Hans terdiam, kelopak matanya bergetar. Angin sore berhembus lembut membawa aroma tanah basah sisa hujan. Hening menyelimuti mereka beberapa saat. Tatapan Hans beralih cepat ke bayi dalam gendongan Hana. "Anak kita ...." suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca, tangannya perlahan terangkat. "Boleh aku gendong dia?" Hana menatap wajah damai si kecil yang terlelap sekilas lalu memberikannya pada Hans dengan gerakan pelan agar sang buah hati tak terbangun. Hans menerima Azka dengan kedua tangan yang bergetar. Begitu tubuh mungil itu berada di pelukannya, seolah seluruh dunian berhenti berputar. Napasnya tercekat, matanya menatap tak lepas pada wajah kecil yang begitu damai. Pipi Azka lembut, hangat, dan aroma bayi itu seperti menembus lapisan hatinya yang paling dalam. "Ya Tuhan .…" bisi

