"Kau sudah menjual dirimu padaku, Maura. Dan di sini, akulah satu-satunya hukum yang harus kau patuhi."
Suara bariton Samudra bergema rendah, dingin, dan sarat akan otoritas yang mutlak. Maura hanya bisa memejamkan mata, pasrah saat tubuhnya dibawa masuk ke dalam ruangan luas yang masih gelap itu.
Klik!
Bunyi dari keycard yang ditempelkan Samudra terdengar seperti suara jeruji besi yang tertutup. Seketika, pencahayaan otomatis yang hangat merambat menyinari ruangan mewah itu, mengekspos betapa tak berdayanya Maura dalam gendongan pria di hadapannya.
Suara dari kamar yang terkunci secara otomatis terdengar seperti vonis penjara bagi Maura. Ia terperangkap dalam pelukan pria asing yang aromanya—campuran kayu cendana dan wiski mahal—mulai meracuni akal sehatnya.
Cahaya lampu otomatis yang hangat merayap menyinari ruangan mewah dengan konsep minimalis maskulin itu, mengekspos betapa tak berdayanya Maura dalam gendongan Samudra.
Deg!
Tanpa menurunkan Maura ke lantai, Samudra langsung menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit besar di tengah ruangan, mendudukkan Maura tepat di atas pangkuannya.
“Sam… bi—biarkan aku mandi dulu,” bisik Maura panik. Suaranya bergetar hebat. Ia mencoba mendorong d**a Samudra, namun jemarinya justru merasakan kerasnya otot di balik kemeja hitam yang kini terasa panas. Ia hanya butuh waktu untuk bernapas, untuk membasuh rasa malu yang mulai membakar kulitnya.
Samudra justru menyeringai tipis, sebuah ekspresi predator yang baru saja mendapatkan mangsa paling menarik tahun ini. Ia memiringkan kepalanya, membenamkan wajah di ceruk leher Maura yang jenjang. Hembusan napasnya yang panas membuat bulu kuduk Maura meremang hebat. Tanpa peringatan, bibir pria itu menghisap kulit sensitif di leher Maura, memberikan sengatan gelenyar yang membuat Maura memekik pelan.
Namun, Samudra justru memiringkan kepalanya, membenamkan wajah di ceruk leher Maura. Ia menghisap cuping telinga gadis itu, memberikan sengatan gelenyar panas yang membuat punggung Maura melengkung seketika.
“Tidak perlu,” tegas Samudra. Suaranya terdengar seperti titah yang tak boleh dibantah. Tangan besarnya mulai merayap naik, mengusap paha mulus Maura dengan gerakan kasar yang menuntut. “Aku tidak membayarmu hanya untuk menunggumu berlama-lama di kamar mandi, Nona,” desis Samudra tepat di telinga Maura. Tangannya mulai merayap naik, mengusap paha mulus Maura dengan gerakan kasar yang menuntut. “Waktuku mahal, dan setiap detik yang kau buang akan membuat bayaranmu terpotong.”
Maura meradang di tengah kesunyian kamar hotel milik Samudra. Pikirannya melesat kembali ke beberapa bulan lalu—hari di mana dunianya yang sudah rapuh hancur berantakan. Hari itu adalah awal dari rantai dosa yang mengikatnya pada pria dominan seperti Samudra Reynand Hadiningrat.
Saat itu, Maura sedang berjibaku dengan tumpukan buku di perpustakaan kampus, mempersiapkan diri untuk ujian akhir semester yang sangat krusial. Fokus yang ia bangun dengan kafein dan kurang tidur buyar seketika saat ponselnya bergetar di atas meja kayu yang dingin.
Raka is calling...
Melihat nama adik laki-lakinya di layar, Maura merasa ada firasat buruk yang mencubit ulu hatinya. Raka adalah satu-satunya alasan Maura tetap bernapas setelah kecelakaan merenggut kedua orang tua mereka. Maura segera menyambar ponselnya dan berlari keluar ruangan, hanya tersisa lima menit sebelum dosen pengawas yang terkenal kaku masuk ke ruang ujian.
“Halo, Dek? Kenapa telepon di jam kuliah Kakak?” tanya Maura berbisik, mencoba menenangkan debar jantungnya.
Namun, yang menyambutnya bukanlah suara ceria Raka, melainkan suara wanita asing yang terdengar cemas. “Halo, apa benar ini kakak dari Raka?”
Langkah Maura terhenti di koridor yang sepi. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. “I-iya, saya kakaknya. Ada apa dengan adik saya?”
“Maaf sebelumnya, Kak. Raka pingsan saat jam istirahat sekolah tadi. Wajahnya sangat pucat dan sekarang dia sudah kami bawa ke rumah sakit terdekat. Bisa Kakak segera datang?”
Deg.
Dunia Maura seolah berhenti berputar. Ponsel dalam genggamannya hampir merosot jatuh. Sensasi sesak yang familier menghimpit dadanya, membuat setiap tarikan napas terasa seperti menghirup serpihan kaca. “Pi--pingsan? Tapi pagi tadi dia baik-baik aja…” gumamnya tak percaya.
“Iya, saya tidak bisa menunggui Raka sampai dokternya datang, jadi bisa Kakaknya datang?”
Maura mendesah panjang. “Aku akan datang, Bu,” katanya.
Ujian akhir semester itu adalah tiketnya untuk mendapatkan beasiswa penuh, tapi Raka adalah hidupnya. Tanpa berpikir dua kali, Maura menghadap dosen pengawas. Dengan wajah pucat dan suara yang gemetar, ia memohon izin.
“Saya mohon, Pak... adik saya masuk rumah sakit. Saya akan ikut ujian susulan atau apa pun, asalkan saya bisa pergi sekarang.”
Dosen berambut putih itu menatap Maura dengan iba. Ia tahu sejarah perjuangan Maura yang harus bekerja paruh waktu demi menghidupi adiknya. Sambil mengangguk kecil, pria tua itu berpesan, “Pergilah, Maura. Adikmu lebih penting. Jangan melamun di jalan.”
Maura berlari menembus terik matahari Jakarta. Di dalam bus Transjakarta yang sesak, ia memeluk ranselnya erat-erat, seolah benda itu bisa melindunginya dari kenyataan pahit. Tabungannya tidak seberapa. Jika asuransi pemerintah tidak bisa menutupi biayanya, ia tidak tahu harus meminjam uang ke mana lagi.
Satu jam perjalanan terasa seperti selamanya. Begitu sampai di IGD, pemandangan di depannya membuat pertahanan Maura runtuh. Raka terbaring lemah dengan jarum infus yang menusuk kulit lengannya yang kurus.
“Dek?” bisik Maura, suaranya pecah.
Raka membuka mata perlahan, mencoba memberikan senyum tipis yang menyakitkan untuk dilihat. “Kak Anin… maaf ya, Raka merepotkan lagi. Raka cuma pusing sedikit kok.”
Wali kelas yang sedang menunggui Raka pun menyambut kedatangan Maura, mempersilakannya duduk. “Maaf Mbak, saya harus pulang sekarang.”
Maura tidak peduli meskipun wanita berkerudung itu berpamitan. Dia hanya menyaksikan wali kelasnya pamit kepada Raka. “Cepat sembuh ya Raka, maaf, Ibu jadi enggak bisa temenin.”
Raka mengangguk, tersenyum lebar. “Makasih banyak Ibu. Raka besok mau masuk ke kelas tapi …”
Wali kelas Raka tersenyum, mengusap lembut tangan anak itu. “Istirahat dulu ya? Izin beberapa hari biar Raka sehat baru masuk kelas.”
Raka cemberut mendengarnya.
Maura menggigit bibir bawahnya kuat-kali agar tangisnya tidak pecah di depan sang adik. Tak lama kemudian, seorang dokter dengan raut wajah serius mendekatinya. “Anda wali dari pasien Raka?”
“Saya kakaknya, Dok. Ada apa dengan adik saya?”
Dokter mengangguk kecil, “tensi darah pasien tinggi, jadi saya tadi mengambil sampel darahnya. Hasilnya sudah keluar.”
Maura merasakan pikirannya kosong mendadak. Dia segera bangun dari duduknya, perut kosongnya yang perih pun teralihkan dengan ucapan dokter itu. “Apa maksudnya Dok?”
Raka juga memandangi dokter itu dengan diam, lalu berbalik memandangi kakaknya.
Dokter tersenyum kecil, “ayo ikut saya ke ruangan.”
Maura mengekori tanpa menemukan gambaran pasti. Raka sakit apa sampai harus pemeriksaan darah? Ia mengajak Maura ke ruangannya, sebuah ruangan kecil beraroma antiseptik yang kini terasa seperti ruang eksekusi bagi Maura.
“Duduk, Mbak Maura,” ujar dokter itu sambil membuka map hasil laboratorium. Ia menghela napas berat, sebuah gestur yang membuat bulu kuduk Maura berdiri. “Hasil analisanya menunjukkan hal yang serius. Ada peningkatan Kreatinin Serum dan Ureum yang sangat signifikan di dalam darah Raka. Ini adalah indikator utama kerusakan fungsi ginjal yang sudah mencapai tahap kronis.”