“Mau ikut aku jalan-jalan?” Bahkan setelah tautan ciu-man panas yang sukses membuat seluruh persendian gadis itu meleleh, Samudra kembali melayangkan godaan lain. Suara baritonnya rendah, berbisik tepat di depan bilah bibir Maura yang masih basah. Maura seketika kelu, kehilangan seluruh pasokan kata-kata di tenggorokannya. Rasa panas yang teramat pekat menjalar cepat di kedua belah pipinya, menciptakan rona merah yang kentara di bawah temaram lampion, walau ia berusaha mati-matian menyembunyikannya. Napasnya terengah-engah memburu, berlomba dengan deru napas Samudra yang perlahan mulai kembali konstan dan tenang. “Ke mana?” tanya Maura akhirnya, cicitan suaranya terdengar begitu tipis. “Jalan-jalan di sekitar sini saja,” sahut Samudra, jemarinya bergerak santai merapikan helaian rambu

