“Pak?” Maura menghadap Samudra yang sibuk berbicara dengan mahasiswa lainnya.
Samudra hanya melirik sekilas, seolah gadis itu tidak ada. “Jadi, maksudmu dari Dema sendiri mau meminta kontribusi saya untuk mengisi acara seminar akbar ini.”
Maura masih diam saja, melirik sekilas pria yang ada di sampingnya. Dia tahu orang itu, Galang Pudana, sang mahasiswa presiden. Aktivis kampus yang suaranya akan didengar oleh banyak orang.
Samudra menatap lagi proposal yang ada di tangannya itu. “Saya akan pertimbangkan, kalau jadwalnya kosong, saya akan kabari.”
Galang tersenyum lega, “baik Pak. Terima kasih.”
Namun, Galang tidak segera pergi sampai Samudra lah yang segera mengusirnya. “Kau bisa keluar sekarang, jika tidak ada keperluan lagi.”
Galang mengangguk canggung, “I--iya Pak. Terima kasih.” Laki-laki itu berpapasan dengan Maura, dia tersenyum kecil, “mari Mbak.”
Sementara Maura tidak merespon dan membiarkan Galang keluar ruangan.
Kali ini hanya ada Maura dan Samudra saja. Pria itu melepaskan kacamatanya, menatap Maura yang berdiri di hadapannya dan masih diam saja.
“Kau harus mendapatkan hukumannya, Maura.”
Maura tidak segera merespon ucapan itu. Dia jengkel, tetapi tidak bisa menentang. Ia ingin melemparkan kesalahannya tapi tidak berani.
“Kenapa tidak jawab, hm?”
Maura menundukkan kepalanya. “Iya Pak, saya menghadap Bapak atas keterlambatan saya.”
Samudra mengangguk kecil. “Ya, tidak apa-apa.”
Pria itu segera memberikan tumpukan kertas dan juga flashdisk, “saya ingin kamu membantu analisa dari hasil penelitian ini, datanya sudah lengkap dan kamu bisa merangkumnya. Satu minggu lagi, berikan pada saya.”
Maura tidak bisa menolak. Dia mengambilnya dengan cepat. “Ya Pak.”
"Kamu boleh pergi. Anggap saja ini peringatan terakhir untuk otakmu yang lamban."
Suara Samudra terdengar begitu tajam, membelah keheningan ruangan dosen yang pengap oleh ketegangan. Maura tidak menunggu perintah kedua. Ia segera berbalik, mendekap bundel data penelitian tebal itu erat-erat di dadanya, seolah tumpukan kertas itu adalah perisai pelindung dari atmosfer predator yang menguar dari sosok Samudra.
Langkah Maura terburu-buru, namun saat jemarinya nyaris menyentuh kenop pintu kayu jati itu, sebuah bayangan besar menyergapnya dari belakang.
Deg.
Maura membeku. Ia bisa merasakan hawa panas terpancar dari tubuh tegap yang kini berdiri tepat di belakang punggungnya. Da-da bidang Samudra menempel halus di punggung Maura, mengunci pergerakannya. Sebuah tangan besar dengan urat-urat yang menonjol terulur melewati bahu Maura, menekan daun pintu dengan kuat sehingga Maura tak punya celah untuk membukanya.
Samudra menunduk, bibirnya berada tepat di samping telinga Maura. Hembusan napasnya yang beraroma mint dan tembakau mahal membuat bulu kuduk Maura meremang kompak.
"Kau pasti sedang memakiku di dalam hati, kan? Menyalahkanku karena kamu terlambat pagi ini?" bisik Samudra. Suaranya rendah, serak, dan sarat akan provokasi.
Maura menelan saliva dengan susah payah. Jantungnya berdentum kencang, memukul rongga dadanya dengan liar saat ia merasakan tangan bebas Samudra kini mendarat di pinggang rampingnya, meremasnya dengan klaim kepemilikan yang kurang ajar.
"Permisi, Pak... tolong lepaskan. Saya harus ke kelas berikutnya," ucap Maura dengan suara bergetar, mencoba mempertahankan sisa-sisa kewarasannya sembari menekan kenop pintu dengan sia-sia.
Namun, Samudra adalah seorang arsitek andal, dia tahu persis bagaimana membangun tekanan. Bukannya menjauh, ia justru semakin merapatkan tubuhnya, membiarkan Maura merasakan kerasnya otot-otot tubuhnya. Pria itu sengaja memanen ketakutan Maura. Perlahan, Samudra mengecup tengkuk Maura yang terekspos karena rambut panjang gadis itu terikat rapi ke atas.
Cup.
Satu kecupan basah yang menuntut.
SRAKKKK!
Maura tersentak hebat, tubuhnya berjengit seperti tersengat listrik. Pegangannya pada bundel data penelitian itu terlepas seketika, membuat ratusan lembar kertas yang ia susun dengan air mata berhamburan, menutupi lantai kayu seperti salju yang kotor.
Maura berbalik dengan cepat, napasnya memburu. Matanya berkilat marah sekaligus takut saat menatap langsung ke dalam obsidian gelap Samudra. "Ini kampus, Pak! Anda sendiri yang bilang kita harus profesional!" desis Maura dengan suara tertahan.
Ia ketakutan setengah mati. Bagaimana jika ada dosen lain yang masuk? Bagaimana kalau ada yang melihatnya? Karirnya sebagai mahasiswi akan berakhir di sini jika ada yang melihat tindakan gila ini.
"Kenapa dengan kampus?" Samudra justru memajukan langkah, menghimpit tubuh mungil Maura hingga punggung gadis itu membentur pintu yang terkunci. Ia mengurung Maura di antara kedua lengannya. "Apa kampus bisa menghapus fakta kalau kamu milikku?"
Maura memicing tajam, matanya memerah menahan tangis dan amarah. "Anda yang meminta saya bersikap profesional, jadi saya lakukan. Tolong... bersikaplah kooperatif dan hargai batasan ini."
Samudra tidak mempedulikan protes itu. Matanya justru memindai penampilan Maura—kemeja kampus yang sedikit ketat dan rok span yang membungkus lekuk tubuhnya dengan sempurna. "Kamu sengaja terlambat dengan penampilan provokatif seperti ini hanya untuk memancingku di sini?"
"Saya biasa berpakaian begini! Jangan menyalahkan saya!" balas Maura berani, meski suaranya pecah di ujung.
Samudra tidak memberi ruang untuk berdebat. Ia mencengkeram rahang Maura dengan dua jari, memaksa gadis itu mendongak. Maura berusaha mendorong da-da Samudra, namun pria itu justru menangkap kedua tangan Maura dan menguncinya ke atas kepala dengan satu tangan besarnya.
"Pak, saya mohon... jangan di sini," rintih Maura.
Seharusnya Samudra berhenti. Seharusnya nurani akademisnya mencegahnya bertindak lebih jauh. Namun, aroma mawar dan sabun mandi yang samar dari kulit Maura justru menjadi bahan bakar yang memicu gairah gelapnya. Ia merasa seperti b******n b***t yang kehilangan seluruh peradabannya hanya karena satu wanita.
Perlahan, Samudra menunduk. Ia tidak lagi berbisik, melainkan langsung melumat bibir Maura dengan beringas. Ciuman itu tidak lembut. Hal itu adalah klaim yang menuntut ketundukan. Samudra menyesap manisnya bibir Maura seolah ia adalah pecandu yang baru saja mendapatkan dosisnya.
Maura adalah obat yang mematikan. Dan Samudra? Ia sedang mabuk karena buah yang tengah ranum itu. Manis, berbahaya, dan ia ingin melahapnya habis tanpa menyisakan apa pun bagi dunia luar.
"Pak, jangan—heup..."
Protes Maura tertelan bulat-bulat di kerongkongannya. Ia kehilangan kata-kata, kehilangan ruang, dan hampir kehilangan kewarasannya. Kedua pergelangan tangannya telah disatukan di atas kepala oleh cengkeraman satu tangan Samudra yang sekeras besi, sementara ratusan lembar draf data penelitian yang malang terinjak-injak, berhamburan tak berarti di atas lantai kayu seperti sisa-sisa harga diri Maura yang hancur.
Samudra tidak butuh alasan logis untuk melakukan ini. Ia hanya ingin memuaskan rasa penasaran yang menyiksa akibat reaksi tubuhnya yang tidak terkendali terhadap mahasiswinya sendiri. Awalnya, ia pikir satu kecupan singkat akan cukup untuk meredakan dahaga yang membakar ulu hatinya, namun kenyataan justru menamparnya. Setiap kali bibir mereka bersentuhan, Samudra justru merasa semakin haus, semakin lapar, dan semakin ingin melahap Maura tanpa sisa.
Gerakan Samudra yang awalnya lambat dan penuh perhitungan, mendadak berubah menjadi tuntutan yang liar. Maura mencoba meronta, kuku-kukunya berusaha mencakar punggung tangan Samudra yang mengunci tangannya di atas kepala, namun tenaga pria itu terlalu dominan. Maura mengatupkan bibirnya rapat-rapat, mencoba memutus akses bagi pria yang tengah menginvasi ruang pribadinya itu.
Namun, Samudra adalah seorang ahli dalam menaklukkan pertahanan. Dengan kelicikan yang mematikan, ia menggigit kecil bibir bawah Maura—cukup kuat untuk menimbulkan rasa perih yang mengejutkan.
"Hm!" Maura memekik tertahan.
Celah kecil itu sudah lebih dari cukup. Samudra segera menelusupkan lidahnya, menjelajah secara agresif dan membelit lidah Maura dengan tempo yang tak sabaran. Tubuh tegapnya semakin menekan Maura ke pintu, membuat gadis itu merasa seolah tulang-tulangnya akan remuk di bawah beban otoritas Samudra yang menyesakkan.
Maura kehilangan alur napasnya. Oksigen di sekitarnya seolah tersedot habis oleh pagutan Samudra yang beringas. Saat Samudra sedikit melonggarkan tekanan karena mabuk oleh rasa manis yang memabukkan itu, Maura menggunakan sisa tenaganya untuk menyentak tangan dan mendorong d**a bidang Samudra sekuat mungkin.
"Pak, berhenti!" pekik Maura tertahan.
Napasnya memburu, dadanya naik-turun dengan cepat. Wajah Maura merah padam, sementara matanya mulai berkaca-kaca karena kombinasi antara amarah, malu, dan rasa takut yang membuncah.
Bukannya menjauh, Samudra justru kembali bergerak cepat. Dengan satu sentakan, ia meraih pinggang Maura dan menarik tubuh mungil itu hingga kembali menempel tanpa celah pada tubuhnya. Maura memalingkan wajahnya dengan kasar saat Samudra mencoba mencari bibirnya lagi.
Samudra tidak kehilangan akal. Ia mengalihkan serangannya ke leher jenjang Maura, menghujani kulit sensitif itu dengan kecupan kasar dan gigitan-gigitan kecil yang akan meninggalkan jejak permanen.
Cup!
"Pak, stop!" seru Maura, suaranya parau karena isak yang tertahan. Ia berjuang menarik dirinya dari dekapan yang terasa seperti penjara itu.
Tiba-tiba, tangan Samudra bergerak ke belakang kepala Maura. Dengan sekali tarikan kasar, ia merenggut ikat rambut Maura hingga rambut panjang gadis itu tergerai berantakan menutupi bahunya. Samudra mencengkeram helaian rambut itu, memaksa Maura menatap matanya yang menggelap oleh obsesi.
"Jangan pernah mengikat rambutmu lagi di kampus. Biarkan seperti ini," ucap Samudra dengan nada rendah yang sarat akan ancaman. "Kamu masih bersamaku, Maura. Jangan pernah bermimpi untuk menarik perhatian mata laki-laki lain dengan memamerkan lehermu. Mengerti?"
Maura hanya membatu, tubuhnya gemetaran hebat akibat perlakuan kasar Samudra yang tidak masuk akal. Ia tidak menjawab, lidahnya terlalu kelu untuk berdebat dengan pria yang baru saja menanggalkan topeng dosennya demi memuaskan insting primitif.
Dengan gerakan gemetar, Maura berlutut, tidak memedulikan tatapan intens Samudra yang masih mengawasinya dari atas seperti elang yang mengintai mangsa. Ia memunguti lembaran kertasnya yang kotor dan terinjak dengan air mata yang akhirnya luruh satu per satu. Tanpa menoleh lagi, ia menyambar tasnya dan melesat keluar dari ruangan itu, meninggalkan Samudra yang masih berdiri di sana dengan napas yang belum teratur dan tangan yang masih menggenggam ikat rambut milik Maura.
Cklek!
Dia menutup pintu dengan sedikit kasar, tapi tubuhnya serta merta membeku saat melihat kehadiran Sisilia. Seperti sebuah de javu!
“Sil?” Maura tidak berharap Sisilia tahu, tapi mendapati sahabatnya berada di seberang ruangan, di antara lorong sempit deretan ruangan, hatinya gelisah.
“Udah, Ra?”
Maura mengangguk kikuk, “ya, udah.”
“Dia kasih apaan sama kamu? Enggak kasih nilai D kan?” cerocos Sisilia yang mendekati Maura.
Maura masih merasa canggung, seolah-olah dia sudah ketahuan melakukan tindakan menyeleweng.
Gadis itu berusaha bersikap biasa walau masih terkejut dengan kehadiran sahabatnya. “Aku disuruh analisa data aja, minggu depan dikumpul,” tuturnya.
Sisilia mendecih, tatapan matanya yang sengit menatap pintu ruangan Samudra. “Dasar dosen killer. Psikopat,” makinya berbisik.
Maura tersenyum kecil saja, sahabatnya itu malah membuatnya sedikit merasa ringan hati.
“Mau ke mana abis ini?”
“Kamu bukannya ada kelas, Sil? Kok--”
“Biasa, Prof Hadi mah suka-suka. Dia kasih tugas aja hehe. Jadinya … bantuin aku dong ya? Aku enggak paham soalnya, Ra.”
Maura tersenyum kecil mendengarnya dan Sisilia tiba-tiba saja mengambil sebagian tumpukan kertas dari tangan Maura. “Aku bantu bawa deh.”
“Enggak usah, Sil--”
“Kita kerjain di perpustakaan belakang aja, sepi di sana.”
Maura terpaksa mengekori Sisilia. Dia juga lebih memilih mengerjakan hukuman itu secepatnya agar tidak menjadi beban.
Gadis itu merasa gerah selagi berjalan menuju gedung lain, yaitu perpustakaan universitas. Keringat mengalir di sela lehernya yang jenjang.
Diam-diam, Samudra mengamati dari lantai atas sampai Maura sudah keluar dari gedung. Pria itu bahkan mengabaikan sapaan beberapa mahasiswi yang melewatinya.
Sisilia segera memilih meja di sudut, menaruh buku dan data penelitian di depan Maura. Dengan gerakan kasar, ia menghempaskan tumpukan buku referensi dan bundel data penelitian di depan Maura. Suara debuman buku itu seharusnya cukup untuk mengejutkan siapa pun, namun Maura tetap bergeming.
Maura masih terperangkap dalam ruang hampa di kepalanya. Pikirannya tertinggal di ruangan dosen yang baru saja ia tinggalkan. Ia masih bisa merasakan sensasi panas yang tertinggal di bibirnya, rasa perih akibat gigitan kecil Samudra, dan aroma maskulin pria itu yang seolah telah menyatu dengan oksigen yang ia hirup.
"Ra... di belakang kamu ada colokan enggak? Baterai laptopku kritis, nih," suara Sisil memecah lamunan Maura.
Maura mengerjap, mencoba kembali ke realita. "Eh? Oh, ada... kayaknya ada."
Dengan gerakan kaku, Maura meraih ujung kabel charger milik Sisil. Ia membungkuk, menundukkan kepalanya dalam-dalam untuk menjangkau stopkontak yang tersembunyi di bawah meja. Tanpa ia sadari, rambut panjangnya yang tadi dibiarkan tergerai berantakan oleh Samudra, kini tersampir jatuh ke depan bahunya.
Gerakan itu mengekspos sisi leher Maura sepenuhnya. Di bawah cahaya lampu neon perpustakaan yang terang, gurat warna ungu kemerahan itu tampak begitu mencolok. Warnanya pekat, kontras di atas kulit putih bersih Maura yang biasanya tanpa cela.
Itu bukan memar biasa, melainkan tanda kepemilikan yang ditinggalkan dengan beringas, sebuah hickey yang letaknya sangat provokatif, memanjang dari sisi leher menuju tulang selangka.
Sisil, yang tadinya hendak membuka laptop, mendadak mematung. Jemarinya membeku di atas keyboard. Matanya membelalak sempurna saat menangkap pemandangan di leher sahabatnya.
"Maura... itu apa?" Suara Sisil terdengar parau, sarat akan keterkejutan yang tak mampu ia tutupi.
Maura kembali duduk tegak, merapikan sedikit bajunya dengan wajah bingung. "Ya? Kenapa, Sil?"
Bukannya menjawab, Sisil justru bangkit berdiri dengan gerakan cepat. Ia melangkah ke samping Maura, tangannya terulur untuk menyibak sisa-sisa rambut yang masih menutupi leher gadis itu.
"Ini apa, Ra? Tanda apaan ini?" Sisil menunjuk tepat ke arah bercak ungu itu dengan telunjuknya.
Deg!
Darah Maura seolah tersirap ke satu pusat, meninggalkan wajahnya yang kini sepucat mayat. Seluruh sel di tubuhnya berteriak waspada. Ia baru sadar—tadi di ruangan itu, Samudra tidak hanya menciumnya. Pria itu meninggalkan jejak baru sebagai tanda peringatan agar Maura tidak mengikat rambutnya lagi. Samudra ingin tanda itu terlihat. Samudra ingin Maura ketakutan.
Debaran di d**a Maura bermunculan, menabuh genderang kencang yang memekakkan telinganya sendiri.
"Ini... kamu habis ngapain, Ra?" Sisilia bertanya dengan nada yang kini berubah menjadi rendah dan penuh selidik, seolah ia sedang menginterogasi seorang tersangka. "Ra, aku bukan anak kecil. Itu hickey. Jelas-jelas itu bekas ciuman orang."
Sisil mencondongkan tubuhnya, menatap Maura tepat di mata. "Siapa yang berani lakuin ini sama kamu? Kamu punya pacar yang enggak aku tau? Kamu menyembunyikan seseorang dariku?"
Deg... deg... deg...
Jantung Maura berdetak liar, seolah ingin melompat keluar dari tulang rusuknya. Lidahnya kelu. Ia ingin berbohong, ingin mengatakan itu alergi atau bekas cubitan, namun mata Sisil yang tajam seolah mampu menembus segala dusta yang ia susun.
Maura merasa terpojok. Di satu sisi, ia takut Sisil akan mengetahui skandalnya dengan Samudra—sang dosen psikopat yang sangat dibenci sahabatnya itu. Di sisi lain, ia menyadari bahwa Samudra baru saja memulai permainan yang jauh lebih berbahaya, menandai tubuhnya untuk dipamerkan kepada dunia.