Keesokan paginya, Hana terbangun dengan kepala yang masih sedikit berat. Ia langsung bergegas keluar kamar, mengira akan kembali menjalani rutinitas seperti biasa, menyiapkan sarapan lebih dulu sebelum Hans bangun lalu mandi dan berangkat kerja. Namun saat ia menuruni tangga, aroma masakan justru menyapa indera penciumannya. Dengan langkah pelan, ia pergi ke dapur. Pandangannya langsung tertuju pada sosok Hans yang berdiri di dapur dengan posisinya membelakanginya, masih mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung dan dibalut apron pink miliknya. Ada panci kecil di atas kompor dan roti panggang di meja. “Mas?” panggil Hana pelan. Hans menoleh sebentar, menyunggingkan senyum tipis. "Eh, kamu sudah bangun. kamu mau sarapan? sebentar lagi semuanya siap. Duduklah dulu." Suara Hans terde

