بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Wanita itu tabu. Hanya bisa dijamah orang tertentu.
"Apa?! Ibu saya masuk rumah sakit?"
Aiza nyaris menjatuhkan ponselnya, jantung berdebar tak keruan, napas tertumpu di tenggorokan. Sekujur tubuh kaku, organ-organ seakan kehilangan fungsi.
Semua rasa tak tenang dan curiga akhirnya terjawab. Ikatan batin itu nyata. Perasaan Aiza yang selalu dihantui kegamangan memang benar adanya. Aiza kecewa pada Ibu, dia itu pembohong besar! Dia kerap berbohong, tanpa peduli dengan perasaan anaknya yang selalu diselimuti khawatir.
Tanpa pikir panjang lagi, Aiza memutuskan untuk langsung pergi ke Jakarta melihat kondisi Ibu. Mendengar kabar itu membuat Aiza kalang-kabut, dan sulit berpikir jernih. Ia mewanti-wanti Aisyah agar bisa menjaga diri di sini, dan fokus sekolah. Tidak usah berpikir macam-macam, sesampainya di sana, Aiza akan langsung menghubungi Aisyah.
"Ibu bakalan baik-baik aja, kan Teh?" tanya Aisyah dengan raut cemas, duduk di tepian ranjang, melihat Aiza mengemasi pakaian.
"Kamu bantu do'a, Aisyah. Semoga Ibu baik-baik aja," jawab Aiza dengan nada tenang, walaupun sebenarnya ia begitu cemas dan takut. Ini pertama kali Ibu masuk rumah sakit sebagai pasien. Begitu selesai, Aiza duduk di sebelah Aisyah.
"Kamu tenang aja, ya. Nggak usah panik. Ibu itu wanita kuat, dia pasti baik-baik aja. Kamu di sini harus jaga diri, berangkat sekolah dan langsung pulang. Teteh bakalan transfer kamu uang, pakai uang itu dengan sebaik-baiknya."
"Iya, Teh. Aisyah ngerti." Ada rasa ngilu menyusup hati Aisyah, dia sedih, semenjak Bapak meninggal, masalah selalu datang bertubi-tubi. Nestapa datang terus-menerus seolah tak mau memberi jeda.
"Belajar yang bener, supaya nanti kamu bisa kuliah." Aiza membawa adik perempuannya ke dalam pelukan. Mereka berdua tak mampu menahan bendungan air mata, sampai akhirnya keduanya menangis meratapi nasib.
Semoga Ibu baik-baik saja.
Setelah merasakan sakitnya ditinggal Bapak, mereka tak mau merasakan untuk kedua kali. Biarkan Ibu hidup lebih lama lagi. Jangan sampai kejadian buruk menimpanya.
Shubuh ini, suasana begitu berbeda. Lebih terasa dingin, dingin yang menusuk tulang dan hati.
"Aku janji, Ndri. Aku bakal ganti uang ini. Nanti aku bakal transfer Aisyah, dan kamu bisa ambil uangnya." Karena tak ada uang untuk pergi ke Jakarta, terpaksa Aiza harus meminjam pada Indri. Sebab uang yang masih tersisa, harus ditinggalkan untuk Aisyah membayar uang bulanan sekolah. Aiza merasa malu, karena selalu merepotkan Indri.
"Nggak apa, Lubna. Pakai aja. Nggak usah mikirin gantinya. Lebih baik sekarang kamu pergi dengan keadaan hati yang tenang. Percaya, ada Allah yang bakal lindungin Ibu kamu. Di sini juga aku bakalan do'ain kamu sama Ibu kamu."
"Terima kasih, Ndri. Kamu emang sahabat terbaik aku." Aiza langsung memeluk tubuh Indri dengan berurai air mata. Ia terharu, dan merasa beruntung karena diberi sahabat seperti Indri.
"Semoga Allah membalas semua kebaikan kamu," kata Aiza melepas pelukannya.
"Iya aamiin..." Indri menghapus air mata yang mempir di kelopak mata Aiza. Membuat perempuan bercadar hitam itu terkekeh, merasa malu lantaran cengeng.
"Hati-hati, Lubna. Orang Jakarta nggak sebaik orang-orang kita. Jaga wajah cantik kamu ini, jangan sampai ada yang melihat."
Aiza mengangguk paham. "Romantis banget si kamu. Perhatian."
Indri tergelak. Kesedihan mencair, dan Aiza merasa terhibur. Sahabat ibarat obat.
Sesampainya di Jakarta, Aiza langsung mengunjungi rumah sakit yang tertera di ponselnya. Aiza harus mau banyak bertanya pada orang-orang Jakarta, mengenai letak rumah sakit tempat Ibu dirawat. Ternyata orang Jakarta tak seramah orang yang tinggal di kampung. Aiza lebih banyak menerima jawaban dengan nada marah. Tak luput juga ia mendapat sorotan aneh, mungkin karena sehelai kain yang menutupi wajahnya.
Mereka semua kasar! Aiza bertanya baik-baik, tapi yang menjawab malah nyolot. Menyetok kesabaran adalah pekerjaan yang harus Aiza lakukan tiap hari kalau begini. Tinggal di kota orang itu betul-betul menguji batin dan mental.
Ini untuk kedua kalinya Aiza mendatangi kota yang seringkali orang-orang sebut sebagai kota paling kejam. Waktu pertama itu ketika Aiza mengikuti aksi 212 di kawasan Monas Jakarta Selatan. Reuni 212 adalah Hari Persaudaraan Umat Islam Indonesia. Awalnya Aiza tidak berekspektasi lebih untuk berangkat kesana lantaran tak adanya biaya naik bis. Tapi Tuhan selalu berbaik hati, mendukung niat baik umatnya dengan memberikan limpahan rezeki. Indri datang ke rumah, dan dia bilang dia ingin sekali mengikuti reuni 212 itu, tapi ia tidak memiliki teman. Jadilah Indri memaksa Aiza untuk ikut, dia berjanji, semua biaya biar Indri yang nanggung.
Pertama-tama Aiza menolak karena tidak enak. Tapi lebih tidak enak lagi, jika ia mengabaikan permintaan Indri. Akhirnya Aiza memilih ikut.
Ya, dia memang sahabat paling baik sekaligus paling menyenangkan. Aiza berjanji, suatu hari ia akan membalas semua kebaikannya.
Sewaktu mengikuti reuni 212 itu, Aiza bertemu dengan artis yang bernama Lucky Hakim. Ma syaa Allah, sungguh, dia tampan dan tinggi sekali. Jika dilihat di tivi tampan, maka aslinya, berlipat-lipat kali jauh lebih tampan. Mereka juga berfoto di dekat bangunan tinggi menjulang menembus langit itu.
Ada banyak sekali kenangan indah sewaktu mengikuti reuni 212. Walaupun perjalanan panjang dan cukup menguras tenaga, tapi tak apa, rasa puas justru lebih mendominasi, karena bisa bertemu dengan saudara-saudara orang islam yang benar-benar peduli.
Aiza juga tidak pernah lupa dengan masjid Istiqlal yang luar biasa megah nan artistik. Bahkan ia sempat nyasar, karena ada banyak sekali pintu yang tersedia. Tapi untunglah, ia bisa keluar dari masjid setelah banyak bertanya pada orang-orang di sana---ada yang ramah, ada pula yang marah-marah hingga membuat Aiza harus beristighfar berkali-kali, menahan emosi---ia pun bertemu lagi dengan Indri, dan bercerita tentang kejadian kesasarnya yang membuat Indri tergelak.
Indri tidak ikut ke masjid karena ia sedang halangan, dan memilih jajan cemilan untuk mereka makan.
Aiza merasa beruntung, bisa pergi ke acara reuni tersebut.
Setelah berjalan ke sana-kemari, dan naik turun angkutan umum, akhirnya Aiza tiba di tempat tujuan. Sebuah bangunan yang selalu mengingatkan Aiza pada kematian. Setelah Bapak meninggal, Aiza meminta agar kakinya tidak berpijak di tempat ini, tapi Tuhan berkata lain. Lagi-lagi ia harus datang dengan tujuan menegangkan: menemui ibunya yang dirawat.
Membuka pintu kamar rawat yang telah diberi tahu salah satu suster, Aiza melihat sesosok pria berdiri di sebelah bangkar tempat ibunya berbaring. "Assalamu'alaikum."
"Waalaikumussalam," suara parau menyambut.
Lalu, Aiza melangkah lagi, menutup pintu, dan berjalan mendekat.
Hilya kelihatan lemah dengan selang infus yang menancap di pergelangan tangan, juga wajah yang begitu pucat. Membuat Aiza semakin cemas dan takut. Sungguh, melihatnya seperti ini membuat Aiza merasa bersalah. Dia rela kerja banting tulang demi menghidupi keluarga. Seharusnya Aiza yang berada di posisi beliau.
Aiza segera mengambil tangan sang Ibu, dan menciumnya. "Ibu ini aku, Lubna. Ibu kenapa bisa sakit begini?" suara Aiza terdengar panik.
"Dia siapa? Anakmu?" pria jangkung dengan kisaran umur lima puluh tahun lebih itu menyela.
"Iya, dia anak pertama saya, Tuan," jawab Hilya seraya mengusap kepala Aiza yang berbalut kerudung warna hitam.
Marteen---sang majikan lelaki---itu memandang Aiza dari bawah sampai atas. Kelihatan kikuk, baru kali ini dia melihat setelan wanita dengan kain sedemikian panjang nan tertutup. Terlalu sering menikmati perempuan seksi yang selalu mempertontonkan lekuk tubuh, hingga membuatnya aneh ketika dihadapi perempuan yang dengan apik menutupi tubuh dan wajah. Menyembunyikan keindahan seorang wanita yang selalu membuat gairah lawan jenisnya bergelora.
"Selama Hilya dirawat, kamu bisa kan menggantikan posisi ibumu sebagai pembantu?" Marteen bicara to the point. Sebab dia harus kembali ke kantor. Bagi Marteen, pembantu yang bekerja di rumah adalah tanggung jawabnya.
Aiza sempat melirik Hilya yang kala itu langsung memejamkan mata sebagai tanda persetujuan. Lalu tak lama kemudian, setelah menimbang-nimbang, Aiza akhirnya mengangguk. "Ya, saya bersedia." Tidak ada alasan bagi Aiza untuk menolak.
"Bagus kalau begitu. Jadi, anggap saja, uang yang saya pakai untuk membayar biaya pengobatan dan perawatan, digantikan dengan bekerjanya kamu di sana. Jadi impas."
Ya, Aiza mengerti. Ia tidak sedang hidup di cerita FTV ataupun sinetron. Manusia kaya dan baik yang mau membiayai semua biaya rumah sakit itu tidak ada. Mereka hanya ada dalam cerita fiksi. Kalaupun ada, mereka selalu meminta imbalan. Tanpa tahu, kalau balasan Allah itu jauh lebih besar. Hidup saling tolong menolong kian menipis di kalangan orang muslim. Jauh lebih takut kehilangan harta ketimbang kehilangan iman. Aiza harus mulai terbiasa hidup dalam lingkungan mereka, kendati hanya sementara.
"Kamu boleh bekerja mulai besok," cetus Marteen. "Pagi-pagi kamu harus sudah berada di sana."
"Baik." Aiza mengangguk untuk kedua kali.
"Bagus. Kalau begitu saya permisi." Marteen memutar badan, dan keluar dari ruangan itu dengan langkah santai.
Aiza langsung mengarahkan pandangan pada Hilya, dan langsung duduk di sebelah bangkar. "Ibu, Ibu sebenernya sakit apa? Sampai harus dirawat di sini?" tanya Aiza dengan sorot mata khawatir. Pertanyaan ini sangat ingin ia tanyakan sewaktu baru datang, tapi karena majikan ibunya ada di sini, jadi Aiza mencoba menahan.
"Ibu juga nggak tau.Akhir-akhir ini Ibu sering batuk dan sesak."
Aiza mulai memijat tangan Hilya dengan lemah lembut. Kebiasaan Aiza yang tidak pernah hilang, memijat tangan atau kaki ibunya ketika sedang sakit.
"Terus kata dokter apa?"
"Tesnya belum keluar. Ibu baru dites laboratorium. Nanti juga dokter bakal kembali. Semoga nggak terjadi apa-apa."
Aiza semakin tak tenang.
"Iya, semoga Ibu baik-baik aja." Di balik niqabnya Aiza mencoba tersenyum, walau hatinya sedang tidak berkompromi.
Rasa takut itu begitu mengganggu.
"Oh, ya, bagaimana dengan laki-laki yang berniat melamar kamu itu?"
"Ini bukan waktu yang tepat untuk bahas itu, Bu." Aiza sedang tidak memiliki mood.
"Cepatlah, Ibu ingin mendengarnya, Lubna."
"Apa majikan muda Ibu yang larang Ibu untuk pulang itu anaknya Bapak tadi?" tanya Aiza mengalihkan topik. Entah mengapa Aiza masih merasa kesal pada laki-laki rewel itu.
Hilya menganggukkan kepala. "Iya, Mario namanya."
"In syaa Allah, besok aku ketemu sama dia. Dan aku bakal ngomong ke dia, kalau Ibu jatuh sakit itu gara-gara dia yang nggak ngizinin Ibu pulang. Dia udah bikin Ibu syok kayaknya. Anaknya mau dilamar, ini malah diancam nggak boleh pulang."
Hilya tersenyum, bibirnya memutih.
"Do'akan Ibu, supaya bisa cepat sembuh dan bisa pulang ke sana. Bertemu dengan laki-laki beruntung, karena sebentar lagi dia akan memiliki kamu."
"Aamiin. Aku juga beruntung, karena dia benar-benar tipe aku. Dia seorang Hafidz."
Air muka Hilya berubah, lebih kelihatan semringah. Putrinya akan jatuh di tangan laki-laki yang bisa dipercaya. "Janji Allah itu pasti. Perempuan baik untuk laki-laki baik. Begitupun dengan sebaliknya."
Menurut Aiza, bekerja di rumah ini tidak terlalu menguras tenaga. Tapi ia harus ekstra sabar, ketika harus mendapati Mario pulang dengan membawa seorang perempuan pemilik status penting: yaitu pacar.
Bagi Aiza, ia belum pantas dikatakan sebagai bagian dari keluarga sebelum Mario menjabat tangan sang Ayah dari wanita yang ia cintai. Ini terkesan zina. Berhubungan dekat dengan orang yang bukan mahram.
Tapi mana mungkin itu terjadi, yang Aiza tahu, kekasih Mario itu bukan dari kalangan islam. Agama yang ia anut ternyata kristen. Yang selalu melaksanakan ibadah di Gereja.
Kebenaran itu Aiza ketahui ketika ia berusaha menasehati perempuan yang bernama Claudia itu di dapur. Aiza sedang memasak bubur untuk Eliza, dan Claudia tiba-tiba masuk, dan menuangkan air minum.
"Mbak itu perempuan. Seharusnya bisa menjaga diri." Aiza berani berkata, namun dengan keadaan membelakangi. Ia sibuk mengaduk bubur di atas kompor, terdengar suara air mengalir ke dalam gelas. "Wanita itu tabu. Hanya bisa dijamah oleh orang tertentu."
"Agama saya selalu membebaskan apa pun. Tidak seperti kamu, rambut pun harus ditutup, bahkan sampai wajah yang seharusnya terbuka bebas agar orang bisa gampang mengenali. Maaf, saya bukan Islam, jadi saya bebas melakukan apa yang saya mau, termasuk bermain mesra dengan dia." Claudia melirik Mario yang saat itu tengah membenarkan pakaian, mengancingkan kembali kemeja yang sempat terbuka di ruang tengah. Sementara Aiza merasakan jantungnya copot dari rongga d**a, ternyata Mario memiliki kekasih dari yang bukan sesama muslim. Ini gila. Mario sedang bermain-main dengan Tuhan-nya. Agama yang Claudia anut mengajarkan tentang kebaikan, tapi dia sendiri mengingkari. Baik Islam maupun Kristen, keduanya sama-sama memiliki peraturan.
Keluarga ini memang tidak sedikit pun mengerti tentang agama apalagi menaati peraturan-peraturannya.
Tapi Aiza mencoba mengerti, memaklumi. Agama mereka memang islam, tapi bergaya hidup ke barat-baratan. Sampai berani bermain cinta dengan orang non muslim.
Semoga saja, saat menikah nanti, kekasih Mario mau mengikuti agama yang dianut Mario.
Aiza pernah memergoki Mario tengah b******u di atas sofa, membuat kancing bagian atas terbuka, manampakkan otot-otot dadanya yang amat perkasa. Suara desahan pun tak luput dari telinga Aiza. Ia pikir adegan tersebut hanya dilakukan di drama luar negri, tapi kali ini Aiza melihat secara langsung. Dengan terpaksa Aiza membalikkan badan, mengucapkan istighfar berkali-kali. Subhanallah, parah sekali mereka. Itu bukan cinta, melainkan nafsu.
"Ayo, simpen minuman yang kamu bawa di atas meja. Kenapa balik lagi, Aiza?" suara Mario mengejutkan Aiza yang sudah tidak tahan melihat hubungan intim antara majikan mudanya dengan sang kekasih. Aiza tidak mau ikut mendapat dosa, matanya tidak boleh melihat apa yang diharamkan. Sama saja dengan zina mata.
"Saya akan kembali, tapi setelah tuan dan nona Claudia sedikit menjauh. Saya tidak bisa melihat pemandangan itu."
Mario berdecak. "Kamu pembantu yang rewel."
"Tuh kan! Lagi-lagi islam itu selalu memblokade umatnya. Semua yang terasa indah dan menarik, dilarang untuk dilihat atau didekati. Agama macam apa itu? Hanya bisa membebankan pengikutnya." Claudia menyandarkan punggung di sofa, menyilangkan tangan di bawah d**a. Mengeluh dengan kalimat-kalimat makian. Dia risi dengan pembantu yang bekerja di rumah Mario.
"Jaga ucapan Anda." Aiza menyahut, tidak terima dengan celaan Claudia tentang Islam yang selalu dipandang buruk.
"Memang begitu kenyataannya!"
Orang islam itu banyak, tapi yang taat, hanya segelintir. Lihat saja, ketika Claudia menghina Islam, yang membela adalah Aiza. Lalu ke manakah Mario?
Dia hanya bungkam. Seolah tidak ingin tahu apa-apa. Toh, menurutnya, tanpa taat pun, ia sudah mendapatkan apa yang dia mau. Harta, kedudukan, dan kebahagiaan. Walau hanya satu yang cacat: ibunya yang sakit tak berdaya.
Bagi Mario Argantara Herlambang, tanpa menyembah Tuhan, hidup jauh lebih menyenangkan.
Mario sendiri tidak tahu agama macam apa yang ia anut. Sebab sejak lahir, ia tak pernah dikenalkan dengan Tuhan-nya.
Dia lebih cocok menjadi seorang Atheis.
Begitulah paradigma Aiza tentang Mario.
"Kadang aku penasaran, bagaimana rupa kamu di balik kain ini."
Mario meraih gelas yang berada di atas nampan, Aiza segera menjauh sebelum tangan itu menyentuh cadarnya. Mario benar-benar jahil! Dia mendekat secara tiba-tiba. Pria itu terkekeh pelan melihat tingkah Aiza yang anti disentuh. Membuat Mario senang mengganggu. Dia akan sangat bahagia jika suatu saat nanti bisa membuka kain tersebut. Mario akan jadi orang pertama yang melihat wajah misterius si perempuan yang datang dari kampung untuk menggantikan ibunya menjadi asisten rumah tangga. Bagi Mario, Aiza ini cukup menantang.
"Tidak perlu penasaran. Anggap saja wajah saya ini buruk rupa hingga harus ditutupi."
Mario manggut-manggut. "Benar apa kata Claudia, ternyata islam membuat umatnya susah. Sampai perempuan pun harus menyamar menjadi orang berwajah buruk rupa. Sebuah pemblokadean yang sangat menyiksa. Kalau begini, siapa yang akan jatuh cinta? Apa akan ada laki-laki yang menyukai kamu? Sementara wajah kamu saja ditutupi. Ini tidak masuk akal."
Di sofa sana, Claudia mengangkat sebelah alis dengan bibir tertarik ke samping. Menerawang, bagaimana reaksi Aiza setelah ini. Perempuan itu kelihatan anggun dan seksi dengan rambut tebal yang tergerai.
"Saya minta Tuan mempelajari agama, nanti Tuan akan mengerti." Aiza berlalu ke dapur, tak tahan berada di konteks seperti ini. Di mana orang islam menganggap agamanya sendiri itu kejam. Banyak kungkungan, banyak larangan. Percuma Aiza menjawab, semua akan sia-sia.
"Untuk apa belajar agama? Kalau pada dasarnya orang taat seperti kamu pun hidupnya susah. Sementara aku? Aku bahagia dengan hidup tanpa menyembah siapa pun."
Aiza berusaha tidak mendengarkan, terus berjalan tanpa menghiraukan.
Dasar Mario.
Dia begitu sombong.
Dia tidak tahu, bahwa ia sedang berada dalam bahaya istidraj.
Sebuah kesenangan yang menipu.