Kemarahan Samudra yang meledak tiba-tiba malam itu benar-benar berada di luar batas kemampuan Maura untuk memahami. Gadis itu hanya bisa pasrah, memejamkan mata rapat-rapat ketika Samudra menjajah tubuh ringkihnya dengan begitu kasar di atas meja rias. Sama sekali tidak ada ruang untuk kelembutan, tidak ada jeda untuk belas kasihan. Pria itu bergerak bagai badai yang membabi buta, melenyapkan akal sehatnya sendiri demi menenggelamkan harga diri yang terkoyak akibat intervensi sang kakek. Usai pria itu menyemburkan cairan kepuasaannya hingga meleleh di sela-sela paha Maura, Samudra langsung menarik diri. Sensasi hangat yang tertinggal terasa begitu kontras dengan dinginnya atmosfer kamar yang seketika mendingin. Tanpa sepatah kata pun, Samudra mengambil beberapa lembar tisu di atas meja,

