20. Delusion of Happiness (3)

1153 Kata
Chapter 20 : Delusion of Happiness (3) ****** SEMAKIN ‘mesra’ pesan dari Jaekyung, semakin pula Harin merasa kesal. Sekarang, bagi Harin, semua itu terdengar seperti manipulasi. Rasanya Harin ingin menumpahkan segalanya di pesan, lalu memutuskan Jaekyung sekarang juga, tetapi Harin ingin mengatakannya langsung di depan wajah Jaekyung. Seo Harin 1.37 PM Langsung saja. Aku akan makan dari rumah. Jae❤️ 1.38 PM Baiklah, My Rin. Sayang, aku masih ingat caramu memelukku semalam… Caramu membalas ciumanku… Caramu meremas rambutku saat aku mencium atau mengisap tubuhmu… Desahan manismu… Tubuhmu yang seksi… Indah sekali, Sayang… Aku berkaca di kamarku dan melihat bekas cakaranmu di punggungku. Aku ingin cakaran itu memenuhi punggungku… sebagai bukti bahwa aku dimiliki olehmu. Akan lebih baik kalau kau menandai seluruh tubuhku. Aromamu melekat di tubuhku, Sayang. Aku bisa gila. Kau sangat sempurna. Aku ingin merasakan kasih sayangmu setiap hari, Cinta… Aku mau sedekat itu denganmu setiap hari. Aku bisa mati tanpamu. —Read, 1.36 PM Harin menutup chatroom itu dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. Dia tak ingin membalas Jaekyung lagi. Saat ini, di matanya, semua yang Jaekyung katakan itu seperti kemunafikan besar. Seperti kebohongan yang beracun. Harin tahu bahwa Jaekyung sangat… intens. Namun, yang Harin tidak tahu adalah: Jaekyung bukan hanya intens. Sejak dahulu, Jaekyung selalu memperlakukannya seperti dewi. Seperti seorang ratu. Seolah-olah dia adalah satu-satunya hal yang menjaga pemuda itu tetap hidup normal. Seolah-olah dia adalah sang Matahari, sementara pemuda itu adalah Bumi yang mengelilinginya. Bagi Jaekyung, Harin bukan cuma pacar; Harin adalah altar tempat dia memuja. Harin adalah jangkarnya. Pusat dunianya. Menjadi ‘milik Harin’ bukanlah status asmara belaka baginya. Itu adalah eksistensi. Identitas. Tanpa label 'pacar Harin', dia hanyalah sekumpulan insting primal dan kemarahan yang tak memiliki rumah. Di otaknya, tak ada ruang untuk memproses dunia dimana dia bukanlah kekasih Harin. Namun, sekitar tiga bulan belakangan… Jaekyung mulai ‘berulah’. Dia masih bersikap sama di hadapan Harin, tetapi dalam waktu yang bersamaan, dia juga berbohong dan dekat dengan perempuan lain. Selama tiga bulan belakangan ini, sebenarnya… Harin mulai memikirkan beberapa penyebab yang belum sempat dia konfirmasi pada Jaekyung karena terlalu sibuk diam sambil menahan sakit. 1. Mungkin Jaekyung bosan padanya. 2. Mungkin dia ada salah pada Jaekyung, yang tidak dia sadari. 3. Mungkin ada sesuatu yang terjadi di kehidupan Jaekyung, yang anehnya kali ini tak Jaekyung ceritakan padanya. Namun, sekarang… masa bodoh dengan semua itu. Harin tak mau memikirkan itu lagi. Buktinya sudah banyak. Jaekyung mesra-mesraan dengan Seulhee di koridor tadi saja sebenarnya sudah cukup untuk mengakhiri hubungan mereka. Harin sudah sering melihat pengkhianatan di depan matanya sendiri. Harin akan memutuskan Jaekyung nanti malam. ****** Di sepanjang perjalanan malam ini, Jaekyung terus memegang tangan Harin. Mencium dan meremas punggung tangan gadis itu sambil berkendara. Sesekali, dia menciumi wajah, bibir, dan leher Harin saat berhenti di lampu merah. “Sayang, kangen…” bisik Jaekyung. “Cantik sekali, Sayang…” Harin hanya diam. Mematung. Berpura-pura tersenyum tipis saat Jaekyung membisikkan kata cinta padanya. Dia setengah mati mencoba untuk sabar. Ya, bayangkan saja. Bibir yang membisikkan kalimat-kalimat mesra itu, bibir yang menciuminya itu, adalah bibir yang sama yang berbisik mesra pada Seulhee dan perempuan-perempuan lain. Menjijikkan. Sabar. Tinggal malam ini saja. Kau sudah menahan semuanya selama berbulan-bulan. Satu atau dua jam tidak ada apa-apanya. Jangan sekarang. Tunggu sampai dia selesai balapan. Begitu mobil Jaekyung memasuki arena, suara dentum musik EDM dari barisan mobil yang terparkir langsung menyapu pendengaran. Belum ada balapan yang dimulai, tetapi udara sudah terasa padat dan gerah oleh antisipasi. Ada aroma bensin yang menguap dan bau karet ban yang mulai panas karena beberapa mobil melakukan burnout singkat di kejauhan, mungkin sekadar memanaskan mesin atau pamer kekuatan. Di beberapa sudut, ada gerombolan orang yang berkumpul. Mereka duduk di kap-kap mobil. Cahaya lampu neon warna-warni dari modifikasi mobil-mobil itu memantul di aspal; atmosfernya liar sekaligus artifisial. Suara revving mesin sesekali terdengar dari jauh. Jaekyung mematikan mesin mobilnya, tetapi getaran dari musik di luar sana seolah-olah berpindah ke kabin mobil. Harin juga mendengar teriakan histeris para perempuan tatkala melihat mobil Jaekyung sampai. Mereka semua berpakaian seksi. Para lelaki juga langsung mendekati mobil Jaekyung seraya bersorak. Banyak yang jadi semangat tatkala melihat kedatangan Jaekyung. Suasananya jadi riuh. Harin meremas tangannya sendiri. Dia sudah beberapa kali diajak Jaekyung ke arena balap, tetapi kali ini, ada rasa gugup yang mampir di benaknya karena dia punya agenda untuk memutuskan Jaekyung. Apakah semuanya akan lancar-lancar saja? Harin mendengkus. Harus. Harus lancar. Jaekyung menoleh kepada Harin dan tersenyum lembut. Dia memajukan tubuhnya demi mendekati Harin, lalu membukakan sabuk pengaman gadis itu. “Kita sampai, Cinta,” bisiknya. Dia mencium bibir Harin, lalu membelai rambut gadis itu. “Jangan jauh-jauh dariku, ya?” Harin mengangguk singkat. Yah, gadis itu memang tak punya kepentingan apa pun di sini selain memutuskan Jaekyung setelah balapan nanti. Jaekyung tersenyum bahagia melihat respons Harin. Sudah lama sekali Harin tidak ikut ke arena balapan bersamanya. Dia memeluk Harin dan menciumi leher Harin dengan manja. Menghirup aroma Harin dalam-dalam. “Hmmh… Rindu sekali, Sayang. Boleh ciuman sebentar?” Harin menggeleng, menarik wajah Jaekyung agar menjauh dari lehernya. Dia menatap mata Jaekyung dengan serius. “Balapannya akan dimulai sebentar lagi, Jaekyung.” Jaekyung jadi mewek. Bahunya agak turun karena kecewa. “Kan cuma sebentar, Sayang…” Bohong. Ciumannya dari dahulu tak pernah cuma ‘sebentar’. Harin bisa-bisa digagahi di mobil ini. Harin menggeleng tegas. “Tidak boleh.” Jaekyung hampir merengek, dia langsung kembali memeluk tubuh Harin dengan erat dan mencium area telinga Harin. Dia lalu berbisik dengan nada desperate, seperti kecanduan dosis tinggi. Oh, dia sangat menikmati rasa tidak berdaya di depan perempuan yang dia puja ini. “Setelah aku selesai, kita langsung pulang, ya? Aku mau mesra-mesraan seperti kemarin... Mau bercinta denganmu… Boleh, ya, Sayang?” Jujur saja, saat mendengar itu, jantung Harin sempat berdegup kencang seperti ‘Deg’ sebelum akhirnya bak berhenti total. Jemarinya bergetar singkat. Napasnya tertahan. Lagi-lagi, hatinya mulai mengacaukan logikanya. Lagi-lagi, dia merasakan sakit yang luar biasa. Soalnya, selama beberapa bulan belakangan… dia selalu merasa bahwa saat Jaekyung mencumbunyalah, dia baru merasa diinginkan. Saat mencumbunyalah, Jaekyung tampak jatuh cinta. Namun, kali ini, dia tahu bahwa itu salah besar dan dia tak bisa mengandalkan alasan itu lagi. Harin bisa mencium wangi maskulin dari tubuh Jaekyung. Aroma khas pria itu. Musk yang sangat dalam. Oud. Aromanya intoxicating. Dark. Sensual. Mysterious. Addictive. Harin hafal wangi ini. Wangi yang masih melekat di kulit atau pakaian Harin meski Jaekyung pergi. Wangi yang membuat Harin tak bisa berhenti menghirupnya. Wangi yang terkesan complex, mahal, tajam. Berat dan berbahaya, tetapi memabukkan. Jaekyung masih sama. Masih beraroma seperti ini. Kata-kata manja Jaekyung tadi juga masih seperti Jaekyung yang biasanya. Itu membuat Harin jadi… …lemah… …dan ingin menyerahkan diri pada perasaan yang dia punya. Harin bukan robot; dia punya sejarah lima tahun bersama Jaekyung. Saat Jaekyung manja padanya, sebenarnya… itu adalah senjata paling ampuh untuk membuat Harin goyah. Namun, Harin tahu bahwa dia tak bisa goyah lagi. Dia tak bisa menyiksa dirinya lebih jauh dari ini. []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN