"Sabarlah Raffi! Kalau kau tergesa-gesa dia malah kabur!" Benar juga. Raffi mulai menggunakan logika yang menekan hasratnya ingin mendekati wanita yang dalam relung hatinya sudah sangat dirindukannya. "Dia pasti Mutia." Sehingga sekarang tangannya juga mengepal menahan emosi. "Aku tak bisa biarkan Mutia membenciku dan salah paham." "Hei, belum tentu dia Mutia." Jefri masih bersikeras. "Ingat, yang kukatakan tadi, sebelumnya kau bersama dengan Mia kau sendirian tanpa status selama dua tahun. Apa kau tidak bisa berpikir harusnya dia kembali padamu?” Mereka berdua masih ada di lobby Mall saat Jefri mengingatkan. "Raffi, berapa kali aku harus mengatakan padamu kalau dia memang Mutia, pasti sulit untuknya harus mengasuh Tiara! Apalagi dia mungkin akan berpikir kalau dia putrimu. Ter

