Haram Memiliki Anak (48) Jiwaku seperti melayang. Clara! Dia adalah adik yang sangat baik. Bahkan semua yang dilakukannya—memisahkanku dari Mas Kisam—semata-mata karena ingin melindungiku. Dia tidak ingin aku hidup bersama lelaki—yang dalam pikiran kelirunya—biadab. Mas Kisam menemui dokter yang merawat Clara untuk meminta izin menjenguk. Setelah mengganti pakaian dengan yang steril, aku dan Mas Kisam diizinkan masuk. Namun, maksimal hanya boleh lima belas menit di dalam. Hatiku teriris melihat ada begitu banyak selang yang tehubung ke tubuh Clara. Rambut lebatnya tidak tersisa sehelai pun. Kepalanya plontos. Dia terlihat begitu lemah dan rapuh. Bibir dan kulit wajahnya amat pucat, seperti tidak ada warna darah sama sekali. “Dek ….” Mengerang, Clara merespons panggilanku. Aku mengg

