Nayra memandang kedepan. Melihat sawah-sawah hijau dan pegunungan yang indah. Dia tak menyangka kalau Farzan akhirnya mempercepat rencananya untuk membuat rumah didesa. Nayra tak berhenti tersenyum. Kini dia bisa kapan saja datang kedesa saat pikirannya jenuh berada di kota. Risa menghampiri kakaknya yang sedari tadi hanya tersenyum melihat pemandangan didepannya. "Mbak Nayra, mbak segitu jenuhnya ya dikota sampai ngelihat sawah aja senyum-senyum sendiri." Ucap Risa "Bukannya gimana dek. Mbak cuma senang aja. Kita lahir disini dan saat berada disini itu mbak merasa senang." "Iya, tapi kita masuk kedalam dulu, kasihan anak-anak nyariin ibunya." Kata Risa. "Jadi, anak-anak sudah bangun?" Tanya Nayra. "Udah, mbak aja yang gak dengar mereka nangis dari tadi. Untung mas Farzan langsung ne

