“Gimana?! Senang, kan, olahraganya sampai basah kuyup mandi keringat begini?!” teriak sang ketua pelaksana menggunakan megafon yang cempreng. Tubuhnya sendiri tampak tak kalah berpeluh, namun semangatnya justru kian membubung tinggi, kontras dengan sisa-sisa kabut Lembang yang perlahan mengikis tipis. Cahaya mentari pagi mulai merangkak naik, membiarkan pendar keemasannya menerobos celah ranting pohon pinus. Udara yang semula sedingin es perlahan-lahan menghangat setiap kali sang surya bergerak semakin ke atas langit, menciptakan sensasi kontradiktif antara hawa sejuk pegunungan dan hawa panas yang meletup-letup dari pori-pori kulit ratusan mahasiswa yang berkumpul di lapangan. Maura meringis pelan, bertumpu pada kedua lututnya yang terasa lemas bergetar. Kulit wajahnya yang putih bersih

