Di dalam mobil itu, Nesya tampak gelisah. Dia mengetuk-ngetukan jemarinya pada tas selempang yang diletakan dalam pangkuan. Sering kali melirik pada jam tangan yang melingkar di lengan kirinya. Dia begitu gelisah dalam duduknya, membuat pria paruh baya yang duduk di kursi kemudi kini menoleh padanya. “Kenapa, Nes? Gelisah banget kayaknya.” “Iya, Pa. Bentar lagi jam 7 ini, aku pasti telat,” gerutu Nesya, bibirnya sejak tadi terus berdecak. Sudah tak sabar ingin cepat-cepat sampai di sekolahnya. “Lagian sih kenapa bangunnya kesiangan?” “Aku semalam ....” Gadis itu tak melanjutkan, membuat ayahnya yang bernama Surya itu mendengus samar. “Semalam begadang gitu, maksudnya?” Nesya cengengesan tak jelas, tebakan sang ayah tepat sasaran. “Iya, Pa. Nonton maraton drama favorit aku soalnya.”

