Hana tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang syok. Matanya melotot, jantungnya hampir melompat dari tempatnya. Tak jauh berbeda dengan orang-orang yang mengerumuni mereka, yang juga menunjukkan ekspresi serupa namun tidak untuk satu pria pendek dengan mata tajam seperti rubah, yang berdiri di antara kerumunan bersikap tenang tapi menunjukkan ekspresi misterius.
"Pak, apa kamu serius?" tanya Hana seolah ragu. Hana takut bila ini masih bagian dari pembalasannya atas sikap kurang ajarnya di pertemuan pertama mereka.
"Saya serius. Kalau saya tidak serius, saya tidak mungkin mau melakukan ini."
Hana mengigit bibirnya, mengedarkan pandangan ke sekitar yang sudah mulai ramai. Tampak ekspresi-ekspresi yang tidak sabaran menunggu akan jawabannya. Ia kembali teringat dengan percakapannya dengan William, Papanya Hans kemarin. Hana berpikir bila Hans dan Papanya benar-benar serius dengan perjodohan ini.
Dengan sekali tarikan napas, Hana akhirnya berkata. "Ya, aku mau." Entah apa yang ada dipikirannya sampai kalimat itu terlontar dari bibir mungilnya.
Suara riuh tepuk tangan seketika memenuhi lobi bersamaan dengan senyum yang tercipta di wajah Hans. Hans kemudian berdiri, meraih tangan Hana, memasangkan cincin di jari manis Hana dengan lembut.
Hana menyunggingkan senyum gugup saat Hans menatapnya lekat, tangan besar itu tergerak menyentuh belakang kepala Hana, menariknya mendekat lalu Hans mencium kening Hana.
Pipi Hana bersemu, panas menjalar di seluruh wajahnya. Bukan pertama kali dia dapat perlakukan seperti itu dari lelaki tapi tetap saja membuat hatinya selalu berdebar.
Mereka akhirnya menyadari keramaian di sekeliling mereka. "Apa yang kalian lihat? Kembali bekerja." Perintah Hans tegas, membuat kerumunan bubar.
Hans menadahkan tangannya pada Hana, memberikan gesture untuk meminta tangan Hana. Dengan malu Hana menyambut tangan Hans. Mereka pun berjalan beriringan menuju ruangannya.
Saat tiba di lantai paling atas di mana ruangan bos dan sekretaris berada, Hans dan Hana masih bergandengan tangan menyusuri lorong menuju ruangannya. Lorong panjang yang memiliki jendela-jendela tinggi dengan pemandangan yang mengarah langsung ke pusat kota.
Hana tiba-tiba merasa malu dan canggung, ia hanya diam sepanjang jalan sampai Hans tiba-tiba berhenti, melepaskan tautan tangan mereka membuat Hana mengernyitkan dahinya dan menatap Hans dengan mata penuh tanya.
"Kamu duluan aja, aku ingin ke toilet sebentar."
"Oh, ok." Hana masih berdiam diri saat Hans sudah hilang dari pandangannya. Entah kenapa Hana merasa kosong, tidak seperti perasaan orang-orang yang dapat lamaran dari orang yang dicinta. Apa itu karena Hana mendapatkan lamaran secara tiba-tiba?
"Hana," seseorang menegurnya hingga membuatnya berbalik.
"Eric," pria bermata rubah itu sedang berjalan ke arahnya dengan map di tangannya. "Kenapa kamu sendirian saja di sini? di mana calon suamimu?" Eric mengedarkan pandangannya ke sekitar. Koridor tampak sepi.
"Maksud kamu Pak Hans? dia ke toilet."
Eric tiba-tiba tersenyum miring seolah meremehkan. "Apa kamu yakin akan menikahi Hans? belum seminggu kalian bertemu tapi dia sudah melamar kamu. Apa itu tidak mencurigakan?" Eric menatap Hana serius, mengangkat sebelah alisnya. "Jangan-jangan kamu hanya dimanfaatkan."
"Apa maksudmu, Eric? dan kenapa kamu terlihat tidak menyukainya? Bukankah kalian sepupuan?" Hana sudah tahu lama bila salah satu rekan kerjanya yang terkenal misterius itu adalah sepupu jauh Hans, anak mantan bosnya.
Eric mendengus, "Itu karena kamu tidak tahu sifat aslinya dia dan keluarganya. Mereka menyimpan rahasia besar yang tidak kamu tahu. Aku hanya ingin memperingatimu saja." Kata Eric diakhiri dengan senyum miring lalu melanjutkan langkahnya tanpa menunggu respon dari Hana.
Hana menatap punggung Eric yang semakin menjauh dengan mata tak berkedip.
"Hana," beberapa saat kemudian, Hans telah kembali namun Hana masih di sana. "Kenapa kamu masih di sini?"
"Uh, itu ... Tadi aku angkat telepon dulu." Hana menyunggingkan senyum kecil agar Hans tidak curiga.
"Ok." Hans jalan lebih dulu, disusul Hana yang berjalan lambat.
Saat tiba di depan pintu ruangan Hans, mereka bertemu dengan Eric yang menunggu di depan pintu.
"Eric, ngapain kamu di situ?"
"Pak Hans, saya ingin mengantarkan berkas yang Bapak minta kemarin." Kata Eric seraya menunjukkan map merah di tangannya. Walaupun mereka sepupuan, ia tetap bersikap formal dan memperhatikan tata krama saat di tempat kerja dan lagipula Hans lebih tua dari Eric.
Hans mengangguk kemudian masuk ke ruangan lebih dulu diikuti dengan Hana dan Eric.
"Letakkan saja di sana dulu." Hans menunjuk ke arah map-map yang bertumpukan di sisi sebelah kiri mejanya.
"Kalau begitu saya permisi," izin Eric setelah meletakkan berkas sesuai perintah. Hans hanya mengangguk.
"Ayo, kita bahas rencana pernikahan kita," ucap Hans menatap langsung ke mata Hana. Mereka berhadapan. Iris coklat Hana bergerak pelan namun tak berkedip, berusaha mencari celah kebohongan di mata laki-laki tampan itu.
"Apa yang membuatmu yakin melamarku?" tanya Hana to the point saat mereka tengah duduk bersama di sofa. Ia memberanikan diri untuk bertanya, matanya menatap tajam bos yang mungkin akan menjadi suaminya kelak.
Hans yang sedang duduk menyilangkan kaki dan bersandar di sofa tersenyum tipis. "Karena aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu."
Hana menggelengkan kepalanya seraya tersenyum miring, merasa tidak puas dengan jawaban dari Hans. "Tidak mungkin. Hal seperti itu tidak ada di dunia nyata."
"Dari mana kamu tahu? Apa kamu tahu isi hati dan pikiran setiap orang? buktinya aku jatuh cinta dengan sosok sepertimu. Aku suka wanita yang berani, percaya diri dan cerewet seperti kamu. Kamu mengenal dirimu sendiri 'kan?" Hans menjelaskan dengan santai seolah dia benar-benar jatuh cinta dengan sosok wanita yang duduk di sampingnya.
"Lalu kalau kamu suka padaku. Kenapa kamu menyuruhku melakukan ini itu di hari pertama kita bertemu? bukankah kamu ingin membalas perlakuan burukku padamu?"
Hans terkekeh, mengubah posisinya, lebih mendekat ke Hana. Tangannya tergerak menyelipkan rambut Hana ke belakang telinganya, menatapnya dalam hingga membuat Hana salah tingkah. "Itu salah satu usahaku untuk mendekatimu. Apakah aku tidak terlihat seperti lelaki penggoda di matamu?"
***
2 Minggu kemudian
Hana dan Hans resmi menikah kemarin dan hari ini mereka akan pindah ke rumah baru mereka, yang baru saja dibeli cash oleh Hans.
Rumah seharga miliaran itu berdiri megah di atas tanah yang luas. Rumah mewah bergaya klasik modern dengan halaman luas dan kolam berenang itu akan menjadi tempat tinggal mereka ke depannya.
Sepasang suami istri itu memasuki rumah sembari menyeret koper milik masing-masing. Perabotan di rumah sudah diangsur-angsur diisi namun masih belum semuanya.
Hans mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan besar yang didominasi warna terang dengan senyum mengembang seraya menganggukkan kepalanya.
Hana memperhatikan suaminya cukup lama dari samping. "Kamu kenapa? kelihatan bangga banget?"
"Iya, tentu saja aku bangga. Aku bisa menikahimu dan bisa langsung membawamu ke rumah impianku." Hans memberikan senyum tulus.
Hana tersenyum tipis. "Ok. Kalau gitu, bagaimana kalau kita lihat-lihat rumah?"
Hans sontak memeriksa jam di pergelangan tangannya. "Maaf, kayaknya aku harus pergi sekarang. Aku ada urusan."
"Urusan apa?"
"Urusan kerjaan dengan Papa." Ada jeda beberapa detik sebelum Hans menjawab.
"Oh," raut wajah Hana berubah, ia tampak kecewa tapi dia tak terlalu menunjukkannya. "Kalau begitu hati-hati."
Hans mengangguk. "Aku pergi ya," Hans tak lupa mengecup kepala istrinya singkat sebelum pergi. Hana berbalik memandang punggung kokoh yang semakin menjauh itu dengan tatapan bingung bercampur curiga.