Nesya menghela napas melihat apartemen Alvino yang benar-benar seperti kapal pecah. Dia risih dan tak suka melihatnya karena itu berinisiatif untuk membereskannya. Nesya memulainya dengan membuang kaleng-kaleng bir yang sudah kosong. Lalu membenarkan posisi barang-barang seperti kursi yang diletakan sembarangan. “Ya ampun si Vino, udah dibeliin obat malah gak dipake,” gerutunya begitu menemukan plastik berisi obat-obatan yang tergeletak di lantai. Lalu terakhir dia membereskan tempat tidur. Selimut dia lipat dengan rapi. Bantal dan guling yang tercecer di lantai pun dia kumpulkan menjadi satu tumpukan karena sekarang dia sedang merapikan sprei. Nesya terlalu fokus merapikan sprei hingga dia tak menyadari seseorang berjalan mengendap-endap di belakangnya. Gadis itu tersentak ketika ada

