Bab 01

1156 Kata
"Masuk sana, cepat! Kamu mau duit atau mau jadi gelandangan?! Jangan sok suci di depanku!" desak Madam Anni. Suaranya melengking tajam, membelah kebisingan lobi belakang klub yang pengap. Maura mematung. Jemarinya yang dingin meremas kain tipis gaun merahnya yang terasa terlalu pendek. "Madam... aku... aku cuma bilang mau menemani minum aja, bukannya harus—" Srakk! Tanpa belas kasihan, wanita berambut merah menyala itu menyentak pintu VVIP dan mendorong Maura masuk ke dalam kegelapan yang beraroma maskulin dan alkohol mahal. Maura terhuyung, hampir tersungkur di atas karpet tebal yang empuk. Saat ia berbalik, pintu sudah terkunci dari luar. Madam Anni menatapnya dari celah kecil jendela pintu dengan tatapan predator. "Layani dia sampai dia puas, Maura. Dia sumber duit! Goda dia seolah nyawamu bergantung padanya. Ingat tagihan rumah sakit adikmu? Kalau malam ini gagal, besok Raka keluar dari bangsal itu dalam kantong mayat!" Kalimat itu menghantam Maura lebih keras daripada tamparan fisik. Ia menarik napas dalam, membiarkan udara yang sarat akan aroma tembakau dan wiski memenuhi paru-parunya. Uang. Satu kata yang kini menjadi rantai di lehernya. Demi Raka, ia harus menanggalkan martabatnya malam ini. Hentakan musik dari lantai dansa di luar terdengar seperti dentuman jantung yang teredam dinding kedap suara. Maura berbalik perlahan. Di dalam ruangan luas yang hanya diterangi lampu redup itu, beberapa pria sedang berpesta, merangkul wanita-wanita dengan pakaian yang lebih minim darinya. Namun, matanya segera tertambat pada satu titik fokus di tengah ruangan. Seorang pria duduk menyendiri di sofa utama, wajahnya tidak begitu jelas karena lampur kerlap-kerlip yang menyakitkan mata berganti meneranginya. Ia mengenakan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya terbuka, memamerkan da-da bidang dengan kulit kecokelatan yang tampak keras dan tegap. Kedua lengannya terentang di sandaran sofa, sementara kakinya terbuka lebar dalam posisi yang sangat dominan. Tatapannya dingin, setajam silet, menatap lurus ke arah Maura seolah sedang membedah setiap inci tubuh gadis itu. Maura bergidik. Kakinya mendadak terasa lemas, dan mulutnya kering kerontang. Sorot mata pekat pria itu seolah memiliki berat yang menekan bahunya. Maura memaksakan sebuah senyuman di bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala. Gaun bodycon yang ia kenakan sangat ketat, mengangkat payudaranya hingga menampilkan belahan yang menggoda, mengundang mata-mata lapar di ruangan itu untuk berpesta. "Waw... ada barang baru di sini?" celetuk salah satu pria tambun yang duduk di pojok, bersiul kencang sambil menatap lapar ke arah paha mulus Maura. Maura mengabaikannya. Targetnya hanya satu, pria yang duduk di tengah, sang pusat gravitasi yang memancarkan aura kekuasaan yang mengintimidasi. Dengan langkah yang ia buat seanggun mungkin, Maura mendekat. Ia bisa merasakan tatapan pria itu mengikuti setiap pergerakan pinggulnya. Maura meraih botol wiski di atas meja, jemarinya yang gemetar menuangkan cairan amber itu ke dalam gelas kristal milik sang pria. Tanpa diminta, ia duduk di sisi pria itu, sangat dekat hingga ia bisa merasakan panas yang memancar dari tubuh tegap tersebut. Aroma parfum kayu cendana dan alkohol berkelas menyerbu indra penciumannya, membuatnya sedikit pening. "Minum, Om?" tawar Maura dengan suara yang ia buat serendah dan sedesah mungkin. Pria itu tidak menjawab. Ia menyesap cerutu di bibirnya, lalu menghembuskan asap tebal tepat ke arah wajah Maura. Maura terbatuk pelan, namun ia tidak menjauh. Matanya yang jernih menatap manik mata gelap pria itu yang kini meliriknya malas, namun penuh dengan penilaian seksual yang intens. "Hey, Nona. Siapa lo? Berani banget langsung duduk di samping Samudra," tanya pria lain di seberang mereka sembari tertawa licik, tangannya terjulur dan mencolek pinggang Maura dengan lancang. Maura berjengit terkejut. Darahnya mendidih, ingin rasanya ia menampar tangan itu atau berteriak marah. Namun, ia teringat wajah pucat Raka di bangsal rumah sakit. Ia menggigit bibir bawahnya keras, menelan kemarahannya, dan justru semakin merapatkan tubuhnya ke arah pria berkemeja hitam itu, mencari perlindungan sekaligus memberikan umpan gairah. Ia meletakkan tangannya yang mungil di atas paha pria itu, bisa merasakan kerasnya otot di balik celana kain mahal tersebut. "Aku Maura... aku di sini khusus untuk menemani Om malam ini," bisiknya tepat di telinga pria itu, membiarkan napas hangatnya menyentuh kulit leher sang pria yang sekeras batu. Pria itu akhirnya bereaksi. Ia meletakkan gelasnya, lalu jemarinya yang besar dan kuat mencengkeram dagu Maura, memaksa gadis itu menatapnya tepat di mata. "Kamu tau apa yang dilakukan wanita sepertimu kalau sudah berani duduk di sini, Maura?" tanya pria itu. Suaranya bariton, rendah, dan sangat berwibawa, membuat seluruh bulu kuduk Maura meremang hebat. Maura menelan ludah, dadanya naik turun dengan cepat, membuat belahan da-danya semakin terekspos di depan mata pria itu. "Aku tau Om... lakukan apa aja, asal Om mau bayar harganya." Pria itu menyeringai, sebuah ekspresi predator yang baru saja menemukan mangsa yang menarik. Jemarinya turun dari dagu, merayap perlahan ke arah leher Nara dan berhenti di atas dadanya yang berdegup gila. Perang saraf di bawah lampu remang klub itu baru saja dimulai, dan Maura tahu, malam ini ia tidak akan keluar dari ruangan ini sebagai wanita yang sama lagi. Maura membeku saat telapak tangan yang kasar dan lebar itu merayap di pipinya, membelai kulitnya dengan d******i yang menyesakkan. Gelenyar panas sekaligus ngeri menjalar ke seluruh sarafnya, membuatnya gemetar hebat hingga ke sumsum tulang. Rasanya ia ingin melesat pergi, namun tatapan obsidian pria di hadapannya mengunci seluruh geraknya. “Lakukan,” perintah pria itu. Suaranya bariton, rendah, dan benar-benar hampa emosi, seolah-olah gairah adalah hal asing baginya. Namun, sorot matanya yang dingin justru terasa lebih mengintimidasi daripada amarah mana pun. Dengan napas yang tercekat di kerongkongan, Maura mencoba memanggil kembali memori dari film-film dewasa yang terpaksa ia tonton demi malam ini. Dengan gerakan yang kaku namun provokatif, ia menaiki pangkuan pria itu. Kedua kakinya terbuka, mengurung paha kekar sang pria, sementara tangannya merangkul leher kokoh itu dengan erat. Aroma maskulin yang pekat—perpaduan antara parfum kayu cendana, nikotin mahal, dan wiski—menyerbu indranya, memicu debaran jantung yang kian liar. “Wawww! Gila, Sam! Lo serius mau mengeksekusinya di sini?!” seru salah satu temannya, diiringi tawa c***l yang menggema di ruangan VVIP itu. Namun, pria yang dipanggil Sam itu tetap tak bergeming, duduk tegak dengan otoritas mutlak seolah suara-suara di sekitarnya hanyalah angin lalu. Ia sama sekali tidak membalas pelukan Maura. “Menyingkir,” desisnya tajam saat Maura hanya terdiam membatu dalam keraguannya. Tersentak oleh penolakan dingin itu, Maura justru semakin mengeratkan cengkeramannya pada bahu tegap sang pria. Tanpa peringatan, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher pria itu, mendaratkan kecupan-kecupan basah yang menuntut. Bibir lembapnya menyapu kulit hangat di sana, meninggalkan jejak gairah yang berani. Sentuhan itu berhasil. Sam tertegun sejenak. Aroma manis yang feminin dari tubuh Maura mulai merusak pertahanannya yang sedingin es. Tampaknya, setelah sekian lama berpuasa dari kepuasan, serangan mendadak ini berhasil menyulut sumbu gairahnya yang tersembunyi. “Ah! Om, apa yang—euhmm!” Maura memekik tertahan saat serangan balik datang dengan kekuatan yang melumpuhkan. Tanpa permisi, tangan besar pria itu menyelinap di bawah gaunnya, meremas pangkal pahanya dengan cengkeraman posesif yang panas. Belum sempat Maura menghirup udara, bibirnya sudah disambar dan dipagut secara rakus dalam sebuah cium-an yang mendominasi, menelan seluruh protesnya ke dalam gairah yang meledak seketika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN