BAB 4 Bayi Siapa?

849 Kata
BAB 4 Bayi Siapa Keributan Mas Fauzi dan Kak Dikri menimbulkan perhatian orang-orang. Beberapa pria dewasa segera melerai dan memisahkan keduanya. "Mas kamu apa-apaan, sih?" desisku, "bikin malu tau!" "Bikin malu? Kamu yang bikin malu! Inget status kamu, kamu itu istri orang. Bisa-bisanya kamu mengobrol dengan lelaki lain. Nggak punya malu!" "Mas, aku sama Kak Dikri cuma kebetulan berpapasan. Lagian ..., " butuh kekuatan yang besar agar aku bisa melepaskan kalimatnya berikutnya, "lagian kita juga akan bercerai." Jari-jari Mas Fauzi mengepal, matanya menatap nyalang. Aku bisa merasakan kemarahan yang teramat besar menguar. Menguar seperti asap tebal tak kasatmata yang pekat dan menakutkan. Aku dan Mas Fauzi memang menepi, menjauh dari kerumunan. Sekilas aku melihat Clara sedang memeriksa keadaan Kak Dikri di dekat mobil milik Mas Fauzi. Sementara orang-orang sudah membubarkan diri. "Kamu wanita akhir zaman, Citra! Berani kamu meminta cerai dari suami yang sudah membiayai hidup keluarga kamu?" Jantungku tersentak. Mas Fauzi mengangkat tangan, aku secara refeleks langsung menyurut mundur. Namun, ternyata Mas Fauzi malah mengelus pipiku, menghapus air mata yang meleleh. "Citra, apa kamu nggak bisa merasakan ketulusan cinta Mas selama ini? Mas sayang sama kamu. Mas nggak mau kehilangan kamu." Aku menepis pelan tangan Mas Fauzi, berpaling. Kata-kata Mas Fauzi membuatku ketar-ketir. Kebaikan-kebaikannya selama ini tidak dapat aku lupakan begitu saja. Terlebih kebaikan Mas Fauzi pada ibu-bapak dan Clara. "Apa kamu nggak bisa melupakan ajah kejadian kemarin itu, Citra? Bayi itu baru hadir beberapa minggu dalam hidup kamu. Sedangkan Mas, Mas sudah hadir bertahun-tahun dalam hidup kamu. Selama kamu hidup sama Mas, apa pernah Mas menyakiti kamu? Mengecewakan kamu? Tapi bayi itu ... dia ... dia yang sudah merusak keharmonisan rumah tangga kita. Coba kamu pikir, rumah tangga kita baik-bail aja sebelum kehadirannya." Mas Fauzi menggenggam tanganku. Dia kembali bicara, "Kita lupakan ajah semuanya. Kita mulai semuanya dari awal. Jangan sampai badai kecil ini merusak keharmonisan rumah tangga kita. Citra ... kamu harus bisa melewati godaan ini. Jangan sampai kekecewaan kamu menutupi semua kebahagiaan kita selama delapan tahun. Mas tanya, apa selama delapan tahun ini kamu tidak bahagia?" "Aku ... aku ...." Aku bahagia. Mas Fauzi sangat baik. Dia selalu membuatku bahagia. Tapi .... "Bayi itu godaan dan cobaan dalam rumah tangga kita Citra. Kehadirannya hanya untuk mengguncang dan menguji. Kita pasti bisa melewatinya." Apa benar begitu? Tapi kenapa rasanya aku masih tidak rela kehilangan bayi dalam kandunganku. "A-aku ... aku mau pulang." Aku menarik kedua tangan yang masih Mas Fauzi genggam. Di dekat mobil, Clara masih memperhatikanku, tetapi Kak Dikri sudah tidak kelihatan. Begitu aku berbalik melangkah ke arah rumah, Clara langsung mengikuti, tak butuh waktu lama dia sudah ada di sampingku―kami berjalan beriringan. ??? "Kak, kakak enggak berniat mundur, 'kan? Maaf tadi aku ikut nguping separuh percakapan Kakak sama Om Fauzi." "Kakak juga enggak tau, Dek. Jujur kakak juga masih sayang sama Mas Fauzi. Tapi ... setiap kali kakak inget sama bayi yang digugurkan Mas Fauzi, hati kakak terasa sakit. Kecewa." "Kak ..., " Clara menjeda sebentar, "mungkin nggak sih kalau sebenarnya Om Fauzi itu sudah punya anak dari wanita lain. Clara minta maaf, Clara nggak ada maksud buat jelek-jelekin Om Fauzi. Tapi alasan Om Fauzi buat nggak mau punya anak itu nggak jelas banget." Ucapan frontal Clara mampu membuatku berhenti melangkah. Aku menoleh ke belakang, Mas Fauzi tidak kelihatan―dia tidak menguti. "Dek jangan bicara sembarangan," tegurku, halus. "Nggak sembarangan, Kak. Tantenya temen Clara, ada yang seperti Kak Citra. Suami Tante Dina juga nggak mau punya anak. Setelah ditelusuri ternyata suami Tante Dina itu udah punya anak dari istri pertamanya. Nah, kan Om Fauzi juga sering keluar kota buat ngirim orderan kerajinan patung. Bisa ajah dia punya istri lain di luar kota." "Clara cukup!" suaraku lebih keras dari yang kubayangkan. Clara mengerjap dan langsung menunduk. "Maaf, Kak." "Lain kali jangan bicara sembarangan lagi." "Iya, Kak." ??? Hari ini aku tidak jadi mem-fotocopy berkas- berkas untuk kepentingan pengajuan surat cerai dan sidang perceraian. Selepas shalat Isya, aku pamit untuk tidur lebih awal. Sebenernya aku hanya ingin sendirian dan merenung. Kata-kata Mas Fauzi dan Clara seperti saling bersahutan di dalam kepala. Aku bimbang. Ragu. Apa perceraian memang jalan terbaik? Apa yang dikatakan Mas Fauzi benar? Kalau kehadiran sesaat bayi di dalam perutku hanya untuk menguji kekokohan rumah kami. Apa mungkin yang dialami tante temennya Clara juga menimpaku? Tidak. Tidak mungkin! Mas Fauzi bukan tipe orang seperti itu. Pasti ada alasan lain dan aku harus mencari tahu. Tapi bagaimana kalau ternyata Mas Fauzi benar- benar memiliki istri lain? Ketukan di pintu membuyarkan lamunanku. Suara Ibu mengalun lirih menembus pintu kayu. "Cit, ada Fauzi, dia ingin bertemu kamu." Mas Fauzi? Aku segera bangkit dan menata rambut, mengenakan jilbab blus. ??? Mas Fauzi dan Bapak sedang mengobrol di ruang tengah. Ada dua piring kue terang bulan di antara dua gelas kopi. Aku segera menyalami Mas Fauzi―walau bagaimana, aku masih berstatus istri yang harus menghormatinya. Namun, yang menarik perhatianku adalah wanita dewasa sekitar tiga puluh tahunan yang duduk di samping Mas Fauzi. Wanita dengan rambut disanggul itu menggendong bayi. Ya Allah, hatiku bergetar melihat bayi yang lucu itu. Tapi bayi siapa? Siapa juga wanita itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN