Penampilan Baru

901 Kata
Ibunya menangis haru, saat ia menceritakan kalau uang yang untuk membayar hutang berasal dari penjualan 10 kue yang baru diterimanya. “Alhamdulillah, ya Nduk. Di saat yang tepat, ada rejeki yang datang,” Hanum memeluk ibunya dan meminta ibunya agar tak bersedih lagi. "Besok produksi kue lagi, Bu. Hanum akan lebih rajin keliling komplek lagi. Kita akan cari uang lagi agar terkumpul untuk persiapan beli ayam. Hanum mau sahur pertama sama ayam, Bu," Ibunya mengusap rambutnya. "Iya, ibu udah bikin ada 15 toples kemarin. Kamu bisa bawa besok pagi ke komplek elit," Hanum mengangguk, ia memejamkan mata sejenak. "Maafin Hanum, Bu," bisik Hanum pada udara kosong. "Hanum terpaksa bohong demi Ibu. Semoga Allah tetap kasih berkah buat puasa kita nanti." Malam itu, Hanum tidak bisa tidur nyenyak. Ia membayangkan butik mewah yang dimaksud Hans dan pakaian seperti apa yang akan ia kenakan. Selama ini, pakaian terbaiknya hanyalah gamis katun yang sudah mulai pudar warnanya. Untuk membeli yang baru rasanya tidak mungkin. Ia dan ibunya memikirkan uang untuk makan satu hari ini dan juga untuk membeli obat ayahnya. Esok hari, ia bukan lagi Hanum si penjaja nastar yang lugu dan polos, melainkan Hanum yang akan berdiri di samping pria paling angkuh di kota ini sebagai kekasih simpanan... dalam sebuah drama balas dendam. ** Hari itu adalah hari hari pertama di bulan suci Ramadhan dimulai. Hanum memulai paginya dengan semangat yang luar biasa. Ia bertekad akan menjual habis kue nastar yang dibawanya. Ia melangkah ke komplek elit di sisi lain kota, berusaha melupakan beban di hatinya dengan fokus berjualan. Keajaiban terjadi. Di perumahan Permata Hati, lima toples nastarnya laku hanya dalam waktu satu jam. Bahkan, seorang ibu pejabat memesan sepuluh toples sekaligus untuk acara buka puasa bersama di hari kesepuluh Ramadhan nanti. Seharusnya ia melompat kegirangan, tapi bayangan janji sore ini dengan Hans terus membuntuti seperti bayangan hitam. Sesuai instruksi Hans, setelah pulang keliling, Hanum segera menuju butik mewah di pusat kota. Ia sudah lebih dulu berpamitan pada ibunya untuk pergi sebentar dengan alasan pergi ke rumah Rara, teman baiknya di sekolah. Dengan canggung, ia masuk ke butik dan menyebutkan namanya. Para pelayan butik menyambutnya seolah ia adalah tamu VIP. Ia diberikan sebuah paper bag besar berisi gaun yang harganya mungkin setara dengan hasil jualan nastarnya selama setahun. Tak berhenti di situ, Hans mengirim pesan singkat: "Lanjut ke salon di lantai 2. Bilang aja atas nama Hans Pradana. Gue mau lo tampil perfect." Hanum menurut saja, ia merasa seperti boneka yang digerakkan oleh benang tak terlihat. Di salon, rambutnya yang biasa tersembunyi di balik jilbab sederhana dirawat, wajahnya dibersihkan, dan jemari tangannya yang kasar karena sering terkena panas oven diberi perawatan khusus. Sang perias mulai mengoleskan kuas-kuas halus di wajah Hanum. "Mbak, kulitnya bagus banget. Jadinya cuma butuh sedikit touch-up supaya kelihatan lebih bersinar," puji perias itu ramah. Satu jam kemudian, perias itu memutar kursi Hanum menghadap cermin besar. Hanum tersentak. Tangannya spontan menutup mulut karena tidak percaya. Di dalam cermin itu, tidak ada lagi Hanum sang penjaja kue yang kusam dan terlihat lelah. Sosok di depannya adalah seorang gadis anggun dengan riasan flawless yang menonjolkan mata bulatnya yang jernih. Gaun yang dipilihkan Hans—sebuah gamis modern berbahan sutra berwarna nude dengan aksen emas yang mewah—melekat sempurna di tubuhnya. Hijabnya ditata sangat rapi dan elegan, memberikan kesan berkelas namun tetap sopan. "I-ini... aku?" bisik Hanum pelan. Matanya berkaca-kaca. Bukan karena bangga akan kecantikannya, tapi karena ia merasa sosok di cermin itu adalah orang asing. Ia merasa sedang memakai topeng untuk masuk ke dunia yang penuh kepalsuan milik Hans Pradana. Ponselnya bergetar di atas meja rias. Sebuah pesan dari Hans masuk: "Gue udah di depan butik. Keluar sekarang. Jangan bikin gue nunggu." Hanum menarik napas dalam-dalam, mengambil keranjang nastarnya yang terasa sangat kontras dengan penampilannya sekarang, lalu melangkah keluar untuk menemui teman barunya. ** Hanum melangkah keluar dari pintu kaca butik dengan perasaan yang sangat tidak karuan. Ia harus mengangkat sedikit ujung gamis sutranya agar tidak terinjak, sementara tangan kirinya masih setia menjinjing keranjang rotan berisi sisa toples nastar—satu-satunya hal yang membuatnya masih merasa menjadi Hanum yang asli. Di pinggir jalan, mobil sport mewah milik Hans sudah terparkir. Hans sedang bersandar di pintu mobil sambil memainkan ponselnya, terlihat bosan dan tidak sabar. Hans mengenakan kemeja slim-fit yang lengannya digulung hingga siku, menambah kesan angkuh sekaligus maskulin. "Lama banget sih lo—" Kata-kata Hans terputus di tenggorokan. Ia mendongak dan seketika itu juga jemarinya berhenti bergerak di atas layar ponsel. Hans terdiam. Matanya menyipit, menatap sosok gadis yang berjalan ke arahnya. Ia tahu ia telah memilihkan baju yang mahal dan mengirimnya ke salon terbaik, tapi ia tidak menyangka hasilnya akan seperti ini. Hanum yang biasanya terlihat kusam dengan keringat sisa menjaja kue, kini menjelma menjadi sosok yang begitu memukau. Cahaya matahari sore yang mengenai gamis nude-nya membuat Hanum seolah-olah bersinar. "Ehm .. Hans?" panggil Hanum ragu saat sudah berdiri di depan pria itu. Hans berdehem keras, mencoba menguasai dirinya kembali. Ia segera memasang wajah datar andalannya, meski jantungnya sempat memberikan reaksi yang tidak seharusnya. "Lumayan. Ternyata baju pilihan gue nggak salah alamat," ujar Hans ketus, berusaha menutupi kekagumannya. Matanya kemudian turun ke keranjang rotan yang dibawa Hanum. "Tapi itu keranjang mau lo bawa juga? Serius? Kita mau ke acara fine dining, bukan mau ke pasar kaget." Hanum memeluk keranjangnya erat. "Ini nastar pesanan orang, Hans. Aku kan nggak mungkin buang. Lagian, aku kan memang penjual kue, kenapa harus malu?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN