6. Arcane (4)

1389 Kata
Chapter 6 : Arcane (4) ****** TANPA sempat menyadari apa yang terjadi, Harin langsung terperanjat tatkala merasakan kedua tangan Jaekyung yang besar itu tiba-tiba masuk menyelip melalui bagian bawah bra-nya dan langsung menangkup kedua p******a Harin dengan cepat. “Ahh... Sayang…” desah Jaekyung sensual tatkala kedua tangannya sukses menangkup kedua p******a Harin dengan sempurna dan merasakan betapa lembutnya kedua gundukan daging yang bulat itu. Kini akalnya seakan sudah hilang sepenuhnya. Ia mulai menciumi seluruh bagian leher Harin; dia memberikan ciuman yang selembut kapas, tetapi penuh dengan hasrat. “Lembut sekali, Sayang… Sangat lembut. Bentuknya bulat, pas sekali di tanganku. Oh…putingnya mengeras, Sayang... Enak, Sayang?” Harin menengadah, dia memejamkan kedua matanya kuat-kuat dan menggigit bibirnya. Dia punya feeling bahwa jika dia tidak menggigit bibirnya, desahannya akan tak terkendali dan itu pasti akan membuat Jaekyung jadi semakin bersemangat. Namun, sungguh, Harin seratus persen sadar bahwa apa yang sedang Jaekyung lakukan pada payudaranya itu terasa begitu nikmat. Sebetulnya, walau mereka sudah berpacaran selama lima tahun lamanya, baru kali ini Jaekyung benar-benar memegang payudaranya secara langsung tanpa penghalang apa pun. Dia sering sekali dicumbu oleh Jaekyung, sudah tak terhitung berapa kali. Pemuda itu terkadang tiba-tiba muncul di depan apartemennya, lalu mencumbuinya. Sama seperti malam ini. Terkadang Jaekyung mencumbuinya di dalam mobil, di kampus, bahkan di rumah pemuda itu. Akan tetapi, selama ini mereka melakukan itu dalam keadaan masih terhalang pakaian. Paling-paling…pakaian mereka jadi berantakan karena panasnya make out yang mereka lakukan. Namun, malam ini agak berbeda. Setelah lima tahun lamanya, akhirnya Jaekyung betul-betul memegang p******a Harin tanpa penghalang. Jaekyung yang selama ini selalu mencium dan meremas p******a Harin dari luar; Jaekyung yang mendambakan setiap inci tubuh Harin…pemuda itu hanya dapat mengutarakan kekagumannya melalui sentuhan yang b*******h dari luar pakaian Harin. Biasanya Jaekyung selalu menuruti apa pun yang Harin inginkan; jika Harin bilang jangan atau tidak, Jaekyung pun akan berhenti. Pemuda itu tak ingin Harin marah padanya. Akan tetapi, malam ini berbeda. Jaekyung seperti terpengaruh oleh sesuatu dan langsung melakukan apa yang pemuda itu inginkan tanpa meminta persetujuan Harin lagi. Anehnya, alih-alih menghentikan Jaekyung, Harin yang sudah terpengaruh oleh hasrat Jaekyung itu pun justru diam saja. Dia seolah membiarkan Jaekyung meremas payudaranya dengan bersemangat. Namun, tatkala Jaekyung tiba-tiba menarik kedua putingnya, Harin sontak berteriak. “Ahh!! Ahngg—ahh!!” “Oh, your voice, My Queen,” ujar Jaekyung, pemuda itu seakan tersihir karena suara desahan kekasihnya. “It sounds so…beautiful. Suka, Sayang?” “Jaekyung…!” Harin terengah-engah. Demi Tuhan, dia merasakan kenikmatan yang luar biasa saat putingnya ditarik dengan kuat, tetapi dia tahu bahwa dia harus segera menghentikan Jaekyung. “Sudah—ahh!! Hngh!!” “Boleh kuisap?” pinta Jaekyung tiba-tiba. Dia terdengar memohon. Secara mendadak, Harin juga merasa bahwa tubuhnya kini mulai terentak-entak ke atas karena Jaekyung mendorong kejantanannya yang masih terbungkus celana jeans itu ke area kewanitaan Harin yang juga masih terbungkus celana tidur. Jaekyung mengentakkan kejantanannya dari bawah dengan kuat, berkali-kali, seolah ingin merasakan gesekan yang ditimbulkan dari sana. Seolah sambil ingin berfantasi bagaimana kalau kejantanannya memang masuk ke dalam v****a milik Harin. “Aku isap, ya, Sayang? Putingnya mengeras… Ini pasti akan terasa sangat nikmat apabila berada di antara lidahku. Boleh, ya?” Napas mereka berdua memburu. Sebelum Harin sempat menjawab apa pun, Jaekyung langsung membawa Harin yang sedang berada di dalam gendongannya itu ke arah ranjang, lalu membanting tubuh Harin ke sana dengan tidak sabaran. Harin terperanjat tatkala menyadari bahwa tubuhnya yang tadinya terimpit ke dinding itu tiba-tiba kini sudah berada di atas ranjang dan langsung ditindih oleh tubuh besar Jaekyung. Dia berasa kecil sekali di bawah tubuh kekar Jaekyung yang menjulang di atasnya. Cahaya lampu di bagian atas ruangan itu langsung terhalang oleh tubuh Jaekyung; Harin diselimuti oleh bayangan Jaekyung. Seluruh penglihatan Harin kini dipenuhi dengan sosok pemuda itu yang tengah mengungkungnya dari atas. Mereka pun saling bertatapan. “Ah… Aku sangat mencintaimu,” ujar Jaekyung, desperate. Matanya menatap Harin dengan penuh cinta, penuh gairah, dan penuh hasrat. “Aku mencintaimu, Sayang. Cinta kamu. Semuanya untukmu.” Harin jujur sedikit kaget dengan ungkapan cinta itu. Sebenarnya, sudah tak terhitung berapa kali Jaekyung mengungkapkan cinta kepadanya, tetapi malam ini Jaekyung benar-benar terlihat putus asa. Matanya terlihat menatap Harin dengan penuh damba; dia menatap Harin begitu dalam seolah sedang berada dalam pengaruh sihir. Dia terlihat begitu mengagumi kecantikan Harin. Begitu lapar. Begitu memuja. Tiba-tiba Jaekyung melepas seluruh kancing baju tidur Harin dan langsung melemparkan baju itu ke sembarang arah hingga jatuh ke lantai. Tak membuang waktu, ia lantas membuka bra yang sedang Harin kenakan, lalu melempar bra tersebut ke lantai juga dengan tak sabaran. Harin sempat berteriak, “Ah!” karena perlakuan itu. Seluruh penutup bagian atas tubuh Harin sudah benar-benar terlepas dari gadis itu; ia kini setengah telanjang di hadapan Jaekyung. Dia terperangkap di bawah kedua mata Jaekyung yang semakin menatapnya dengan rasa ingin. Ia sungguh merona karena merasa benar-benar terbuka di bawah pengawasan mata Jaekyung yang menggelap tatkala melihat penampilannya saat ini. “Cantik sekali,” puji Jaekyung. “Cantik, Sayang. Terlihat sangat…nikmat. Seksi sekali.” Setelah mengatakan itu, Jaekyung menjilat bibirnya dan menatap Harin dengan penuh nafsu. Pemuda itu kemudian langsung merunduk dan mengisap p****g berwarna merah kecoklatan milik Harin tanpa ampun. Dia menyedotnya, menariknya dengan kuat menggunakan lidahnya, menggigitnya, dan mengemutnya; dia terlihat begitu haus. Begitu lapar. Dia sudah terbakar nafsu berahi. Desahan Harin yang kini tak terkendali itu semakin membuatnya gila. Dia yang sedari tadi sudah merasa hilang akal, kini semakin merasa tak terkontrol. Dia ingin menyetubuhi Harin sekarang juga. “Angh!! Ah—Jaekyung...!” rengek Harin. “Jaekyung—sudah… Ahh! Ah! Pelan—pelan-pelan, Jaekyung...” Mendengar itu, Jaekyung jadi semakin merasa dimabuk gairah. Udara yang dia hirup seolah merupakan udara yang sangat berat dan bertekanan tinggi akibat dipenuhi dengan cinta. Hormon dopaminnya memelesat hingga full; dia serasa berada di atas awang-awang. Ah, dia bisa-bisa ketagihan. Jika mulutnya tengah sibuk menyusu di p******a Harin yang sebelah kanan, tangannya sibuk memelintir dan menarik p****g p******a Harin yang sebelah kiri. Sesekali dia meremas p******a itu dengan semangat. Memutarnya…meremas demi merasakan kekenyalannya…memainkan putingnya di telapak tangannya…lalu meremasnya kembali, merasakan betapa lembut, bulat, dan indahnya p******a natural milik Harin, serta merasakan betapa pas ukuran p******a itu di tangannya yang besar. Dia bisa gila. Setelah itu, Jaekyung mengganti posisinya. Dia mengisap p******a Harin yang sebelah kiri dan kini tangan kirinyalah yang bertugas memainkan p******a Harin yang sebelah kanan. Jeritan Harin terdengar begitu merdu di telinganya. Dia betul-betul terobsesi. “Ah—nikmat sekali,” ujar Jaekyung tatkala mulutnya melepas p****g Harin dengan suara kecupan yang sensual. “Nikmat sekali, Sayang…” pujinya. “Jaekyung, rasanya agak perih…” rengek Harin. Kedua putingnya berasa pedih dan panas. Sepertinya, seluruh bagian dari payudaranya kini jadi merah-merah. Dengan mata yang berkaca-kaca, Harin pun memohon pada Jaekyung, “Sudah, ya…?” Namun, hal itu justru berefek sebaliknya pada Jaekyung. Melihat Harin memohon padanya dengan mata berkaca-kaca seperti itu, merengek padanya, dia jadi semakin ingin menyetubuhi Harin tanpa ampun, sekarang juga. Dia jadi ingin bersanggama dengan Harin. Dia menggeram; rahangnya mengeras dan dia menggertakkan giginya. Setelah itu, dengan tanpa ampun dia langsung menarik kedua tangan Harin untuk diletakkan di atas kepala gadis itu. Dia langsung mengunci kedua tangan Harin itu dengan sebelah tangan kirinya, kemudian dia juga langsung melepaskan celana tidur Harin dengan satu gerakan tangan kanannya. Setelah dia melempar asal celana tersebut, dengan geraman yang rendah dia pun membuka ritsleting celananya sendiri dan menurunkan celana jeans itu sedikit ke bawah hingga hanya terlihat boxer hitam ketatnya yang menampilkan kejantanannya yang sudah berdiri tegak. Kejantanan itu sungguh besar, berdiri tegak, dan berurat. Harin sontak melebarkan matanya karena panik. Pipinya memanas dan memerah; jujur baru kali ini dia melihat kejantanan Jaekyung meski masih tertutupi oleh boxer. Harin terperangah. Dia langsung bergerak dengan gelisah. Dia takut Jaekyung benar-benar akan berhubungan seks dengannya saat ini, padahal hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. “Jangan—Jae—” Namun, tanpa ba bi bu lagi, Jaekyung langsung mendekatkan dan mendorong kejantanannya yang tertutupi oleh boxer itu ke v****a Harin yang juga masih tertutupi oleh celana dalam. Jaekyung langsung mengentakkan kejantanannya ke v****a Harin—seakan menyetubuhinya dengan sangat kuat—hingga Harin merasa seolah sedang dihujam dari bawah, padahal kedua alat vital mereka masih terhalang oleh kain. “Ahhh!” desah Harin, gadis itu nyaris berteriak. “Hangh—ahh!! Jae—Jaekyung—jangan...! Jaekyung…!” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN