Usaha Hans Sukses

811 Kata
Lama kelamaan Hanum merasa hatinya terasa empet. Hinaan itu halus, tapi sangat menyakitkan. Ia merasakan tangan Hans yang ada di sampingnya mengepal kuat. Hans juga pasti sangat marah. Dan saat Hans akan membuka suara untuk membalas dengan kata-kata kasar, Hanum mulai memberikan dirinya. Sebelum pria itu sempat bicara, Hanum yang menjawabnya, ia lebih dulu menarik napas dalam dan tetap mempertahankan senyum tenangnya. "Maaf, Nona," suara Hanum lembut namun stabil, membuat Mila sedikit tersentak. "Aku bukan dari agensi mana pun. Aku hanya orang yang kebetulan sedang menemani Hans. Dan bagiku, berpenampilan rapi itu bukan gaya-gayaan, tapi bentuk harga diri." Hans melirik Hanum dari samping. Ada rasa takjub yang menyelinap di dadanya. Gadis penjual nastar ini ternyata punya nyali juga. Mila mendengus, makin sinis. "Harga diri? Please deh. Lo lihat tas yang gue pake? Ini harganya bisa buat beli martabat lo sepuluh kali lipat. Hans bukan pria sembarangan, meski dia … dia bukan pacarku lagi, lo... emang lo punya apa selain muka polos itu? Lo sanggup ngimbangin gaya hidup dia?" Mila kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah Hanum, matanya menyipit. "Atau jangan-jangan, lo cuma cewek haus harta yang lagi beruntung nemu 'mangsa' kayak Hans? Jujur aja, siapa lo sebenarnya?" Suasana makin panas. Hans yang sudah tidak tahan lagi, akhirnya merangkul bahu Hanum dengan protektif. "Mila, jaga mulut lo. Lo nggak perlu tahu dia siapa, yang jelas dia jauh lebih berharga daripada lo yang cuma bisa pamer barang cicilan. Hanum punya sesuatu yang nggak akan pernah lo punya, ketulusan." Hanum melirik Hans, ia tersenyum tipis, sekali lagi ia merasa sudah haru beristighfar banyak-banyak. ** Hans menoleh ke Hanum, tatapannya mendadak berubah lembut—aktingnya sungguh luar biasa, atau mungkin tidak sepenuhnya akting. "Sayang, kita ke meja yang ujung itu, yuk. Sebentar lagi waktunya buka, lo harus duduk biar nggak cape." Hans tersenyum, dan secara mengejutkan, ia mengulurkan tangannya pada Hanum. Saat Hanum menyambut tangan itu, Hans menggenggamnya dengan erat, seolah tak ingin melepaskan. Kikuk? Jelas. Tapi Hans merasakan sesuatu yang berbeda. Genggaman tangan Hanum tidak terasa seperti tangan sosialita yang dingin. Hans merasakan ada kehangatan yang jujur di sana. Mila, mantan pacarnya yang melihat itu langsung memerah wajahnya karena kesal. Rencana Hans berhasil. Mila benar-benar terlihat panas melihat Hans memperlakukan Hanum bak seorang ratu. ** Suasana semakin ramai, satu persatu teman Hans datang. Semua dari kalangan orang kaya, berduit, tajir melintir. Meja makan pun dipenuhi hidangan kelas dunia—mulai dari wagyu steak hingga truffle soup—tapi bagi Hanum, rasa makanannya kalah saing dengan rasa gugup di dadanya. Ini adalah momen berbuka puasa paling aneh sekaligus paling mewah dalam hidupnya. Sesekali, dari balik bulu matanya yang lentik, Hanum melirik ke arah Hans. Pria itu tampak sangat santai di mata orang lain. Cara Hans memegang pisau dan garpu begitu elegan, gerakannya tenang, dan sesekali ia menanggapi ucapan Mila atau Raka dengan nada bicara yang sangat berkelas, seolah ia benar-benar sudah move on. Namun, karena posisi mereka yang sangat dekat, Hanum bisa melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain. Ia menyadari jakun Hans yang naik turun lebih cepat dari biasanya setiap kali mata mereka tak sengaja beradu. Ia juga melihat betapa kaku jemari Hans saat sesekali harus meletakkan tangan di atas punggung kursi Hanum untuk menunjukkan kedekatan mereka. "Hans, lo kok tumben makannya dikit banget? Biasanya kalau ke sini lo paling lahap," celetuk Raka, mencoba memecah ketenangan Hans. Hans berdehem, ia menyesap air mineralnya dengan gerakan yang sedikit terlalu cepat. "Lagi nggak nafsu. Gue lebih fokus nemenin Hanum. Dia nggak biasa makan di tempat berisik kayak gini," jawab Hans asal, padahal dalam hati dia sedang merutuki dirinya sendiri karena merasa mendadak kehilangan selera makan akibat saking canggungnya duduk sedekat itu dengan Hanum. Hanum yang mendengar itu hanya bisa menunduk, menyembunyikan senyum tipisnya. Pria angkuh ini ternyata bisa canggung juga, pikir Hanum. ** Saat piring-piring mulai diangkat oleh pelayan, Hans tanpa sadar menggeser kakinya di bawah meja dan tak sengaja menyentuh kaki Hanum. Hans tersentak, hampir saja ia menjatuhkan sendok kecilnya. "Maaf," bisik Hans sangat lirih, hampir tak terdengar oleh yang lain. Hanum menoleh pelan, menatap wajah Hans yang biasanya keras kini tampak sedikit memerah di bagian telinga. Hanum memberanikan diri untuk berbisik balik, "Hans, kalau kamu capek pura-pura nya, kita bisa pulang sekarang." Hans menoleh, menatap mata polos Hanum yang memancarkan kejujuran. Kehangatan di mata gadis itu membuat rasa canggung Hans perlahan mencair, digantikan oleh rasa nyaman yang asing. "Dikit lagi. Gue mau lihat muka Mila makin panas," bisik Hans kembali, kali ini dengan seringai kecil yang lebih tulus. Namun, saat Mila kembali membuka suara untuk menyindir perhiasan Hanum, Hans secara refleks menggenggam tangan Hanum di bawah meja. Kali ini bukan karena perintah akting, tapi karena ia benar-benar ingin memberi kekuatan pada gadis yang sudah rela masuk ke dunianya yang rumit ini. Genggaman itu erat, hangat, dan membuat Hanum merasa, meski Hans seorang Mr. Heartbreak yang angkuh, ada sisi rapuh di balik kemewahan pria ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN