Bab 8

1300 Kata
Setelah menemani serangkaian jadwal Hans yang cukup padat akhirnya tiba juga malam. Namun mereka tidak langsung pulang ke rumah, melainkan pergi ke rumah keluarga Hans untuk makan malam bersama. Orangtua Hans meminta jadwal kosong malam ini agar mereka bisa makan malam bersama. Dan mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Hans. Hans hanya diam sejak meninggalkan perusahaan. Hana melirik suaminya sesekali, tampak raut khawatir di wajahnya. "Mas, kamu beneran nggak apa-apa?" Hana akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Ia masih belum tahu bagaimana respon suaminya kalau lagi marah jadi ia sedikit ragu untuk bertanya pada awalnya. "Nggak. Aku nggak apa-apa. Aku cuma capek aja." matanya terpejam sejenak, kantuk menyerangnya sampai membuatnya susah untuk membuka mata. "Oh, ya udah nanti pulang aku pijitin ya." Hans melirik Hana dengan senyum di wajahnya. Hana pun ikut tersenyum. Setibanya di rumah keluarga Hans. Ruang makan besar itu terasa hangat oleh cahaya lampu gantung berwarna kuning keemasan. Meja panjang marmer putih yang dibalut emas 24k itu sudah penuh dengan berbagai macam hidangan yang aromanya menggugah selera. Hana duduk di samping suaminya, agak gugup karena ini pertama kalinya ia makan malam bersama keluarga besar suami setelah resmi menikah walaupun ia sudah mengenal baik mereka sebelum menikah tapi tetap saja rasanya berbeda. Namun, rasa canggung itu perlahan hilang ketika ibu mertua menyendokkan sop daging ke dalam mangkuknya sambil tersenyum. "Hana, yuk cobain. Ini resep turun-temurun keluarga kami loh. Semoga kamu suka," ucap Laura, ibu mertua lembut. Hana tersenyum malu, menerima mangkuk itu dengan kedua tangan. “Terima kasih, Ma. Baunya enak sekali.” William, yang sejak tadi duduk di sebelah istrinya, ikut menimpali dengan suara lembut. “Makanlah yang banyak. Kamu sekarang bagian dari keluarga ini. Jadi jangan sungkan, ya.” Hans sontak menyunggingkan senyum kecil ketika melihat wajah istrinya yang perlahan terlihat lebih tenang. "Aku cobain, ya," ucap Hana sebelum mencicipi sup buatan ibu mertuanya. Matanya terbuka lebar disusul dengan senyum kecil yang tulus. "Eum, enak banget, Ma." "Enak, ya? syukurlah kalau kamu suka." "Iya, Ma. Aku boleh minta resep sopnya 'kan nanti?" tanya Hana dengan wajah memohon. "Boleh, dong." Hana kembali menyunggingkan senyum, hatinya menghangat. "Eh, Mas! Biar aku aja yang ambilin." Tak lama kemudian, Hana menahan tangan Hans yang hendak menyendokkan nasi ke piring. Orangtua Hans melihatnya dan mereka melirik satu sama lain dengan senyum di wajah mereka. Mereka pun makan dengan nyaman dan tenang. Sesekali Laura menambahkan lauk ke piring sang menantu, sementara William mengajak berbincang ringan tentang hobi dan pekerjaan agar Hana merasa nyaman. "Bagaimana kerjaan hari ini? papa nggak sempat ke perusahaan hari ini." tanya William disela makan malam. "Hari ini kami baru membahas tentang rencana pembangunan Blusky apartemen di rapat tadi pagi, Pa. Tapi, belum selesai karena ada beberapa perbedaan pendapat dan akan dilanjutkan Minggu depan," jelas Hans. William menyipitkan matanya, dahinya berkerut. "Perbedaan pendapat gimana?" "Perbedaan pendapat mengenai masalah fasilitas dan anggaran biaya pembangunan yang akan berefek ke keuntungan jadi ada beberapa pendapat gitu." "Ohh. Ya, semua orang pasti punya pendapat masing-masing. Tapi, kita harus lihat dari segala sisi, jangan hanya dari satu sisi maka kamu akan ketemu hasil yang terbaik." "Ya, selain keuntungan, kita tetap harus memperhatikan kepuasan pelanggan juga 'kan?" timpal Laura kemudian menyeruput kuah sopnya. "Betul, Ma." Hans mengangguk paham. Hana pun ikut mengangguk, yang menyimak sedari tadi. Namun di tengah kehangatan itu, Hana merasa hatinya menghangat. Rasa canggung berganti menjadi rasa nyaman. Ia merasa benar-benar diterima, bukan seperti tamu, melainkan sebagai anggota keluarga. *** Mereka tiba di rumah pukul 9 malam. Hans tampak menguap sesaat setelah masuk kamar lalu meregangkan otot-otot badannya yang kaku. Hana memperhatikannya kemudian mengambil duduk di tepi ranjang. "Mas, duduk sini," Hana menepuk tempat di sebelahnya. "Mau aku pijitin nggak?" Hans melepas jas hitamnya dulu sebelum duduk dengan posisi membelakangi istrinya. "Makasih ya," Hans masih mengenakan kemeja putih yang menutupi tubuhnya. Perlahan jemari Hana bergerak memijit bagian belakang tubuh suaminya. "Kalau kamu capek, bilang aja sama aku. Nanti aku pijitin." Hans hanya mengangguk, kepalanya menunduk, matanya terpejam menikmati pijatan lembut dari sang istri. "Bajumu nggak dibuka? sekalian dibalur minyak angin, biar tidurnya nyenyak nanti." "Boleh." Tanpa berlama-lama, Hans membuka kemejanya hingga punggung lebar dan kokoh suaminya terekspos. Hana sempat terdiam menatap punggung Hans yang bidang, guratan ototnya terlihat jelas dan indah. Wajahnya memerah, namun ia berusaha tetap tenang. Ia menuangkan sedikit minyak angin di telapak tangannya lalu menggosokkannya pelan ke tangan sebelum menyentuh punggung Hans. Tangan Hana bergerak pelan, menekan bagian bahu yang terasa tegang. Hans menghela napas panjang, hampir seperti mendesah lega. "Enak banget, pijatanmu, Na." Baru kali ini Hana mendengar Hans memangil nama panggilan Hana yang jarang diketahui orang-orang. "Ya iyalah. Aku 'kan wanita yang serba bisa," jawab Hana penuh percaya diri. Hans menyunggingkan senyum tipis yang tak Hana lihat. Beberapa menit berlalu dalam keheningan, hanya suara napas Hans yang kian teratur terdengar. Hana memperhatikan wajah suaminya dari samping, matanya sudah hampir terpejam. "Mas, jangan tidur dulu. Kamu belum mandi loh," Hana menepuk pelan punggung Hans. Hans membuka mata setengah, kelopak matanya kelihatan berat seolah menanggung beban, tapi senyum tipis terlukis di bibirnya. "Habisnya pijatanmu enak banget, aku jadi pengen cepet tidur." Hana mendengus kecil, pura-pura ngambek. "Ih, belum selesai tapi udah mau tidur aja." "Iya, maaf-maaf." Beberapa saat kemudian, terdengar suara klik botol minyak angin, tanda tertutup. "Selesai." Hans berbalik, menatap lembut istrinya. "Makasih ya, aku tahu kamu juga capek tapi kamu tetap peduli sama aku." "Sama-sama, Mas. Itulah tugas seorang istri jadi aku tidak merasa keberatan melakukannya." Hans menyunggingkan senyum kecil, ia tersentuh dengan jawaban Hana. Ada sedikit getaran yang muncul di hatinya dan entah dorongan dari mana, tangannya tergerak membelai pipi Hana, mengusapnya lembut, tatapan matanya tak lepas dari wajah cantik istrinya. Hana menggenggam erat pergelangan tangan Hans seraya tersenyum manis. Tanpa banyak bicara, Hans bergerak mendekat hingga tubuh Hana jatuh ke atas kasur. Hans dengan sigap mengukungnya, mengunci pergerakannya. Mata Hana berkedip-kedip pelan dan tanpa sadar bibirnya sedikit terbuka. Jantungnya berdebar kencang seperti ingin meledak apalagi ketika Hans dengan penampilan seperti, tubuh bagian atasnya tidak tertutupi sehelai benang pun dan wajah suaminya sedekat itu membuatnya kelihatan semakin tampan dan seksi. Hans bergerak semakin dekat namun tiba-tiba, Hana menahan gerak Hans, mendorong dadanya, itupun membuat Hans memiringkan kepalanya dengan dahi berkerut tapi dia tidak bicara apapun. "Kamu belum mandi, Mas." Hana mengigit bibirnya pelan. Hans menghela napas, "Memangnya nggak boleh kalau belum mandi, heum?" "Nanti habis mandi aja," Hana tetap bersikeras menolak lalu mendorong tubuh Hans dari atasnya. Ia pun ikut bangkit. "Ya udah deh kalau gitu, aku mandi dulu ya." Hans berpikir bila Hana mungkin masih malu-malu jadi dia tidak akan memaksa. Hana mengangguk. Hana kemudian duduk bersandar melirik sejenak pintu kamar mandi yang baru saja tertutup. 'Maafin aku Mas, tapi aku masih ragu.' Hana menolak Hans barusan karena tiba-tiba teringat dengan perkataan Eric tadi siang di perusahaan setelah dirinya hendak kembali ke ruangannya setelah dari ruangan Hans. "Jangan memberikannya segalanya, jika kamu tidak ingin menyesal." Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya. Entah kenapa setiap bertemu dengan Eric, sepupunya Hans, dia selalu mengatakan kata-kata yang aneh tentang Hans dan keluarganya. Hana jadi penasaran dengan kedekatan keluarga Hans dengan Eric. Drtt drtt! Tiba-tiba terdengar sebuah ponsel bergetar di atas meja. Ternyata ponsel Hans yang bergetar. Ia bisa melihat notif pesan masuk. Matanya terbelalak ketika membacanya. "Minggu depan, aku ke Indonesia. Ketemuan yuk honey?" Dadanya sesak, matanya berkaca-kaca setelah membaca pesan dari kontak yang dinamai Julie di ponsel suaminya. Beberapa saat kemudian, Hans selesai mandi dan keluar dengan handuk yang hanya menutupi bagian bawahnya seperti biasa. 'Loh, kok malah tidur?' batin Hans ketika melihat istrinya sudah terlelap. 'Kayaknya dia udah kecapekan,' ia menatap wajah damai istrinya yang sudah tidur, tanpa sadar sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil. Hans kemudian menoleh ke atas meja nakas ketika ponselnya menyala. Ia langsung mengambilnya dan melebarkan matanya. 'Julie. Dia tadi kirim pesan?' pandangannya seketika beralih ke Hana. 'Apa Hana sempat lihat pesan ini?'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN