Apa yang terjadi pada Warna?

1224 Kata
Masih belum selesai disitu, Aisya menggandeng tangan Syarif menuju penjual nasi pecel lesehan. “Bu, nasi pecelnya dua ya. Satu lauknya ayam,” Aisya mengalihkan pandangannya kearah Syarif. “Kamu apa, Kak?” tanyanya karena terkadang Syarif suka telur tapi juga suka ayam saat memesan nasi pecel. “Ayam juga.” Jawab Syarif. “Berarti dua nasi pecel lauknya ayam semua ya, Bu.” Aisya kembali memesan nasi pecel sesuai request dari suaminya. “Siap, Mbak. Silahkan duduk.” Ucap wanita itu mempersilahkan Aisya dan Syarif untuk duduk diatas terpal yang telah disediakan. Ditempat itu sudah disiapkan air mineral gelas yang diatasnya ada sebuah kertas besar bertuliskan “Air gratis”. Aisya menyenggol lengan Syarif sembari menunjuk tulisan tersebut dengan matanya, Syarif pun ikut memperhatikan dan tersenyum melihatnya. Ternyata sebuah warung kecil yang berpindah-pindah tempatnya, masih dapat bersedekah, meski bukan dalam skala yang besar, namun hal itu dapat menyentuh hati keduanya. “Kita aja belum tentu bisa melakukannya ya, Kak.” Ucap Aisya yang merasa pemilik warung itu jauh lebih mulia hatinya daripada dirinya. Syarif mengangguk, “Ini pengingat buat kita juga, ibu itu saja bisa bersedekah dalam hal sekecil ini, tapi kenapa kita tidak?” ucap laki-laki itu. “Setelah ini kita ke rumah Abah ya.” Tambahnya langsung berinisiatif. “Mau sedekah ke anak yatim kan?” Aisya memastikan, ia hampir lupa bulan ini tidak ke tempat Abahnya untuk menyantuni anak-anak yatim yang ada dipondok pesantren tersebut. “Iya, sekaligus buat istighosah kecil-kecilan supaya keluarga kita diberikan kebahagiaan selalu.” Ucap Syarif, setelah melewati masa-masa yang berat untuk Aisya, dan kini perempuan itu bisa tersenyum, membuat Syarif ingin membagi kebahagiaan itu pada anak-anak lain yang telah ditinggal orang tuanya. “Siap bosss.” Ucap Aisya sembari nyengir, memperlihatkan giginya yang berjejer putih. “Permisi, silahkan Mbak, Mas. Maaf menunggu nggeh.” Ucap wanita itu. “Nggak apa-apa, Bu.” Ucap Aisya. Setelah menghabiskan nasi pecel yang dirasa mereka sangat lezat, dan meminum air mineral gratis yang disediakan disana. Syarif beranjak. “Kemana, Kak? Bentar dulu dong, makanannya belum turun nih.” Ucap Aisya. “Iya nggak apa-apa, kamu disini dulu. Aku mau ke toko yang diseberang sana.” Ucap Syarif sembari menunjuk toko sembako yang ada diseberang jalan. “Ngapain, Kak. Ikut..” Ucap Aisya. “Bentar, kamu disini aja.” Balas Syarif yang sudah menghilang begitu saja, laki-laki itu berlari kecil menuju tepi jalan, menunggu jalanan sedikit lengang dari kendaraan lalu menyeberang. Aisya masih terus memperhatikan suaminya itu, apa yang akan dibelinya, seolah tidak ada waktu lain saja. Tidak lama kemudian, Syarif sudah kembali dengan sekardus air mineral. Laki-laki itu mengangkatnya, menyeberangi jalanan, dan menghampiri Aisya yang melongo melihatnya. Syarif membuka kardus tersebut, lalu mengeluarkan isinya dan menatanya dengan rapi diatas tumpukan air mineral yang sebelumnya sudah ditata oleh penjual nasi pecel tersebut. Setelah semuanya sudah rapi, tulisan tadi diletakkannya paling atas dari tumpukkan air mineral. Aisya yang melihatnya akhirnya mengerti maksud laki-laki itu. “Masya Allah, terima kasih ya, Mas. Sudah ikut berbagi.” Ucap wanita yang sejak tadi juga ikut memperhatikan setiap tingkah Syarif. Syarif tersenyum simpul, lalu menghampiri wanita itu. “Semuanya berapa, Bu?” tanya Syarif. “Ndak usah, Mas. Gratis buat samean.” Ucapnya yang kagum dengan perliaku Syarif. “Looh, nggak Bu. Ini kan jualan ibu, saya harus membayarnya. Saya juga berterima kasih untuk air minum gratisnya.” Ucap Syarif yang terdengar sangat tulus, membuat wanita itu kembali tersenyum. “Dua puluh ribu, Mas.” Ucap wanita itu pada akhirnya. Dan Syarif pun menyodorkan dua lembar uang pecahan sepuluh ribu. Lalu menghampiri Aisya kembali. “Ayo, mau kemana lagi?” tanya Syarif pada perempuan itu. “Mau peluk kamu, Maaas…” Ucap Aisya dengan mata nanarnya, panggilan untuk laki-laki itu pun tiba-tiba berubah. “Syaa.” Syarif memperingati agar perempuan itu tidak berlebihan. Aisya langsung menggandeng tangan laki-laki itu, dan mendaratkan kepalanya dilengan Syarif. “Maas, aku bersyukur banget punya kamu. Sungguh.” Ucapnya yang tidak bisa berkata apa-apa, ia merasa Allah sangat baik telah menyatukannya Bersama Syarif. Laki-laki yang tidak pernah terduga dalam bersikap, namun sangat tulus. Syarif yang mendengarnya pun tersenyum simpul, ia merasa bersyukur telah memiliki perempuan seperti Aisya, hanya perempuan itu yang membuatnya semakin cinta tanpa meninggalkan Tuhan-Nya. “Sejak kapan kamu merubah panggilanku?” tanya Syarif, kini mereka melangkah menuju mobil, semua permainan telah mereka coba dan sudah waktunya untuk mereka pulang. “Sejak ibu tadi memanggilmu Mas, rasanya sweet juga kalo aku memanggilmu seperti itu juga. Boleh kan, Mas?” tanya Aisya sembari menggoda. “Yaa, boleh saja.” Jawab Syarif datar. Tiba-tiba ponsel Aisya yang ada didalam tas berdering. Perasaannya menjadi tidak enak, seolah ada sesuatu yang terjadi pada perempuan itu. "Bentar Mas, Dokter Warna menelpon." Ucap Aisya setelah melihat siapa yang sedang menghubunginya. "Halo Dok?" Aisya mulai menjawab panggilan tersebut. "Maaf, apa anda kerabat dari pemilik ponsel ini?" Ucap seseorang diseberang yang sudah pasti bukan suara Warna. "Benar. Maaf apa yang terjadi?" Mungkin saja Aisya adalah orang terakhir yang dihubungi Warna, sehingga pria diseberang dapat menghubunginya. "Minta tolong anda segera kesini, perempuan ini harus segera ditolong. Saya akan mengirim lewat sms alamatnya." Suara itu langsung terputus. Dan sms segera masuk ke ponselnya, dalam pesan tersebut berisi alamat keberadaan Warna. Aisya langsung khawatir. Tadi saat di rumah Alfa, Aisya tidak menemukan perempuan itu dan belum sempat berpamitan. Tapi sekarang seseorang menghubunginya dan memberitahunya untuk segera menolong Warna. Apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan itu. "Mas, ayooo." Aisya segera menarik tangan Syarif untuk ikut dengannya. Laki-laki itu, yang semula sedang melihat pernak-pernik oleh-oleh pasar malam sembari menunggu Aisya yang sedang menelepon, terhenyak karena ditarik oleh Aisya. "Ada apa? Kemana?" "Terjadi sesuatu dengan Dokter Warna, Mas." Aisya terlihat khawatir. Dan Syarif hanya terdiam. Perasaannya tiba-tiba tidak enak dan gusar. Entah apa yang terjadi. *** Aisya dan Syarif sampai ditempat yang diberitahukan oleh orang tersebut melalui pesan singkat. Pria itu menghampiri saat tau kedatangan keduanya. “Maaf, apa anda keluarga dari mbaknya?” tanya pria itu yang menunjuk kearah perempuan, yang sedang ditolong oleh wanita lain. Perempuan itu adalah Warna, ia terlihat terkulai lemas, dengan darah segar mengalir di ujung bibirnya. “Ya Allah, Warna..” Aisya langsung berlari menghampiri perempuan itu, ia merangkulnya. “Apa yang terjadi, Bu?” tanya Aisya pada wanita yang menolong Warna sebelumnya. “Mbak ini dibegal, semua barang-barangnya diambil oleh pembegal itu, mungkin mbaknya melawan, jadi bibirnya terluka.” Ucap wanita itu. “Cepat bawa ke rumah sakit, Sya.” Ucap Syarif sembari meminta orang yang ada disana membawa perempuan itu masuk kedalam mobilnya. Didalam mobil, Aisya berusaha mengajak bicara Warna. Perempuan itu sadar, namun tatapannya kosong, seolah pikirannya sedang terhantam oleh kejadian mengenaskan. “Warna, sebaiknya kamu beristirahat dulu ya.” Aisya berusaha membuat perempuan itu lebih tenang. Namun sepertinya tidak berhasil, Warna hanya melamun sembari meneteskan airmatanya. Beberapa waktu berlalu, Syarif dan Aisya sudah membawa Warna ke rumah sakit. Seorang dokter laki-laki menghampiri mereka, ternyata ia teman dokter sepraktek dengan Warna. “Apa yang terjadi dengan Dokter Warna?” tanya laki-laki itu, yang diketahui dari name tagnya bernama Dekala. Ia langsung menyiapkan brankar dan dibantu perawat meletakkan Warna ditempat tersebut. “Dokter Warna tadi dibegal, dan dia sedang terluka.” Jelas Aisya yang ia sendiri tidak tau bagaimana kejadian sebenarnya. “Baik, jangan khawatir, saya akan berusaha menolongnya. Mohon tunggu diluar.” Dengan cepat Deka membawa Warna masuk kedalam ruang UGD.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN