Wishaka – Safana

1134 Kata
Tidak pernah Shaka senyenyak ini. Maksudnya setelah patah hati, jam tidurnya jadi tidak teratur. Sesukanya, suka-sukanya, karena sulit memejamkan mata. Namun kali ini terasa beda, guling yang ia peluk serupa manusia. Wanginya manis, lembut, berleku–tunggu! Dalam satu tarikan napas, Shaka langsung buka mata. Ia menelan ludah, kemudian menundukkan kepala. Sungguh lelucon pagi yang tidak lucu! Bagaimana bisa di kamarnya, di atas ranjangnya, ada manusia berjenis kelamin perempuan?! Sejak kapan masu–ah, Shaka lupa, ia sendiri yang membawa. Kembali Shaka memejamkan mata, kali ini lebih erat sebelum kemudian mengerang panjang. Lebih tepatnya, mengutuk. Bodohh! Ke mana otaknya tadi malam?! Pelan-pelan Shaka menarik tangan, kemudian duduk linglung. Bagaimana tidak begitu, kala fakta lain menyerbu, ia tidak mengenakan baju. Mendadak Shaka terkekeh, bahkan meremas rambut saat puing ingatan berkumpul jadi satu. Kilas adegan bak ksatria, Shaka menggendong Safana yang mabuk. Membawanya dari Bar ke apartemen, karena tidak mau menginjakkan kaki di mansion Rajata. Alasannya takut orang sana mikir macam-macam, apalagi dengan kondisi Safana yang oleng-olengan. Belum lagi kalau Rajata menuduh. Shaka tidak suka pria itu sejak jadi rival cintanya, sampai sekarang. Safana yang tidak sadar sangat-sangat merepotkan. Ia tahu perempuan itu cerewet, tapi tidak berpikir akan separah ini. Karena Safana bukan cuma ngomong saja, dia juga tidak bisa diam. Sampai Shaka kewalahan dan membiarkan dia mengobrak-abrik apartemennya. Terakhir kelakuan yang membuat Shaka nyaris jantungan, Safana bilang dia kepanasan. Membuka bajunya terang-terangan. Yang namanya orang mabuk jelas tidak akan sadar, jadi jangankan merasa malu, merasa saja dia tidak. Tinggal yang waras melihatnya ketar-ketir. Jujur, wajah Shaka sampai memerah. Karena kaget, salah tingkah, sekaligus tidak nyaman. Alasan kenapa ia tidak mengenakan pakaian, Safana dua kali memuntahi kaos yang ia kenakan. Membuat Shaka jengkel, lalu berujung ngambek tidak mengenakan atasan. Ia pikir paginya akan biasa, namun tetap saja kaget karena belum terbiasa. Kini Shaka terkekeh kering, merutuki kebodohan karena mau-maunya menjerumuskan diri pada kekacauan. Maksudnya, tadi malam apa yang ia pikirkan sampai membawa Safana ke apartemennya? Dibilang berbuat baik, tapi sekarang tidak ikhlas. Bagaimana mau ikhlas, apartemennya berantakan. Safana si tukang kebersihan, nyatanya biang kerusuhan. Menyesal setengah hidup Shaka dibuatnya. Ia menyibak selimut kesal, bangkit dengan jengkel. Sebelum keluar kamar, sekali lagi Shaka melontarkan tatapan tajam pada Safana, yang ada di sisi lain kasurnya. Lihat saja, akan Shaka buat perempuan itu tidak tenang begitu dia membuka mata. Langkah Shaka terjeda-jeda. Barang berserakan di mana-mana akibat ulah macan betina. Ya, sekarang ia menyebut Safana macan betina, karena persis sekali sifatnya. Sampai di pantry, Shaka melakukan rutinitas paginya. Menyeduh kopi untuk sarapan, walaupun kenyataan tidak baik untuk lambung. Sambil bertolak pinggang Shaka meminum kopinya. Matanya memicing ke beberapa tempat, lalu mendengkus di akhir. Perlahan ia duduk, dalam suasana hati mulai reda dari kejengkelan. Ini pagi terburuk yang pernah ada. Harusnya Shaka tidak usah sok pahlawan, toh Safana pelayan Rajata. Sepupu terjahat yang pernah ada. Menyesal Shaka pernah menghormati, karena ujung-ujungnya ditusuk dari belakang. Gadis yang Shaka cintai, secara tidak sadar direbut. Bahkan dengan cara licik dan kejam. Mengingat itu bagai mencongkel emosi. Napas Shaka bahkan tidak beraturan, saking jengkelnya. Bunyi gaduh menyadarkan Shaka dari lamunan. Ia menatap sumber suara, kamarnya. Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Menampilkan macan betina yang linglung, dengan rambut berantakan. Herannya, masih terlihat lumayan. Maksud Shaka, wajahnya pucat tapi masih enak dilihat. Shaka langsung menunjukkan atensi. Berdiri angkuh, dengan tangan terlipat di d**a. Ia menatap Safana sinis. “Gimana tadi malam?” tanyanya, sedikit mengejek. “Nyenyak tidurmu?” Yang ditanya kebingungan. Dia celingak-celinguk, lalu menatap Shaka lagi. Sempat mengernyitkan alis, sebelum kemudian membelalakkan mata. Telunjukknya teracung pada Shaka. “Tu-tuan Muda?!” “Ya, kamu memanggil saya begitu.” “Ke-kenapa bisa?” “Tentu saja bisa!” Safana menciut saat Shaka menunjukkan kuasa. Pelan-pelan ia berjalan menghampiri Safana. Kontak mata tidak diputus, karena Shaka ingin Safana takut padanya. Setelah berbuat kekacauan tadi malam, kini waktunya dia mempertanggungjawabkan. “Mengingat sesuatu, hm? Kenapa bisa di sini, juga kenapa ada keadaan begini?” Safana mencoba mengingat-ingat, keningnya sampai berkerut. Tapi dari semua itu, ia gagal. Seperti ada puzzle yang hilang, kepala Safana seolah berlubang. Pertama kalinya ia hilang kesadaran, jadi ia tidak tahu harus apa. Inipun tidak sengaja. Kalau saja tidak minum minuman yang dipesan Riko, tidak mungkin Safana terjebak dengan Wishaka. “Tuan Muda, anu ... apa yang terjadi?” “Apa yang terjadi kamu bilang?!” “Iya ... soalnya ... saya lupa ... ehehe ...” Decihan sinis Shaka berikan. “Kamu mabuk. Kalau tidak saya bantu, mungkin saja kamu berakhir dengan laki-laki licik itu. Saya bawa kamu ke apartemen saya, tapi kamu tidak tahu diri menghancurkannya. Benar-benar kesialan beruntun. Ibarat pepatah, saya ini sudah jatuh, tertimpa tangga.” Bibir Safana mengerucut. “Mana saya tahu, Tuan Muda. ‘Kan saya mabuk. Itu juga pertama kalinya. Serius!” “Lantas, saya berbaik hati, begitu?” “Siapa tahu. Bisa jadi iy–” “Minta maaf dan bereskan kekacauan ini!” Tubuh Safana menegak. Ia sempat menelan ludah, kemudian mengangguk cepat. “Baik, Tuan Muda. Baik!” Selanjutnya tangan tertangkup di dadaa, lalu dijunjung ke atas kepala. “Maaf! Mohon maaf untuk kelancangan saya!” Shaka mendengkus songong. Ia membuang muka, seolah tidak tergugah. “Saya kurang beruntung tadi malam, lalu menularkannya pada Tuan Muda. Lain kali, nggak akan terjadi lagi. Sumpah bisulan, enggak akan lagi.” “Tentu saja. Kalau sampai terjadi, habis kamu sama saya.” “Iya!” sahut Safana cepat. “Saya segera membereskannya, setelah itu pergi dari sini. Janji, saya enggak akan muncul lagi di depan Tuan Muda. Suwer.” “Bagus!” Shaka mengangguk puas. “Langsung kerjakan. Saya beri waktu dua jam. Kalau lebih, saya tuntut kamu!” “Siap!” Usai menjawab, Safana kelabakan berlari. Ia ke sana kemari mencari peralatan bebersih, sementara Shaka menonton. Tapi, tahu apa yang terjadi? Shaka diam-diam terkekeh, pikirnya, lucu juga ... *** Safana pulang sambil menggerutu. Ia merutuki kesialan, serta umpati Riko yang jahat. Setelah ini, akan ia jauhi berondong ganteng itu. Ia hapusi seluruh chat-an mereka, lalu ia blokir kontaknya. Bukan main Safana kecewa. Biar dikata mudah tertarik dan terpesona, tapi sekali kecewa ia langsung waspada. Perasaannya padam detik itu juga, menyisakan kejengkelan yang luar biasa. Safana memasuki rumah besar. Jam menunjukkan pukul sebelas siang, harusnya tidak bertemu Tuan Rajata lagi, karena ini hari kerja. Sedikit banyaknya, ia langsung bernapas lega. Tapi, ngomong-ngomong, selain Rajata, ada orang-orang yang lebih Safana waspadai. Mendadak pula ia menciut. Gimana kalau diinter– “Safa darimana?” Ah, belum habis berpi– “Fa, aku menelponmu dari semalam. Apa yang terjadi?” Bahkan Mara juga– “Safa sepertinya mulai nakal, ya?” Astaga, Megan-pun sama! Safana sampai menutup mata. Langkahnya mutlak terhenti, sejak tiga orang menghadang dan melayangkan pertanyaan bertubi-tubi. Ya, ini yang lebih ia waspadai. Dibandingkan Rajata, Safana jauh lebih takut pada orang-orang ini. Rekan kerja, serta nyonya-nya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN