.
.
.
Sebenci apapun wanita terhadapmu.
Dia punya sisi lemah yang akan menghancurkan bencinya, selama kau memperlakukannya dengan lembut.
—————————
Seorang wanita yang paling kasar sekalipun, hatinya lebih lembut dibandingkan hati seorang pria terlembut di dunia.
-Zeeherazade-
.
.
.
Afran ikut meringis tatkala melihat Amierra yang tidur di sebelahnya meringkuk sambil memegangi perutnya. Hari sudah malam, dan Amierra juga belum tidur karena sakit yang ditimbulkan oleh masa haidnya.
"Ra? Masih sakit?" Amierra mengangguk.
"Biasanya sakit ya?"
"Tidak, Kak. Hanya first day yang kadang sakit."
"Berbaliklah sini, jangan membelakangiku." Amierra mengiyakan perintah Afran. Dan setelahnya, Afran menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Amierra, lalu menyelipkan tangan kanannya melingkari pinggang istrinya itu, sedangkan tangan kirinya ia gunakan untuk membelai pucuk rambut Amierra.
"Katanya besok mau menjenguk Jihan. Tidurlah. Aku akan memelukmu." Afran semakin mengeratkan pelukannya.
"Kak?"
"Hm."
"Tamu yang tadi siapa?" Sejenak, kamar mereka terasa lengang.
"Tidurlah saja. Malam ini tidak baik untuk membahas itu." Amierra hanya menurut, ia langsung membenamkan lagi wajahnya di d**a Afran.
"Aku tahu Kakak belum siap bercerita."
"Bukannya aku belum siap menceritakannya kepadamu, Ra. Tapi ini harus jadi rahasia sementara bagimu. Itu lebih baik."
"Sayang?" Tidak ada sahutan. Kemudian ia menunduk, lalu tersenyum, melihat istrinya begitu nyaman tidur di pelukannya. Afran menyelipkan anak rambut Amierra, lalu mengecup puncak kepalanya.
"Selamat tidur, Gadis kecilku."
.
.
.
"Bi Ela?" Afran mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah.
"Ya, A'." Sosok yang dicari keluar dari arah dapur.
"Hari ini saya sama Amierra tidak sarapan. Mau sarapan diluar. Bibi tidak perlu memasak banyak-banyak."
"Lahh. Sudah terlanjur A'."
"Kalau begitu, nanti suruh pelayan yang lain untuk memakannya. Maaf ya Bi, bukannya tidak menghargai, tapi daripada mubadzir."
"Iya. Tidak apa-apa A'. Jangan sungkan sama Bibi." Afran tersenyum, lalu kembali ke kamar. Bersiap-siap untuk mengajak Amierra pergi.
.
.
.
"Kak Afran? Mau kemana kalian?" Keysha yang baru turun tangga memperhatikan Afran hendak keluar rumah bersama Amierra. "Bukan urusanmu." Keysha tergelak.
Amierra tahu jika Afran masih marah dengan adiknya. Jadi dia meluruskan jawaban Afran. "Mau menjenguk teman, Key. Maaf tidak sarapan bersamamu, Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Keysha sebenarnya tidak mempermasalahkan jika dirinya dimarahi Afran. Tapi tadi malam ia hanya ingin membuat kakaknya memaafkan gadis itu, yang tak lain adalah sahabatnya juga. Berusaha membuat Afran tidak lagi membencinya. Ia berniat sahabatnya itu dekat dengan Amierra, agar Afran juga mau menerimanya lagi. Namun apa daya, kakaknya itu begitu marah saat tahu siapa yang datang. Keysha hanya kasian dengan sahabatnya itu. Ia tidak sepenuhnya salah. Dirinya hanya ingin perlindungan dan kasih sayang akan sosok laki-laki, yang tidak ia dapat dari sang ayah. Sebenarnya ia gadis yang telah dianggap adik sendiri oleh Afran. Tetapi, sebelum kejadian itu terjadi, hingga melenyapkan kasih sayang Afran kepadanya.
"Kak? Kamu masih marah sama Keysha?" tanya Amierra setelah ada di dalam mobil.
"Tidak perlu memikirkan itu, Ra."
"Tapi, Kak...."
"Seat belt mu, Sayang." Afran meraih seat belt Amierra lalu memasangkannya.
"Sudah. Kamu mau memberi apa ke Jihan, hm?"
"Kak. Jangan mengalihkan pembicaraan."
"Jangan memancing emosiku, Ra. Masalah itu dipikirkan nanti saja."
"Tapi, dia tetap adikmu, Kak. Jangan marah berlarut-larut padanya. Walaupun aku tidak tahu masalah kalian, aku harap kalian bisa menyelesaikannya dengan benar."
"As you wish, Honey." Afran mengecup pelipis Amierra sebelum melajukan mobilnya. Amierra stagnan. Lagi-lagi kekesalannya, kemarahannya, bisa diredamkan dengan sikap manis Afran. Dia selalu luluh atau lebih tepatnya lemah jika diperlakukan seperti itu. Seperti kejadian hari Minggu lalu. Yang cukup membuktikan bahwa Amierra memang lemah jika berhadapan dengan suaminya.
Pagi itu Amierra dan Keysha jalan-jalan ke taman balai kota. Afran tidak ikut, karena dia memilih berkutat dengan dokumen-dokumen kesayangannya di ruang kerja. Namun, baru beberapa menit menginjak taman, mereka langsung pulang.
"Udaranya segar ya, Kak?" tanya Keysha sembari mendorong kursi roda Amierra untuk menyusuri taman.
"Iya. Tapi, selama aku tinggal di sini, belum pernah aku ke taman sini, Key."
"Benarkah? Kakak tidak beruntung sekali. Di sini tamannya indah, banyak pepohonan, tidak ada sampah. Lain kali aku ajak Kakak ke sini lagi."
"Eh. Itu 'kan teman kita Amierra?" Terdengar suara yang agak jauh dari keberadaan Keysha dan Amierra, namun masih dapat ditangkap oleh telinga mereka.
"Itu kenapa Amierra jadi seperti itu?"
"Katanya 'sih habis kecelakaan. Belum juga mau masuk Perguruan Tinggi."
"Kasian ya. Padahal dulu cita-citanya mau jadi penulis."
"Iya. Katanya dulu dia ingin banggain orang tuanya. Tapi malah jadi seperti itu."
"Entahlah. Kasian juga pasti orang tuanya, kalau merawat dia sekarang." Keysha geram. Ia segera menoleh ke arah sumber suara, lalu menatap tajam kepada 3 gadis yang mungkin niatnya ke taman sama dengan dirinya dan Amierra. Namun, ketiga gadis tadi hanya mencebik mendapat tatapan tajam dari Keysha.
"Kak Amierra. Sebaiknya kita pulang." Amierra hanya menunduk. Berusaha tidak mengeluarkan air mata. Diujung hati yang terdalam, ada rasa sakit dan perih yang tertorehkan. Rasanya ingin membungkam mulut teman-temannya itu, namun bagaimana bisa. Perkataan mereka benar adanya.
Dia benci dirinya sendiri. Benci dirinya yang belum bisa membanggakan orang disekitarnya. Benci dirinya yang belum bisa membuktikan pada dunia bahwa dia pasti menjadi penulis yang sukses. Benci dirinya yang harus bergantung dengan orang lain. Dia benci dirinya sendiri. Menjadi seonggok daging bernyawa tapi tak berguna.
Sesampainya di rumah. Keysha membawa Amierra ke kamarnya sendiri, kemudian pergi ke ruang kerja Afran. "Kak... Kak Afran. Sebaiknya Kakak ke kamar sekarang."
"Ada apa?" tanyanya tanpa mengalihkan atensinya dari dokumen yang ia pegang. Keysha ingin menendang Kakaknya sekarang juga. Ia kesal jika Afran sudah berteman dengan dokumen-dokumen itu, maka ia tidak akan mempedulikan sekitarnya.
"Kak Afran!" Keysha menyaut saja dokumen itu.
Afran tergelak. "Ap..."
"Kak Amierra sedang tidak baik-baik saja! Dia di taman habis dicemooh oleh teman-temannya." Setelahnya Afran langsung berlari ke arah kamar. Meninggalkan Keysha yang dirundung rasa bersalah karena telah mengajak kakak iparnya ke taman balai kota. Dan benar. Saat Afran masuk ke kamar, istrinya yang masih duduk di kursi roda itu sudah menangis hebat dengan kedua tangan yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya.
"Hei. Kenapa menangis?"
Afran ingin meraih tangan Amierra yang ia gunakan menutupi wajahnya, namun di hempas begitu saja oleh Amierra. "Pergi! Aku ingin sendiri!"
"Tidak. Aku tidak akan pergi sebelum tangismu reda."
"Pergi sialan! Kau belum puas membuat hidupku seperti ini! Menjadi orang yang sudah tidak ada gunanya, hanya bisa bergantung dengan orang lain. Arrghhh. Aku benci diriku sendiri!"
Afran akhirnya memeluk Amierra erat. Tak ia pedulikan tubuhnya yang terus dipukuli oleh istrinya itu.
"Tenangkan dirimu, Ra." Pikiran Afran kacau. Hatinya teramat sakit melihat Amierra seperti ini.
Dirinya berusaha mati-matian untuk membahagiakan Amierra, menghapus lukanya, menghilangkan ingatan tentang kekurangannya. Lalu sekarang, rasanya ia ingin menghajar teman-teman Amierra itu. Siapa mereka yang berani-beraninya membuat wanitanya menangis seperti sekarang.
"Tolong jangan seperti ini. Hati Kakak sakit melihatnya."
"Tapi, hatiku lebih sakit, Kak! Mereka mengataiku, tapi aku tidak bisa apa-apa. Karena yang mereka katakan benar. Aku sudah tidak berguna." Amierra meremas dadanya yang begitu sesak.
"Sssttt. Jangan kemakan omongan orang lain. Mereka tidak tahu kalau kamu itu berharga bagi hidup Kakak. Kamu penyemangat Kakak tiap mau bekerja. Kamu motivasi Kakak untuk terus menjadi lebih baik lagi. Kamu itu berguna. Sangat. Nyatanya rumah ini tidak sesepi dulu saat kamu menempatinya. Keysha pun jadi punya teman curhat. Katakan siapa temanmu yang telah berkata seperti itu? Biar Kakak beri pelajaran. Berani-beraninya bicara seperti itu sama gadis Kakak." Sesak yang Amierra rasakan, hilang perlahan saat mendengarkannya. Kata-kata manis Afran bagaikan obat penawar yang mangkus untuk racun di hati Amierra.
"Udah. Jangan berfikir seperti itu lagi ya. Aku tidak suka." Afran melepaskan pelukannya setelah dirasa Amierra tenang. Kemudian menghapus lembut jejak-jejak air mata di wajah Amierra.
"Mau jalan-jalan sama Kakak?" Amierra menggeleng. Ia masih takut jika bertemu dengan orang seperti teman-temannya itu.
"Tidak jalan-jalan ke luar rumah 'kok. Hanya taman di belakang. Mau? Nanti Kakak bacakan novel untukmu." Afran membenarkan jilbab Amierra yang terlihat berantakan.
"Kakak punya novel memangnya?"
"Tidak. Keysha punya novel banyak. Pinjam dia saja." Kemudian Amierra mengangguk setuju.
Hari itu. Amierra yang marah bisa luluh akan sikap lembut Afran. Dan tidak hanya Amierra, semua wanita pasti seperti itu. Karena hati wanita itu lembut, bahkan seorang wanita yang paling kasar sekalipun hatinya jauh lebih lembut, dibandingkan hati seorang pria terlembut di dunia.
.
.
.
To be continued.
Fri November 12, 2021