Lelah. Itulah yang dirasakan oleh Adnan dan bawahannya. Mereka berempat berlomba untuk menguap dan mengusap wajah mereka masing-masing untuk menghilangkan rasa kantuk yang mulai menyergap mereka. Wajar saja, karena pukul sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. "Kita selesaikan besok pagi saja," ucap Adnan. Seraya meregangkan otot-otot tubuhnya yang mulai terasa lelah dan ingin diistirahatkan. Ia juga melirik jam yang menggantung di kamar tersebut. "Jam sepuluh malam," gumamnya. "Saya setuju, Pak. Besok subuh kita lanjutkan." Okta menyahut. Sedangkan Riki hanya mengangguk karena ia benar-benar sudah mengantuk. Jesi yang melihat para pria sudah merapikan berkas-berkas, ikut membantu agar mempercepat rencananya. Ingin rasanya saat ini ia menyeret Okta dan Riki keluar dari kamar tersebu

