Rose Bisa Lari tetapi Tak Bisa Bersembunyi
Rose tidak membutuhkan mata ketiga di punggung untuk dapat menyadari bahwa ada seseorang yang diam-diam mengikutinya sejak turun dari bus. Perasaannya tidak tenang, nalurinya berkata dia harus segera meloloskan diri dari orang asing di belakangnya, tetapi dia tidak tahu harus ke mana. Malam semakin larut sementara jalan yang dilaluinya begitu lengang dan sunyi, hanya terdengar suara langkah kakinya sendiri bercampur degub jantungnya yang bertalu-talu.
Rose nyaris memekik saat bayangan orang yang berada di belakangnya memanjang, pertanda bahwa dia semakin dekat. Rose memutuskan untuk lari tanpa menoleh ke belakang. Tak lama kemudian, telinganya menangkap suara langkah kaki lain yang juga sedang berlari. Oh, tidak! Orang itu mengejarnya.
Sembunyi! Sembunyikan dirimu! Rose memaksa otaknya untuk berpikir sebelum ketakutan benar-benar melumpuhkan akalnya. Yang ada di hadapannya saat itu hanyalah sebuah gedung tua bekas rumah sakit yang terbakar. Di hari yang lain, Rose akan berpikir seribu kali untuk memasuki gedung itu. Namun dia tidak punya pilihan.
Gedung itu sudah tak berpintu, seakan-akan memang sudah dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Rose. Setelah berada di dalam, Rose berhenti sejenak sambil mengatur napasnya yang memburu. Dia butuh beberapa saat untuk dapat menyesuaikan matanya dengan kegelapan.
Tap, tap, tap …. Rose mendengar langkah kaki.
Itu pengejarnya. Dia tahu Rose ada di dalam. Pengejarnya berdiri di depan pintu. Sinar rembulan di belakangnya menciptakan siluet seorang pria bertubuh tinggi besar dengan sebilah pisau di tangan. Seketika Rose lupa untuk bernapas.
Dengan panik, Rose kembali berlari. Remang cahaya dari lampu di bangunan sebelah yang menerobos masuk ke tiap jendela terbuka di gedung itu, membimbingnya menaiki tangga. Sesampainya di lantai dua, gadis itu memasuki ruangan yang pertama kali dilihatnya. Samar-samar dia melihat sebuah meja kayu usang di sudut ruangan. Rose bergegas melesakkan tubuh mungilnya di balik meja, berjongkok, dan berdoa dirinya menjadi tak kasat mata.
Tap, tap, tap …. Rose mendengar langkah kaki.
Itu masih pengejarnya. Dia memasuki ruangan tempat Rose bersembunyi. Pria itu berkeliling pelan-pelan, tanpa suara, tetapi Rose tak perlu melongok untuk tahu dia masih ada di sana. Pria itu membawa serta aroma parfum yang memuakkan. Aroma kematian yang tercium semakin dekat, semakin dekat, hingga membuat Rose akhirnya menengadahkan kepala. Itu dia! Pertemuan pertama dan terakhir kalinya antara Rose dengan pengejarnya.
Pisau telah diayunkan. Lengkingan mengerikan diperdengarkan. Kemudian hening. Darah merayap memenuhi lantai, merembes di bawah sepatu seorang pria. "Mati! Mati! Mati!" Dia bergumam.
Banten, 24 Mei 2021