"Apa rencanamu setelah ini, Nan?" ucap Adara. Semakin mempererat pelukannya pada pinggang Adnan. "Aku belum tahu. Kita tunggu kabar dari pak Anton saja, ya. Setelah itu, baru kita pikirkan lagi rencana apa yang akan kita tempuh." Adnan semakin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Adara. Menghirup dalam-dalam aroma yang begitu menenangkan baginya. Setiap pagi beginilah mereka berdua. Selesai mandi dan sarapan, kembali berbaring di kamar. Agar Adnan tidak merasa pusing dan memuntahkan kembali makanan yang ia makan. Dan aroma tubuh Adara, adalah penawar rasa mual dan pusing tersebut. Tiga hari sudah semenjak kejadian mengerikan tersebut. Seluruh aset perusahaan serta harta kekayaan Handoko, telah kembali ke tangan Adara dan Adnan. Namun, hingga detik ini pasangan suami istri itu belum b

