NAGITA / KANIA : Aku duduk bertumpu dengan kedua lututku dalam kebutaanku. Tanganku meraba-raba tanah basah berusaha mencari celah. Mulutku terbuka, tenggorokanku terasa kasar dan sekuat tenaga kucoba berteriak, namun pita suaraku sepertinya sudah kehabisan daya. Aku menggigil, ketakutan. Lalu seberkas sinar muncul begitu saja di ujung sana. Keinginan berhasil memaksaku berdiri, melangkah tertatih ke arah cahaya pengharapan tersebut. Kujulurkan tanganku, telunjukku menyentuh sedikit pendar putih itu. Secara ajaib, berkas cahaya berubah menjadi bola kecil yang kemudian memantul ke banyak arah dan menerangi sekitarku. Kegelapan berganti putih. Aneka warna mulai bersatu padu membentuk gambaran, baya- ngan, atau apapun itu. Cahaya membutakan mata, membuatku terpaksa mengangkat tangan

