan hal yang sama. Namun lagi-lagi nihil, sampai aku di lantai empat. “Ini anak di mana, sih?”             Aku terus bermonolog dan menelfon nomor Jo lagi dan lagi. Keningku berkerut samar ketika tiba-tiba aku mendengar dering ponsel milik Jo terdengar. Aku sangat hafal dering ponselnya, karena anak itu menggunakan dering lagu metal yang super berisik.  Aku terus menelfonnya dan mengikuti arah di mana dering itu berasal. “Kamar mandi?” aku menggumam ketika mendengar dering ponsel Jo semakin terdengar nyaring ketika aku mendekat ke arah kamar mandi.             Tanpa menunggu lama, aku langsung masuk kamar mandi putri. Ini bukan pelanggaran, kan? Toh fakultas sudah sangat sepi dari tadi. “Jo! Kamu ketiduran di kamar mandi? Jo?” Aku terus bermonolog sambil membuka satu persatu kamar mandi putri lantai empat.             Nihil. Aku tidak menemukan Jo ada di kamar mandi. Begitu aku keluar, aku kembali menelfon, dan lagi-lagi aku mendengar dering ponsel Jo terdengar nyaring. “Kamar mandi putra? Yang benar saja?”             Akhirnya aku melangkah ke kamar mandi putra dengan ragu. Tanganku mulai gemetaran ketika dering ponsel Jo terdengar semakin nyaring. Aku tidak membuka satu-persatu pintu kamar mandi putra, dan langsung fokus pada pintu kedua dari ujung.             Klutak!             Ponselku seketika jatuh ke lantai begitu aku membuka pintu itu. Nafasku tersengal hebat, juga kepalaku mendadak pening tidak karuan. Saat ini, di dalam kamar mandi putra pintu nomor dua dari ujung, Jo tergeletak tak bernyawa di lantai dengan posisi kepala menyandar di tembok dan darah mengalir di hidung dan telinganya.    “JO!” ***  . . Warning ! Ini hanya FIKTIF BELAKA, ya... 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN