Ada dua sosok legendaris yang kehadirannya paling diantisipasi di seluruh penjuru FIB, terutama bagi siapa saja yang menyukai pria berwajah rupawan. Pertama ada Mas Javi, asisten Bu Wulan, dosen mata kuliah Filsafat Ilmu Sosial. Rambutnya yang agak gondrong melewati tengkuk dan sering kali dikuncir setengah membuatnya terlihat sangat menawan, mengingatkan beberapa orang penggemar film-film keluaran Studio Ghibli akan visualisasi Howl di Howl’s Moving Castle. Tampan, memiliki postur tubuh ideal dengan tato di lengan kanan bawah yang sesekali mengintip dari balik pakaian ketika beliau melipat lengan kemejanya sebatas siku. Yang kedua ada Mas Aji, asisten Pak Rudy, dosen mata kuliah Sejarah Maritim. Wajahnya yang memesona tampak semakin berkharisma dengan tambahan aksesoris kacamata bingkai bulat dan pakaiannya selalu modis. Berkebalikan dengan Mas Javi, Mas Aji terlihat sangat kalem dari luar, menyukai keteraturan—cenderung OCD—namun mematikan. Tidak boleh terlambat mengumpulkan tugas, materi presentasi tidak boleh lebih dari 15 slide, serta tidak suka segala sesuatu yang terlihat berantakan. Berdasarkan yang Manyari dengar dari anak-anak jurusan Sejarah, beberapa orang yang melakukan secara sengaja demi mendapat perhatian beliau, malah berakhir dengan huruf C di lembar kertas ujian mereka.
Siang ini saat Manyari sedang makan mie ayam di kantin dengan Erika, dia mendengar banyak sekali orang di sekitar mereka membicarakan tentang asisten dosen paling tampan ketiga di FIB yang berasal dari jurusan Sastra Inggris. Kabar baru tersebut rupanya sudah tersebar cukup jauh, karena sependek ingatan Manyari di jurusannya tidak pernah ada riwayat asisten dosen yang cukup tampan sampai bisa mengguncangkan seluruh FIB. Sebagai mahasiswi di jurusan ini, mau tidak mau Manyari jadi ikut penasaran. Setelah mengedarkan pandangan ke penjuru kantin dan menemukan sosok junior yang ia kenal, Manyari mengisyaratkan gadis itu untuk mendekat.
“Duduk sini Mel,” ajak Manyari. Erika yang juga penasaran ikut-ikutan melambai meski ia tak cukup akrab dengan Melinda. Menyadari ada sesuatu yang kurang beres dengan dua orang seniornya, Melinda tampak begitu pasrah mengikuti ajakan Manyari. Benar saja, begitu Melinda duduk di sebelah Manyari, ia langsung dibombardir dengan sederet pertanyaan tanpa putus-putus.
“Di jurusan kita ada asdos baru? Asisten siapa? Ada fotonya nggak? Akun medsosnya apa? Seganteng apa orangnya?”
Melinda sampai mengkerut mendengar celoteh Manyari yang tak henti-henti. Ia menyiuk, lalu mulai menyuap nasi campurnya sebelum menjadi dingin.
“Anaknya Pak Djatmiko kok, Mbak. Dia cuma bantu sebentar sebelum berangkat ke Amerika.”
“HAH?” Melinda menutup sebelah telinganya dengan tangan yang tidak memegang sendok akibat mendengar pekik nyaring dari Manyari dan Erika.
“Mbak Yari bukannya anak bimbingan Pak Djatmiko, ya? Kok bisa nggak tahu? Malah yang nyebarin infonya duluan temen bimbingannya Mbak Yari, yang cantik pake kacamata agak tinggi itu.” Melinda balik bertanya.
“Oooh, si Priskilla,” sahut Erika.
“Iya, Mbak yang itu.”
Mendengar kata bimbingan meluncur dari mulut orang lain otomatis membuat suasana hati Manyari langsung memburuk. Bagaimana tidak, ia belum bertemu lagi dengan Pak Djatmiko untuk bimbingan skripsi sejak seminggu ini sekembalinya beliau dari Amerika. Manyari sudah mengirim pesan ke nomor pribadi Pak Djatmiko, bahkan menghubungi beliau lewat email segala, tetapi belum ada tanggapan dari beliau. Bahkan saat Manyari mencoba mendatangi kantor beliau dua hari lalu, Pak Djatmiko tidak ada di sana, padahal pagi harinya beliau ada kelas.
Jika memang benar kabar burung tentang Pak Djatmiko yang memiliki asisten baru, bukankah semestinya akan lebih mudah menghubungi beliau, bukannya makin sulit begini. Tiba-tiba saja Manyari kehilangan nafsu makan. Selalu begini setiap kali membicarakan tentang Pak Djatmiko. Agaknya dia menyesal telah mencoba mencari tahu tentang sosok paling tampan nomor 3 di fakultasnya.
“Eh tunggu, anaknya Pak Djatmiko yang mana nih?” Erika bertanya setelah reda dari rasa kagetnya. “Kalau nggak salah yang nomor 1 dokter, yang nomor 2 nggak tahu jurusan apa tapi lagi ambil PhD di Jepang. Yang bungsu dan katanya sebentar lagi kuliah S2 ke Amerika bukan anak jurusan sastra, ‘kan?”
“Ya emang bukan, Mbak. Makanya lucu sih lihat dia bengong di kelas tiap kali Pak Djatmiko ngajar. Mbak mau lihat fotonya? Kayaknya kemarin ada temanku yang ngirim hasil candid di grup, deh. Bentar, aku carikan dulu.”
Melinda sibuk membuka galeri ponselnya dan menggulirkan layar ke bawah dengan sedikit kasar untuk mencari foto anak Pak Djatmiko. Setelah menemukan foto buram yang diambil dari jarak jauh dengan perbesaran tiga kali lipat itu, ia menunjukkan layar ponselnya pada Erika. Tampak seorang pria muda memakai kemeja hitam dan rambut disisir ke atas sedang merokok di parkiran belakang FIB. Salah satu tangannya dimasukkan ke dalam kantong celana bahan warna senada, dan ia memakai sepatu kulit berwarna cokelat sampang.
Erika memekik lirih saat mengamati foto tersebut, membuat Manyari yang semula tak lagi ingin terlibat dalam obrolan ini jadi kembali penasaran. Ia memutar sedikit arah ponsel Melinda agar bisa ikut melihat juga, dan ia harus mengakui betapa tampannya anak Pak Djatmiko itu. Sempat tebersit penyesalan dalam hatinya karena sempat menyumpahi laki-laki seganteng ini supaya tidak jadi berangkat ke Amerika, namun buru-buru Manyari tepis. Dari posturnya, cara berdiri, serta bagaimana jemarinya yang lentik memegang sebatang rokok mild, terlihat betapa arogan orang ini.
“Gayanya udah kayak karakter utama film-film romantis deh,” puji Erika. Ia mengalihkan pandangan untuk pertama kali dari layar ponsel Melinda yang ujung-ujungnya tampak retak, demi menatap Manyari lekat. “Yar, kalau kamu bimbingan ke kantornya Pak Djatmiko aku anterin ya! Penasaran pengin lihat dari dekat. Dari jauh aja udah seganteng ini, gimana dari dekat.”
Manyari mendengkus kesal mendengar ucapan Erika. Ha, menyesal nggak tuh karena nggak jadi anak bimbingannya Pak Djatmiko? Namun, ia menelan kembali kalimat tersebut karena khawatir akan melukai perasaan Erika di saat mereka baru saja berbaikan, dan hanya mengangkat bahu sebagai respons.
“Aku minta jadwal bimbingan aja nggak dibales kok pesannya. Padahal aku pengin maju penelitian dua minggu lagi, biar bisa ikut yudisium bareng Erika, tapi dikacangin mulu.”
“Mbak Yari watsapan sama Mas Ega?” tanya Melinda.
“Pak Djatmiko, lah! Gila kali.” Kali ini Manyari benar-benar tidak bisa menutupi rasa jengkelnya terhadap baik Pak Djatmiko maupun pembahasan tentang asistennya yang ganteng itu.
“Lah emang sekarang aturan barunya kalau kontak langsung ke Pak Djatmiko nggak bakal dibales, Mbak. Mbak Yari tanya ke Mbak Killa nomornya Mas Ega aja, nanti janjiannya lewat Mas Ega.”
Manyari begidik ngeri. Wajahnya pias membayangkan ia tak hanya harus berhadapan dengan Pak Djatmiko, melainkan dengan anaknya juga. Pak Djatmiko itu meski sulit ditemui dan sekali revisi nauzubillah banyaknya, tetapi beliau hampir tidak pernah marah-marah pada Manyari. Ia tidak bisa membayangkan jika harus berurusan dengan cowok sok keren ini juga.
“Baru semingguan ini kok, Mbak,” tambah Melinda saat melihat ekspresi panik di wajah Manyari. “Tunggu, kayaknya malah nggak sampai seminggu soalnya Mas Ega baru jadi asisten Pak Djatmiko 5 harian ini.”
Manyari mengibaskan telapak tangannya, berusaha menepis informasi yang diberikan Melinda. “Udah lah, aku nggak bisa ikut wisuda tahun ini, kayaknya. Aku udah nyerah.”
“Heeey, jangan nyerah dulu sebelum dicoba,” sergah Erika cepat. “Katanya mau liburan sama aku kalau udah lulus?”
Namun, Manyari sudah tidak memiliki harapan lagi akan nasib skripsinya yang masih menggantung.