WILLIAM Aku tahu kalau Kania menangis tertahan selama awal perjalanan sembari menelengkan kepalanya memandang keluar jendela, punggungnya menyerong memunggungiku. Aku tahu pasti tidak mudah baginya meninggalkan tempat yang sudah seperti rumah,dibesarkan di Panti selama bertahun-tahun, hatinya sudah terikat pada Panti itu. Aku juga bisa memahami kalau dirinya masih marah padaku dan belum bisa menerima semua ini. Menjelang pertengahan perjalanan akhirnya dia tertidur, mungkin kelelahan akibat terus menerus menangis. Kepalanya bersandar kaca jendela, membuatku harus membetulkan letak posisinya ketika ada kesempatan. Tanganku terjulur menyentuh wajahnya, pipinya yang seputih salju dipenuhi sisa air mata yang mengering. Saat sedang tidur Kania mirip malaikat. Kecantikannya telah menghipnoti

