Bram memperhatikan Meggie yang tiba-tiba gelisah sementara ia sudah menghentikan mobilnya tidak jauh dari pintu gerbang dari rumah besar berwarna putih dan bergaya klasik. “Ada apa?” “Entahlah. Aku ragu apakah aku bisa masuk ke rumah itu atau tidak,” jawab Meggie pelan. “Kenapa? Bukankah itu rumahmu?” Bram mengrenyit menatap Meggie. “Seingatku, aku hanya seminggu tinggal di rumah itu. Karena marah akhirnya aku meninggalkan rumah dan memilih tinggal di Jakarta,” jawab Meggie. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke hotel lebih dulu. Setelah cukup istirahat, baru ke sini?” Bram mengusulkan sambil melirik Meggie yang entah mengapa begitu gelisah. “Sepertinya tidak perlu. Di depan sudah ada Arimbi bersama dengan Mom,” jawab Meggie menunjuk ke depan. Bram

