Walaupun hatinya berat dan menolak dengan keras untuk pindah ke rumah yang baru, akan tetapi Adara harus tetap ikut dengan keputusan Adnan. Begitupun dengan kepergian sang suami ke Surabaya pekan depan. Mau tidak mau, rela atau tidak. Adara harus melepaskan Adnan untuk pergi. Dari mulai selesai sarapan, Adnan sudah sibuk menyusun dan mengemasi barang-barang yang akan dibawa. Tidak semua. Hanya pakaian dan beberapa dokumen penting saja. Karena Anton sudah mengisi rumah baru mereka, lengkap dengan perabotannya. Begitu pun dengan dua orang asisten rumah tangga, dan dua orang security. Saat Adnan sibuk mengemasi barang-barang mereka, Adara hanya diam memperhatikan. Semenjak semalam, belum ada satupun kata yang terucap dari bibirnya. Padahal Adnan selalu mengajaknya berbicara. Bahkan, Adnan

