بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Benar apa kata orang, yang luarnya baik, belum tentu baik pula dalamnya. Yang luarnya buruk, belum tentu dalamnya juga buruk
Seperti biasa, Aiza menyiapkan makanan untuk sarapan pagi. Gerakannya tidak secepat biasa, gadis itu lebih banyak melamun.
Mario tiba di meja makan, Aiza masih setia menata piring untuk tiga orang. Dipandangnya gadis itu dengan teliti, begitu dalam.
"Bukankah kamu sendiri yang sudah membuka cadar Aiza sampai akhirnya Ayah melihat wajah cantik dan mulusnya itu?"
"Aku tidak pernah melakukan itu."
"Kamu yang melakukannya, sewaktu kamu dalam pengaruh alkohol."
"Benarkah?"
"Iya. Malam itu kamu mabuk berat, Mario. Dengan lancangnya kamu telah membuka kain itu dari wajah Aiza. Dan bodohnya, kalian berdua sedang ada di kamar Ayah. Ini benar-benar keberuntungan bagi Ayah, keadaan benar-benar mendukung Ayah untuk melihat keindahannya."
Mario jadi ingat suatu pagi, dia pernah bangun dan menyadari bahwa dia tertidur di kamar Marteen.
Ya Tuhan, katakan, kalau semua itu salah!
"Ayah tidak bisa asal mengarang cerita." Mario masih berupaya mengelak.
"Siapa yang mengarang? Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanya langsung Aiza."
"Tidak, aku tidak mungkin melakukan itu." Mario berjalan mundur, tidak terima dengan kenyataan yang baru ia dengar. Kepalanya menggeleng.
"Seharusnya Ayah berterima kasih padamu. Berkat kamu, Ayah menemukan seseorang yang begitu spesial."
Mario tercenung lama, otaknya berpusing untuk mengingat kembali.
Semoga salah.
Semoga semua itu tidak benar.
"Itu tidak mungkin." Mario keluar dari ruang kerja Marteen, menutup pintu dengan hentakan keras sesuai intensitas kekecewaan.
"Untuk apa kamu masih menyimpan tiga piring itu?" Mario melempar pertanyaan, menghentikan gerakan Aiza, perempuan itu mendongkak.
"Untuk..."
"Menjaga-jaga, jika sewaktu-waktu orang tuaku duduk di sini dan makan bersama?" potong Mario gamblang.
Aiza mengangguk seadanya.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan itu, sedangkan kamu sendiri yang akan menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang tuaku."
Lagi-lagi gerakan Aiza tersekat ketika tangannya sedang menuangkan air ke dalam gelas. Pelan-pelan, teko yang ada di tangan yang tiba-tiba gemetar diletakkan kembali ke atas meja, melempar pandangan pada Mario yang kala itu tersenyum pahit.
"Ternyata kamu tidak lebih dari seorang gadis munafik."
Blam!
Ucapan itu begitu menohok, menembus organ paling dalam, Aiza mati kutu.
"Aku pikir, perempuan berpakaian syar'i dan bercadar seperti ini..." Mario mengamati tubuh Aiza dari bawah sampai atas dengan tatapan mencemooh, hina sekali. "Memiliki hati yang baik. Tapi aku salah, bahkan salah besar." Mario mengembuskan napas, berjalan beberapa langkah menjauhi meja makan---lebih tepatnya, membelakangi Aiza yang sedang menggigit bibir bagian dalam di balik niqab.
Di sana, Mario melipat tangan di bawah d**a, menerawang ke depan.
"Benar apa kata orang, yang luarnya baik, belum tentu baik pula dalamnya. Yang luarnya buruk, belum tentu dalamnya juga buruk. Aku pikir, itu hanya pemikiran orang bodoh. Tapi kenyataannya, sekarang aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, bahwa perkataan itu memang benar adanya."
Aiza masih diam dengan kaki yang mulai layu. Udara yang masuk lewat cuping hidung, enggan keluar lagi. Tertahan hingga menimbulkan tekanan di d**a.
"Bagaimana mungkin, gadis alim seperti dirimu mau-maunya menikah dengan laki-laki beristri, dan sudah memiliki seorang anak berumur 25 tahun hanya karena uang?" Mario berbalik, melihat punggung Aiza yang mematung tanpa bergerak.
"Katakan Aiza! Apa mau kamu?! Kamu butuh uang? Baiklah, akan aku berikan. Berapa? Berapa miliar yang kamu butuhkan?"
Mario berjalan cepat, mendekati Aiza dan berdiri di di hadapannya dengan wajah mengeras. Tangan lelaki itu terangkat, mencengkeram kedua bahu Aiza, menatap perempuan itu tajam dengan kilat berapi.
"Ayo katakan!"
"Lepaskan saya! Jangan menyentuh saya! Bukan mahram!" Aiza mundur beberapa langkah, melepas cengkeraman Mario yang menimbulkan rasa nyeri.
"Kamu begitu pandai menjaga diri. Tapi sayang, kamu tidak pandai menjaga kehormatan seorang wanita."
"Tuan tidak tahu apa-apa tentang saya! Jadi berhenti menghina saya!"
"Ternyata kamu lebih busuk dari seorang pelacur."
Seperti tersambar halilintar, kalimat itu menghantam d**a. Membuat mata memanas, ingin mengeluarkan apa yang sedari tadi mendesak-desak.
"Jaga ucapan Anda!"
"Aku akan berhenti bicara. Sampai kamu bicara, berapa uang yang kamu butuhkan? Akan aku beri, tapi setelah ini, aku ingin kamu pergi dari sini."
Aiza tidak menjawab apa-apa saking shock. Ternyata Mario sekasar dan sejahat itu. Aiza tidak menyangka, Mario merendahkan dirinya dengan sedemikian hina. Sambil mengacak rambutnya frustrasi, pria itu mendekat lagi.
"Katakan Aiza..." lirihnya, dengan suara pelan, berbeda jauh dengan tadi. Bahkan raut wajahnya melunak. Seperti sudah kelelahan.
"Anggap saja, ini sebagai permintaan maafku, karena pernah melepas cadar kamu."
Mata Aiza mengedip-ngedip tak percaya. Jadi Mario tahu? Tapi kenapa dia bersikap kasar seperti ini? Bukankah dia yang menyebabkan Aiza berada dalam keadaan pelik? Sungguh jahat sekali dia!
"Lalu setelah Tuan melakukan hal fatal itu, Tuan menghina saya dan membentak saya? Seolah sayalah orang yang paling salah?"
"Untuk membuat kamu sadar, kalau kamu tidak pantas bersanding dengan lelaki tua bangka itu. Dan kamu tidak pantas, menjadi Ibu dariku."
"Tuan mengatakan, saya adalah wanita munafik. Akhlak saya tidak sesuai dengan pakaian saya. Apa Tuan tidak sadar? Kalau itu begitu menyakitkan."
"Aku yang akan membiayai pengobatan Ibu kamu. Jadi, hentikan pernikahan itu."
"Sudah terlambat. Ke mana saja Tuan sejak kemarin-kemarin?"
"Kamu tahu rasanya ditinggal orang yang kita cintai?"
"Dan Tuan tau, rasanya ketika harus menikah dengan lelaki yang pantas menjadi seorang Ayah, lalu mendapat cemoohan dari orang lain?"
"Ini belum terlambat. Aku masih bisa menghentikan Ayah."
"Lakukanlah kalau bisa." Ada sorot pengharapan yang tergambar di mata bening Aiza. "Lakukanlah..."
Mario membalas dengan pejaman mata, meyakinkan.
"Ayah tidak akan mengizinkan kamu melakukan itu, Mario!"
Koor lantang yang menggelegar itu membuat Mario dan Aiza melempar pandangan ke asal suara. Ada Marteen, yang berdiri tegak memasang tampang bengis.
"Janji tetaplah janji. Aiza sudah berjanji untuk menikah dengan Ayah. Sudah Ayah katakan, kamu tidak perlu ikut campur."
Ya Allah, mengapa masalah jadi serumit ini?
Bantu hamba.
Marteen tiba sana, memandang Mario dan Aiza secara bergantian, mirip seseorang yang sedang mendapati dua orang pengkhianat.
"Aku perlu ikut campur. Ini ada sangkut-pautnya dengan Ibu. Jadi aku berhak ikut campur!" Pandangan Mario terfokus pada Marteen. Suara tingginya kembali berdengung.
"Katakan pada lelaki ini, Aiza. Kalau kamu telah menerima lamaran saya, jadi kamu dilarang untuk menarik lagi jawaban itu," ujar Marteen melirik Aiza yang dirundung kebingungan.
"Kamu wajib memilih pasangan hidup. Jadi pilihlah yang benar-benar. Karena dia akan menjadi teman hidup sampai mati. Kamu akan tersiksa dengan pernikahan ini." Mario menimpali.
Aiza semakin kelimpungan.
"Hari ini ibumu dirujuk ke rumah sakit paling besar, dan besok dia dioperasi. Sengaja saya mempercepat. Agar dia bisa cepat sembuh, seperti apa yang kamu inginkan. Jika kamu menolak lamaran saya lagi, saya tidak akan segan-segan membuat ibumu menderita. Saya adalah orang besar, apa pun bisa saya lakukan. Sedangkan Mario? Hah, dia hanya bekerja di bawah saya. Bisa apa dia?"
Kebenaran dan ancaman itu terdengar horor di telinga Aiza.
Melihat Aiza yang mulai berpikir lagi, Marteen bersuara. "Saya tidak akan main-main dengan ucapan saya, Aiza! Camkan itu!"
"Jangan degarkan dia!" sambung Mario.
"Mario! Kamu dilarang ikut campur!"
"Aiza, apa kamu tega menjadi orang ketiga dalam pernikahan orang tuaku?! Kamu benar-benar..."
"Cukup, Tuan!" bentak Aiza yang mampu mengunci rapat-rapat bibir Mario. "Saya akan tetap pada keputusan awal. Janji tidak boleh diingkari. Anggap saja, ini sebagai balasan. Karena Tuan sendiri, yang menciptakan masalah sebesar ini. Iya, ini semua terjadi karena Anda, tuan Mario yang terhormat."
Hening sesaat.
Setelah mengucapkan kata-kata jemawa itu, Aiza berlalu meninggalkan Mario yang kalap dalam diam.
"Gadis pintar," puji Marteen penuh kemenangan.
Mario melempar tatapan sengit.
Marteen tertawa angkuh seraya berjalan keluar dari rumah, untuk segera pergi bekerja dan mempersiapkan pernikahan paling fenomenal. Pernikahan paling unik, karena bisa menikahi perempuan muda yang begitu menggoda. Dan yang paling utama, dia masih sangat baru. Hasrat untuk segera memiliki kian menggebu-gebu.
Mario semakin membenci Marteen. Lelaki k*****t itu benar-benar kelewatan. Iris cokelat Mario menjangkau kepergian Marteen dengan sorot antipati.
Jika anak lain selalu mengidolakan ayahnya yang selalu dipanggil jagoan, tapi Mario tidak. Justru berbalik. Marteen bagai musuh yang patut ditaklukan.
Baiklah. Jika dengan cara ini tidak bisa membuatnya menghentikan pernikahan itu, Mario harus menggunakan cara lain.
Yang Mario tahu, Marteen adalah pria tua yang tidak bisa dibantah ketika permintaannya tidak dituruti. Jika dia sudah menurunkan titah, maka harus dikerjakan. Jika dia menginginkan sesuatu, maka berbagai cara akan dilakukan untuk mendapatkan. Jika dia bilang tidak, maka tidak. Jika dia bilang ya, maka harus ya.
Jelas, sifat seperi itu turun pada putranya sendiri: Mario.
Dia pun akan melakukan hal yang sama.
Kita lihat saja nanti.
Siapakah yang akan menang.
Anak, ataukah ayahnya?
Aisyah
Teteh, aku butuh uang buat beli buku, dan hari ini aku ditagih SPP. Sama, rok abu aku kependekan. Aku harus beli yang baru, dimarahin kakak kelas. Nyangkanya aku anak bandel. Gimana dong, teh? Teteh udah gajian? Uang yang kemarin udah habis karena teteh kirimnya sedikit. Terus gimana sama Ibu? Ibu baik-baik aja?
Tanpa membalas pesan itu, Aiza menyimpan ponselnya di atas nakas. Kembali menyuapi Eliza dengan telaten. Pikirannya benar-benar kacau.
Tidak akan pernah ada yang mengerti, bagaimana rasanya jika berada di posisi Aiza sekarang. Semua orang hanya bisa menuduh yang tidak-tidak. Menganggap apa yang dilakukan adalah hal paling menjijikan dan hina.
Tapi, memang seperti itukan kenyataannya?
Aiza sendiri benci pada keputusannya. Tapi apa hak mereka mencaci?
Aiza bukan malaikat.
Ada masanya, dia berada di titik terendah. Yang membuatnya harus melakukan sesuatu yang agak bersinggungan.
Sekali lagi, Aiza bukan malaikat yang tidak terpikat dengan uang.
Jika ibunya berada dalam bahaya, Aiza wajib melindungi.
Anggap ini sebagai balas budi. Karena selalu menyusahkan Ibu.
Jujur, Aiza tersiksa dengan pernikahan yang akan segera dilakukan. Tapi yang mereka lihat, Aiza akan bahagia di atas penderitaan orang lain. Ia akan menyakiti orang lain dan menikmati harta yang bergelimang.
Tidak. Tidak seperti itu.
Bukan kebahagiaan yang didapat. Melainkan tekanan batin, rasa bersalah, dan kehilangan cinta.
Namun tidak apa. Asal keluarganya bisa tercukupi.
Lalu harus pada siapa lagi ia berharap dan meminta pertolongan? Ketika susah seperti ini, memang siapa yang mau membantu?
Sambil terus menyuapi Eliza, air mata Aiza luruh lagi untuk kesekian kali.
Namun, ada hal yang membuat Aiza tercengang dalam tangis pilunya. Tiba-tiba saja tangan Eliza yang selalu terkulai tak berdaya, terangkat ke atas, lalu menghapus air mata Aiza yang menggantung di pelupuk mata dengan lembut, khas sentuhan seorang Ibu yang sedih melihat putrinya menangis. Mata Eliza seolah berkata 'jangan menangis.'
Masyaa Allah.
Ini keajaiban.
Allah maha besar.
Dia-lah yang menggerakan hati Eliza untuk melakukan hal kecil tapi memukau ini.
Masyaa Allah. Terima kasih. Ini sedikit meringankan beban.
Segera Aiza meletakkan mangkuk berisi bubur di atas nakas, refleks merengkuh Eliza yang masih memasang roman datar.
Aiza semakin mengeratkan pelukannya, berharap permintaan maaf dan terima kasih tersampaikan. Percayalah, Eliza sudah Aiza anggap sebagai Ibu sendiri. Bagaimana tidak, semenjak tinggal di rumah ini, Aiza lebih banyak berdiam diri bersama Eliza yang tidak bisa apa-apa.
Entah membacakan Al-Qur'an, menceritakan Syiroh Nabawiah, agar Eliza mengenal nabinya, atau hal bermanfaat lain. Ya walaupun Aiza tahu, Eliza tidak mungkin mengerti. Tapi yang penting, Aiza merasa senang, karena sudah bercerita banyak.
"Maafkan saya, Nyonya. Maafkan saya."
Sesuatu menyentuh punggun Aiza, dan mengusap-ngusap pelan, Aiza semakin bahagia. Itu tandanya, Eliza menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Atau memang, dia memang tahu perasaan Aiza sekarang.
"Maafkan saya."
Apa Aiza akan meneruskan pernikahannya?