Bab 08

1402 Kata
"Dek, kok enggak tidur?" Maura segera menutup pintu begitu memasuki ruang perawatan, melihat adiknya bahkan masih terjaga. Raka tersenyum lebar pada kakaknya, "aku lagi nonton pelajaran sekolah, Kak. Biar enggak ketinggalan." Maura tersenyum kecil, mengelus lembut kepala Raka. "Besok aja lagi, kamu harus tidur lebih awal biar cepet sehat Dek." Raka mengangguk kecil, "kalo ada Kak Maura, Raka tidur kok. Nih, tidur." Anak berusia sepuluh tahun itu membaringkan tubuhnya, berpura-pura memejamkan mata. Maura sendiri tak keberatan dibohongi selucu itu. "Selamat malam Kak, Kak Maura juga tidur ya." Maura mengangguk kecil, meski pikirannya melayang jauh, terjebak di antara seribu satu kekhawatiran. Bau khas rumah sakit yang biasanya menenangkan malam ini terasa mencekik. Maura duduk di samping ranjang, memandangi wajah adiknya yang masih pucat, meski napasnya sudah mulai teratur. Jemari kurus Raka menggenggam jemarinya lemah, satu-satunya ikatan yang membuat Maura masih sanggup berdiri tegak. Baru saja ia hendak memejamkan mata sejenak, ponsel di sakunya bergetar hebat. Layarnya menampilkan deretan angka tanpa nama. Maura mengernyit. Siapa yang menelepon selarut ini? "Halo?" bisiknya setelah menjauh dari ranjang Raka. "Sepuluh menit lagi, sopirku akan sampai di lobi rumah sakit. Kalau kamu tidak ada di sana, anggap saja biaya operasi yang kamu bayar tadi adalah sumbangan terakhirmu untuk rumah sakit ini." Suara itu. Dingin, berat, penuh otoritas. Tubuh Maura seketika membeku. "P-Pak Samudra? Saya... saya sedang menjaga adik saya. Dia baru saja sadar, saya tidak bisa—" "Aku tidak meminta penjelasan, Maura. Aku memberikan perintah," potong Samudra tanpa ampun. "Turun sekarang, atau aku akan menelepon bagian administrasi untuk membatalkan seluruh jaminan medismu atas dasar penipuan identitas. Pilihanmu." Klik. Telepon diputus sepihak. Maura menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Air mata kemarahan menggenang di pelupuk mata. Samudra punya kuasa, dan seolah sudah tahu persis di mana letak kelemahan Maura—lalu menekannya tanpa belas kasihan. "Tidur yang nyenyak ya Dek, nanti Kakak belikan cromboloni," bisiknya lirih. Dengan berat hati, Maura mencium kening Raka yang terlelap, membisikkan janji akan segera kembali, lalu melangkah menuju lobi dengan kaki yang terasa seberat timah. "Loh... mau ke mana? Kamu enggak menginap di sini, Maura?" tanya Bu Yuyun, perawat yang disewa Maura untuk menemani adiknya sampai keluar dari rumah sakit. Biayanya tidak murah. Kalau dipikir-pikir lagi, terlalu besar uang yang sudah digelontorkan. Apa Samudra keberatan kalau uangnya dipakai berlebihan? Maura masih berusaha tersenyum walau raut wajahnya menunjukkan kelelahan. "Masih ada tugas, Bu, jadi harus ke kosan. Tolong jaga Raka ya Bu?" Bu Yuyun mengangguk kecil. Sebuah sedan hitam mewah sudah menunggu di depan pintu masuk. Sopirnya membukakan pintu tanpa suara, mengisyaratkan Maura untuk masuk. Sepanjang perjalanan menuju Grand Luxury Apartment, Maura hanya menatap lampu-lampu kota yang buram karena air mata. Rasanya seperti dibawa masuk ke dalam jebakan yang ia buat sendiri. "Non, ini kartu akses masuknya." Sopir itu menyerahkan selembar keycard. Maura mengangguk kecil, "iya Pak." Gadis itu segera masuk ke dalam lift, menuju lantai 22, tempat unit apartemen mewah Samudra berada. Langkahnya terasa berat. Perasaannya kacau bukan main. Ia menempelkan keycard ke pemindai hingga lampu biru di kenop pintu berkedip, tanda ia bisa masuk. Ragu, ia mendorong kenop pintu. "Permisi," ucapnya. Unit 22-A sangat sunyi saat Maura melangkah masuk. Ruangan itu hanya diterangi lampu temaram dan cahaya city light Jakarta yang menembus jendela kaca raksasa. Samudra duduk di sofa velvet gelap, mengenakan kemeja hitam dengan dua kancing teratas terbuka, memegang gelas kristal berisi cairan amber. "Duduk," perintah Samudra tanpa menoleh. Maura tetap berdiri, tangannya meremas ujung kemeja hitam—milik Samudra—yang ia kenakan sesuai perintah pria itu lewat pesan singkat tadi. "Apa yang Bapak inginkan? Saya sudah melayani Bapak dan Bapak sudah memberikan uangnya. Kenapa Bapak membawa transaksi ini sampai ke kampus dan rumah sakit?" Tangannya mengepal kencang, dadanya terasa terlalu sesak. Samudra bangkit, langkahnya tak terdengar di atas karpet tebal. Ia mendekat hingga Maura bisa mencium aroma wiski, tembakau, dan parfum maskulin yang kini terasa seperti aroma ancaman. Samudra meletakkan gelasnya di meja, lalu meraih map kulit yang tergeletak di sana. "Dua ratus juta rupiah. Itu angka besar untuk seorang mahasiswi yang ayahnya bangkrut dan menjadi penjudi, bukan?" Samudra menyeringai tipis, seringai yang membuat Maura bergidik. "Secara hukum, uang itu diberikan kepadamu atas dasar transaksi ilegal di sebuah klub malam. Jika aku mau, aku bisa melaporkanmu atas tindakan penipuan dan pencucian uang. Aku punya bukti bahwa kau bukan 'wanita panggilan' profesional, melainkan mahasiswa yang sengaja menjerat pria kaya untuk biaya medis." Maura terbelalak. "Itu bukan seperti yang Bapak pikirkan! Saya tidak menjebak Bapak, malam itu, Anda yang memilih saya!" sanggahnya sampai wajahnya ikut memerah. "Siapa yang akan percaya?" Samudra mencondongkan tubuh, mengunci pergerakan Maura. "Di mata publik, aku adalah arsitek ternama dan dosen berprestasi. Kalau kamu? Gadis putus asa yang menghalalkan segala cara." Samudra membuka map itu, mengeluarkan dua lembar kertas berisi poin-poin perjanjian. "Aku memberikanmu dua pilihan, Maura. Pertama, kembalikan uang itu malam ini juga—yang aku tahu kamu tidak bisa melakukannya—dan hadapi tuntutan hukum serta penghentian perawatan adikmu." Samudra menjeda sejenak, membiarkan ketakutan meresap ke pori-pori Maura. Napas Maura memburu. Tubuh dan pikirannya yang sudah letih membuatnya nyaris menangis mendengar ancaman dari ucapan sinis Samudra. Suaranya bahkan sulit keluar, hanya mandek di kerongkongan. Perutnya mulas melilit—mungkin karena ia belum makan sama sekali, bahkan melewatkan makan siang. "Kedua, tandatangani ini. Kamu bisa menjadi simpananku secara eksklusif. Kamu akan tinggal di sini setiap kali aku menginginkannya, melayaniku kapan pun aku mau, dan sebagai imbalannya... aku akan menjamin pengobatan adikmu sampai sembuh total, serta memastikan skripsimu lulus dengan nilai sempurna di bawah bimbinganku. Soal beasiswamu? Aku bisa merekomendasikannya, tapi bisa juga menghentikannya." Deg! Maura menggeleng kuat. "Ini gila! Anda memeras mahasiswamu sendiri!" pekiknya, tak terima. Ancaman itu mencabik-cabik seluruh pertahanannya. "Aku tidak memeras, aku sedang berinvestasi," Samudra meraih dagu Maura, memaksa gadis itu menatap obsidian matanya yang gelap. "Jangan berpura-pura suci, Maura. Kamu yang memulainya malam itu. Sekarang, aku hanya ingin meresmikan kepemilikanku." Sial. Mata gadis itu memandang nanar Samudra yang berekspresi datar, seolah emosinya memang terkendali. "Sampai kapan?" tanya Maura dengan suara pecah, bergetar. "Sampai kamu lulus. Atau sampai aku bosan," jawab Samudra enteng. Ia menyodorkan pena Montblanc miliknya—pena yang sama yang tadi siang menindas berkas skripsi Maura di kampus. "Tandatangani, Maura. Simpan harga dirimu di laci, dan selamatkan nyawa adikmu. Bukankah itu tujuanmu? Operasi itu tidak serta merta menyembuhkan penyakitnya secara total. Itu artinya kamu masih butuh uang untuk perawatannya." Penjelasan Samudra menambah beban di pikiran Maura. Penuturannya sangat logis, tapi Maura enggan. Terpaksa berhadapan lagi dengan pria yang sudah menidurinya, padahal ia berharap tak akan pernah bertemu Samudra lagi—nyatanya pria itu justru berdiri sedekat ini. "Jangan berpikir terlalu lama, Maura. Juga... hentikan panggilan formal itu selagi di luar kampus." Maura menatap kertas di depannya. Setiap kata di sana terasa seperti paku yang menghujam jantungnya. Menjadi simpanan dosennya sendiri? Menjual tubuhnya setiap malam demi selembar ijazah dan nyawa adiknya? Namun bayangan Raka yang tersenyum di rumah sakit kembali muncul. Maura tahu, di dunia yang kejam ini, orang miskin tidak punya kemewahan untuk memegang prinsip. Dengan tangan gemetar hebat, ia meraih pena itu. Air matanya jatuh tepat di atas kolom tanda tangan, memudarkan sedikit tinta hitam di sana. Tanpa membaca klausul secara lengkap, ia menarik napas kuat-kuat. Selesai. Maura telah menjual jiwanya pada iblis yang kini berdiri angkuh di hadapannya. Samudra mengambil kembali kertas itu, memeriksanya sejenak, lalu tersenyum puas. Ia menarik Maura ke dalam pelukannya, cengkeraman di pinggangnya posesif, tak memberi ruang untuk melarikan diri. “Pilihan yang cerdas, Maura. Mulai malam ini, kamu adalah milikku. Di kampus, kamu mahasiswaku. Di sini… kamu adalah pemuasku. Jangan pernah berani melanggar satu poin pun, atau kamu akan tahu bagaimana rasanya kehilangan segalanya dalam waktu singkat.” Samudra membungkuk. Bibirnya menutupi milik Maura—bukan meminta, melainkan mengklaim. Ciuman yang dalam, dominan, memaksa. Maura memejamkan mata. Tubuhnya kaku. Hatinya terus berbisik meminta maaf pada Raka. Lalu suara rendah itu bergema di sela-sela bibir mereka. “Balas ciumanku.” Jeda sejenak. “Jangan menjadi seperti papan yang kaku… atau aku mulai berpikir kamu menyesal sudah menandatangani.” Satu tangan Samudra naik, menahan tengkuk Maura agar tidak bisa berpaling. Napasnya hangat di kulit wajahnya. “Dan Maura…” bisiknya, hampir seperti rahasia. “Kalau aku bosan… aku tidak akan sekadar melepaskanmu. Aku akan memastikan tidak ada orang lain yang berani menyentuh apa yang pernah menjadi milikku.” Bibirnya kembali menekan. Lebih dalam. Lebih menuntut. Dan di detik itu, Maura sadar: Ia baru saja menandatangani kontrak yang jauh lebih berbahaya daripada yang tertulis di kertas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN