Tak hanya Dea, tamu itu pun ikut terkejut melihat kehadirannya. Di tengah keterkejutan itu, Aiden dengan sigap menghampiri mereka bertiga. Sedangkan Dea mengikutinya di belakang.
“Selamat datang. Saya Aiden,” sapa Aiden ramah.
Dea melirik lelaki itu dengan jengah. Tanpa sadar ia membandingkan sambutan Aiden ketika bertemu dengannya dengan orang lain, sangat berbeda 180 derajat, perbedaannya sangat kentara. Aiden seakan memiliki dua kepribadian, bagai malaikat dan iblis.
“Selamat siang Mr.Aiden, perkenalkan saya Jamono. Dan ini rekan saya, Triyo.” Lelaki berambut putih bermanik hitam itu menyalami Aiden dengan sangat ramah.
“Salam kenal Mr.Aiden,” lelaki paruh baya berambut gondrong itu menyalami Aiden dengan tatapan sangar.
“Salam kenal Mr. Triyo.” sambut Aiden semringah.
Tanpa aba-aba, kini tangan kiri lelaki itu merangkul pundak Dea. Awalnya wanita itu terkejut, tapi terpaksa ia tahan demi kewajiban sebagai istri CEO dan agar terlihat natural di depan para tamu. “Perkenalkan ini istri saya, Dea.”
Dengan sopan wanita itu menyalami satu persatu tamu yang datang ke rumahnya.
“Devano ini Dea. Dea ini Devano sahabat sekaligus tangan kananku di perusahaan.” Aiden memperkenalkan mereka berdua tanpa mengetahui jika Devano dan Dea kemarin sempat berdebat sengit di rumah sakit.
“Devano,” lelaki itu menyodorkan tangannya pada Dea. Namun matanya menyorot wanita di depannya dengan tajam, sangat berbeda dengan tatapan Jamono dan Triyo yang terlihat teduh bahkan tersenyum semringah ketika menjabat tangannya.
“Dea.” Senyum manis tak lupa ia berikan pada sahabat karib suaminya. Tatapan permusuhan ini membuatnya tak nyaman.
“Silakan duduk Mr. Jamono dan Triyo,” Aiden mempersilakan mereka semua duduk di sofa. Mrs.Asih dan beberapa pelayan masuk dan menyajikan beberapa minuman dan hidangan yang lezat.
“Silakan diminum Mr Triyo, Mr. Jamono,” tawar Dea pada kedua orang tersebut.
“Baik Madam, saya sangat berterimakasih karena disambut dengan begitu ramah,” ucap Triyo dengan raut wajah yang bersahabat. Begitu pula Jamono, lelaki yang sebelumnya terlihat garang kini berubah menjadi manis ketika menatap Dea.
“Sudah seharusnya tuan rumah menyambut tamunya sebaik mungkin Mr.” Dea tak luput memberikan senyum manis kepada para tamunya. Aiden terlihat sangat puas dengan kinerja Dea yang profesional sebagai istrinya.
Sedangkan Devano, sedari tadi tak mengeluarkan suara sedikitpun dalam pertemuan ini. Selama beberapa menit, obrolan aktif hanya terdengar dari mulut Triyo, Dea, dan Jamono. Sesekali Aiden menyahuti candaan mereka. Setelah ramah tamah dirasa sudah cukup, Aiden memberikan kode pada istrinya untuk segera undur diri. Dea yang mengetahui kode tersebut langsung berpamitan pada kedua tamunya.
“Saya ijin undur diri dulu Tuan. Ada seseorang yang harus saya temui sore ini,” pamit Dea.
“Oh... baiklah Madam. Saya sangat senang mengobrol dengan Anda,” sahut Triyo.
“Saya juga senang berbincang dengan Anda.”
Dea langsung masuk ke dalam rumah meninggalkan mereka semua, tak lupa senyuman manis ia berikan pada Devano. Lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya singkat. Ketika sudah berada di ruang tengah, ekspresi Dea langsung berubah menjadi datar, berakting menjadi ramah karena terpaksa adalah hal yang sangat melelahkan.
“Mrs.Asih,” panggil Dea pada wanita paruh baya yang berjalan ke arahnya.
“Ya Madam?”
“Tolong panggilkan Toni, suruh dia menyiapkan mobil. Aku harus menemui seseorang sekarang. Dan buatkan bubur, masukkan kotak makan. Aku tunggu setengah jam.”
“Baik Madam.”
Setelah semua siap, Dea segera ke rumah sakit. Ketika masuk ke dalam kamar Mr.Hando.
“Sore Mr. Hando,” sapa Dea dengan tangan yang menenteng bekalnya. Pria dengan wajah keriput itu tersenyum padanya. Tatapan yang begitu hangat membuat perempuan itu lega.
“Apa hari ini sangat sibuk?” tanya lelaki itu.
“Sedikit, ada beberapa hal yang harus saya lakukan.”
Hando menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dea sibuk mengeluarkan perbekalan yang dia bawa. Ada bubur, jus, dan beberapa snack.
“Kita makan sekarang ya Mr.Hando. Saya dengar anda tak makan siang,” ucap Dea sembari menata meja lipat di atas ranjang.
“Lidahku terasa pahit, jadi tak selera makan.”
“Kalau begitu, sekarang Mr. Hando harus makan, aku membawa bubur dan jus. Tinggal menelan saja, anda tak perlu mengunyahnya. Sampai kapan mau di rumah sakit?” omel Dea. Lelaki tua itu tersenyum mendengar kalimat panjang dari wanita di depannya.
“Aku senang berada di sini,” jawab Hando. Alis Dea berkerut.
“Senang? Kenapa?”
“Karena ada yang memperhatikanku, bahkan memarahiku seperti ini,” jawab lelaki itu. Tatapan nanar tertuju pada Dea, ini membuat hati wanita itu terenyuh.
“Tidak ada yang memperhatikanku. Lebih tepatnya setelah kepergian istriku, tidak ada yang seperhatian ini kepadaku.” Kepala Hando terangkat menatap langit-langit kamar, seperti menahan tangis. Melihat itu, Dea segera menghela napas. Kondisi lelaki itu memang nampak menyedihkan, mengingat keadaan rumah yang tak terawat mengidentifikasi jika kondisi pemiliknya menyedihkan.
“Tidak peduli di rumah sakit ataupun rumah, aku akan memperhatikan Anda. Jadi, cepatlah sembuh agar aku tak khawatir.”
Hando tersenyum, “baiklah.”
Tangan lelaki itu langsung mengambil sendok, dan menyuap bubur ke mulutnya. Dea menatapnya dengan puas.
Tok... tok... tok... suara ketukan pintu membuat kedua orang tersebut menoleh.
“Madam, ini saya Toni,” ucap lelaki itu di depan kamar.
“Masuk.”
Mendengar jawaban dari majikannya, Tonni segera masuk dengan wajah panik. Alis Dea berkerut melihat ekspresi rekan kerjanya.
“Madam, apakah saya boleh sebentar? Ada hal yang sangat mendesak,” pintanya dengan resah. “Setengah jam. Saya akan tiba di sini tidak sampai setengah jam,” lanjutnya.
“Boleh,” jawab Dea tanpa mengulik apa yang menimpa Toni hingga membuat lelaki itu panik.
“Terima kasih Madam, tolong tetap di sini sampai saya jemput. Kalau bisa jangan sampai keluar kamar.” Toni memohon pada majikannya untuk menuruti permintaannya.
Huft... Dea menghela napasnya pelan. “Baiklah. Pergilah.”
“Baik Madam.” Lelaki itu langsung membalikkan tubuhnya dan berlalu pergi. Dea memandang punggung Toni yang menghilang tertutup pintu.
‘Sebenarnya ada apa?’ batin Dea yang dipenuhi rasa penasaran. Namun buru-buru ia pendam karena tak etis mencampuri urusan orang lain. Ia langsung menatap Mr.Hando yang masih memakan bubur. Dalam wadah itu tinggal beberapa sendok, sebentar lagi akan habis tak tersisa.
“Sepertinya anak buahmu memiliki masalah besar,” celetuk Hando setelah menyelesaikan makannya. Dea mengangkat tinggi kedua alisnya.
“Lihat saja gelagatnya seperti jentik-jentik.”
Mendengar ucapan itu, tanpa sadar Dea tertawa keras hingga ia menutup mulutnya. Takut jika orang rumah sakit terganggu dengan suara tawanya.
“Ya Tuhan, Mr.Hando bisa saja.” Dea menggeleng-gelengkan kepala sembari menahan senyum.
Hando yang sebelumnya ikut tertawa, kini raut wajahnya berubah serius dan mengatakan,“ memang iya kan? Kamu sendiri keheranan melihat tingkahnya yang bergoyang-goyang tidak jelas.”
“Hahaha... tapi tak separah jentik-jentik.”
“Itu parah, lebih dari orang menahan berak.”
Lagi-lagi jawaban Mr.Hando membuat tawa Dea pecah. Suasana sebelumnya sendu kini berubah menjadi ceria karena dipenuhi gelak tawa Dea. Mr.Hando tak henti-hentinya mengatakan hal lucu hingga membuat perut perempuan itu keram.
“Ouch!” adu Dea merasa kesakitan di bagian perutnya. Tapi selang beberapa detik kemudian, “ahahaha...” gelak tawa menggelegar di seluruh ruangan.
Di tengah-tengah keseruan cerita Mr.Hando, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Menyadari kedatangan seseorang di kamar VIP, membuat keduanya menoleh.
Dea mengira itu adalah Toni, karena waktu sudah lebih dari setengah jam. Tapi siapa sangka perkiraannya salah. Justru membuat kedua bola mata wanita itu melebar.
__________________________
Baca juga Novel mimin berjudul “KUREBUT SUAMIKU DARI KEKASIHNYA”, berikut cuplikan sinopsisnya:
Perjanjian Pra-nikah tidak menjamin rumah tangga akan baik-baik saja. Dea terdiam saat suaminya menyembunyikan harta gono-gini tanpa sepengetahuannya, bahkan dipegang oleh wanita lain.
Dia hanya tahu jika Kevin-suaminya Guru PNS ternyata memiliki bisnis yang dipegang Icha dari awal pernikahan mereka.
"Kamu hanya memiliki raga Kevin tidak dengan hatinya. Kekayaan terbesarnya ada di genggamanku. Dia akan MENCERAIKANMU!"